Menelusuri Penyebaran Awal Islam di Jawa

719
Ilustrasi: Islam di Jawa. (Foto: justisia/http://img.over-blog-kiwi.com)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Sering kita dengar bahwa penyebaran Islam khusunya di Jawa oleh Walisongo dilakukan dengan metode akulturasi budaya. Akulturasi yang bagaimana sebenarnya yang dimaksud?

Apakah benar kecepatan penyebaran Islam di Jawa karena akulturasi? Atau sebaliknya, apakah ajaran Islam yang mengubah kultur Jawa? Bagaimanakah kisah awal masuknya Islam ke Jawa?

Segi Bahasa

Orang Jawa abad ke-8 hingga masa Majapahit pada abad ke-12 sampai awal abad-16, untuk memberikan nama-nama dan sebutan-sebutan, kebanyakan berakhiran vokal “oa”, sesuai aksara Jawa yang semuanya berakhiran vokal “oa”.

Aksara latin untuk bahasa Indonesia kesulitan menuliskan akhiran “oa”, sehingga kebanyakan ditulis dengan akhiran a meskipun tidak divaca a, atau dituliskan dengan akhiran o tetapi tidak dibaca “o”, tetapi dibaca antara o dan a atau oa.

Agak sulit dibuatkan akasara vokalnya secara persis. “Ha na ca ra ka, Da ta sa wa la, Ma da ja ya nya, Ma ga ba tha nga”. Tidak dibaca a tetapi juga tidak dibaca o. Misal, nama Joakoa kadang ditulis Jaka atau Joko, namun antara tulisan dan bacaan berbeda.

Ketika Islam masuk ke Jawa, aksara arab tidak mengenal vokal o tetapi ada huruf arab yang dibaca dengan vokal oa. Namun nama-nama Jawa yang berasal dari nama arab tidak di-Jawa-kan tetapi tetap menggunakan nama arab.

Misal, nama Ibrahim, Ismail atau Yusuf tidak berubah menjadi Ibrahimoa, Ismailoa atau Yusupoa. Bisa dibandingkan kalau di Rusia nama tersebut berubah menjadi Ibrahimov, Ismailov, Yusupov. Jadi di Jawa tidak ada akulturasi dari nama arab menjadi nama Jawa.

Segi Berpakaian

Pada masa sampai Majapahit, kalau kita lihat di relief-relief candi Majapahit atau sebelumnya seperti candi Borobudur, Prambanan, Pelataran, orang Jawa laki-laki dan perempuan kebanyakan bertelanjang dada.

Kain untuk laki-laki dari pusar ke bawah hingga paha, perempuan dari pusar ke bawah hingga lutut. Hanya wanita bangsawan yang menggunakan kain penutup dada yang disebut kemben. Bahkan di pulau Bali, sampai abad 20 masih banyak wanita dalam berpakaian belum menutup dada.

Ketika Islam tersebar di Jawa, baru kemudian dikenal pakaian atau baju yang menutup dari leher sampai ke pinggang bahkan sampai ke paha untuk laki-lakidan kebaya untuk wanita.

Walisongo, sebagian besar berpakaian gamis dan bersorban, kecuali Sunan Kalijogo yang berbaju lengan panjang dengan panjang baju sedikit di bawah pangkal paha dengan penutup kepala blangkon.

Jadi perubahan itu terjadi justru setelah Islam masuk ke Jawa, karena kaum muslim harus berpakaian dengan menutup aurat. Tidak persis seperti baju gamis, tetapi jelas terpengaruh gamis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here