Dahulu Terasa Kecil, Kini Terasa Terlalu Besar

57
Ilustrasi: Rumah.

Oleh: A. Hamid Husain (Alumni Pondok Modern Gontor, King Abdul Aziz University, Ummul Qura University, dan Pembina Alhusniyah Islamic School)

Sejalan dengan perputaran waktu, seiring dengan bertambahnya usia, semua berubah.

Dahulu, rumah yang kita bangun meski sudah besar, tetap saja terasa kecil, kurang luas, maka terus berusaha memperluasnya, agar bisa menampung teman, sahabat dan saudara yang datang untuk gathering atau sekedar kongkow-kongkow di rumah yang luas.

TRUE STORY:

1- Kini, setelah usia lanjut, keinginan dan tenaga untuk pergi keluar sudah sangat berkurang, rumah yang tidak terlalu luas sudah terasa sudah kebesaran, terlalu luas, sepi dan sunyi.

BACA JUGA: Siklus Tahunan

2- Allah SWT berfirman menegaskan bahwa ada yang dipanjangkan usianya sampai lupa dan tidak tahu lagi apa-apa:

وَٱللَّهُ خَلَقَكُمْ ثُمَّ يَتَوَفَّىٰكُمْ ۚ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰٓ أَرْذَلِ ٱلْعُمُرِ لِكَىْ لَا يَعْلَمَ بَعْدَ عِلْمٍ شَيْـًٔا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ قَدِيرٌ (النحل الاية ٧٠)

“Allah Menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada usia yang tua renta sampai pikun, sehingga tidak mengetahui lagi sesuatu yang pernah diketahuinya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Kuasa,” (QS. An-Nahl, surah ke-16, ayat 70, halaman 273).

3- Anak-anak setelah dewasa, berkeluarga, mereka mandiri dan sibuk dengan keluarganya masing-masing, dan biasanya lebih memilih punya rumah sendiri, tidak lagi ingin tinggal bersama serumah dengan orang tuanya.

BACA JUGA: Satu Selamat dan Terhormat, Dua Disiksa Selamanya

POINTERS:

1- Sunnatullah, tidak ada wajah dan fisik yang langgeng sempurna, pasti akan menua dan keriput. Maka, tawakkal dan senyumlah yang membuat tetap awet.

Tidak ada pernikahan yang tanpa pertengkaran, karena berpasangan dengan orang yang tentu punya kekurangan dan punya kelebihan. Maka, hanya kesabaran dan saling menghargailah yang bisa membuat damai dan tenteram.

2- Tidak ada kehidupan yang sepenuhnya indah. Dunia adalah tempat ujian. Selama kita masih hidup, Allah akan terus menguji dan menguji. Maka, sabar dan tawakkal-lah yang menyelamatkan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ.  (رواه احمد والترمذى)

“Cobaan akan selalu menimpa orang orang Mukmin dan Mukminah, baik pada dirinya, pada anaknya, maupun pada hartanya sampai mereka bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikit pun,” (Hadits Sahih Riwayah Al Imam Ahmad & At-Tirmidzi).

BACA JUGA: Di Angka 40 Berhati-Hatilah, Setelah 60 Tidak Ada Ampun Lagi

3- Bersabarlah dan bebaskan pikiran dari harapan semuanya ingin sempurna. Karena segalanya ada penderitaannya, segalanya ada kekurangannya, segalanya ada ujiannya.

4- Jalani hidup sebagaimana mestinya tanpa ngotot. Dengan demikian akan merasa tenang. Sebab hidup akan terasa lapang tatkala menyikapinya bahwa kehidupan dunia memang penuh ujian.

5- Perbanyak ke masjid shalat berjamaah.

6- Perbanyak Silaturrahim.

7- Perbanyak reuni, gathering dengan sahabat yang baik-baik, yang mengajak shalat dan mengaji.

8- Rajin membaca Al-Quran.

Semoga Allah SWT senantiasa mengijabah doa-doa kita, dan menganugerahkan kita kemampuan rajin bersilatur rahim, selalu sabar dan tawakkal.

Dan senantiasa pula Allah membimbing kita untuk selalu eling mengingat Allah, bersyukur dan beribadah dengan sebaik-baiknya pada Allah SWT.

اللهم اعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here