Bolehkah Tidak Berdoa di Antara Dua Khutbah Jumat?

Oleh: A. Hamid Husain (Alumni Pondok Modern Gontor, King Abdul Aziz University, dan Ummul Qura University)
Ada pilihan ketika Khatib duduk jeda di antara dua Khutbah Jumat, boleh berdoa dan boleh juga tidak berdoa.
TRUE STORY:
1. Nabi ﷺ duduk di antara dua khutbah. Sahabat dekat Nabi ﷺ bernama Abdullah bin ‘Umar RA menuturkan:
كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم يَخْطُبُ خُطْبَتَيْنِ يَقْعُدُ بَيْنَهُمَا. (رواه البخارى)
“Nabi ﷺ terbiasa berkhutbah dua kali dan duduk di antara dua Khutbahnya,” (Hadits Sahih Riwayah Al-Imam Al-Bukhari no. 928).
2. Do’a Mustajab di Hari Jum’at:
Rasuulullaah ﷺ bersabda tentang keistimewaan berdoa di Hari Jum’at:
عن ابى هريرة رضى الله عنه عن النبى صلى الله عليه وسلم:فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ، وَهْوَ قَائِمٌ يُصَلِّى، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ. (رواه البخارى و مسلم)
“Di hari Jum’at terdapat waktu yang tidaklah seorang Muslim yang melaksanakan Sholat lalu ia berdo’a kepada Allaah bertepatan dengan waktu tersebut, melainkan Allaah Memberi apa yang ia minta,” (Hadits Sahih Riwayah Al-Imam Bukhari no. 935 dan Muslim no. 852).
POINTERS:
1. Dasar hukum berdo’a di antara dua Khutbah saat Imam duduk:
قال الشيخ عبد الله بن عبد الرحمن أبا بطين رحمه الله :"الدعاء حال جلوسه بين الخطبتين – ما – علمت فيه شيئا ، ولا ينكر على فاعله الذي يتحرى الساعة المذكورة في يوم الجمعة" انتهى.رسائل وفتاوى الشيخ عبد الله أبا بطين” (ص/١٦٣)
Al-Imam Abdullah Bin ‘Abdurrahman Aba Bathiin Rahimahullaah menjelaskan: “Do’a ketika Imam duduk antara dua Khutbah, kami tidak tahu tentang kebiasaan tersebut. Namun jangan pula melarang orang yang melakukan hal itu karena boleh jadi ia sengaja mencari waktu mustajabnya do’a di hari Jum’at,” (Kitab Rasaail wa Fataawaa Al-Imam ‘Abdullah Aba Bathiin, hal. 163).
2. Silahkan berdoa asal tidak mengganggu jamaah yang lain:
وقال الشيخ محمد رشيد رضا رحمه الله :” أما رفع اليدين والأصوات بالدعاء عند جلوس الخطيب بين الخطبتين فلا نعرف له سنة تؤيده، ولا بأس به لولا التشويش، وأنهم جعلوه سنة متبعة بغير دليل .والمأثور: طلب السكوت إذا صعد الإمام المِنبر، وإنما السكوت للسماع؛ لذلك نقول: لا بأس بالدعاء في غير وقت السماع، ولكن يدعو خُفية، لا يؤذي غيره بدعائه، ولا يرفع كل الناس أيديهم ، فيكون ذلك شعارًا من شعائر الجمعة بغير هداية من السنة فيه؛ بل إنهم يخالفون صريح السنة؛ إذ يقوم الإمام ويشرع في الخطبة الثانية وهم مستمرون على دعائهم، فأَولى لهم سماع وتدبر وقت الخطبة، وفكر وتأثر وقت الاستراحة، وأهون فعلهم هذا أن يكون بدعة مكروهة. والله أعلم. انتهى. "مجلة المنار" (6/792)
Al-Imam Muhammad Rasyid Ridho Rahimahullaah menjelaskan: "mengangkat kedua tangan dan bersuara saat berdo’a ketika Imam duduk di antara dua Khutbah, kami tidak mengetahui bahwa hal itu bagian dari Sunnah Rasuulullaah ﷺ, namun tidak mengapa jika ada yang berdo’a saat itu dengan syarat tidak bersuara dan gerakan nya tidak mengganggu Jamaah yang lain, dan do’a pada waktu tersebut tidak keterusan.
Ketika Imam naik mimbar, jamaah hendaknya diam. Oleh karena itu kami mengatakan, tidak mengapa jika seseorang berdo’a di selain waktu mendengar khutbah, namun dengan suara yang lirih dan tidak mengganggu yang lain. Ketika itu pun tidak perlu mengangkat tangan saat berdo’a.
Karena jika dilakukan seperti itu, tidak ada dalil yang mendukungnya. Bahkan perbuatan seperti ini menyelisihi ajaran Rasuulullaah ﷺ. Karena ada sebagian yang masih berdo’a ketika Imam sudah mulai Khutbah kedua.
Yang lebih utama;adalah para jama’ah hendaknya mendengar dan merenungi Khutbah yang disampaikan dan mengambil pelajaran ketika Imam duduk istirahat di antara dua Khutbah. Seringan-ringan perbuatan yang mereka lakukan termasuk bid’ah”. (Majallatul Manar, 6: 792).
3. Boleh mengangkat tangan saat berdoa. Sebagian ulama ada yang membolehkan berdo’a kala Imam duduk di antara dua Khutbah Jum’at dengan mengangkat kedua tangan sebagaimana dikemukakan oleh Al-Imam Muhammad Bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rahimahullaah. Beliau membolehkan hal ini karena waktu tersebut termasuk waktu yang sangat istimewa untuk diiabahnya Do’a di hari Jum’at.
4. Silahkan berdoa asal tidak mengganggu yang lain. Al-Imam Sholeh Al Munajjid Hafizahullaah menjelaskan: “Pendapat yang lebih kuat adalah, tidak ada ajaran khusus dari Nabi ﷺ yang mengajarkan Do’a khusus tatkala Imam duduk di antara dua Khutbah. Jika ada yang ingin berdo’a, dizikir atau membaca ayat Qur’an tatkala Imam diam sejenak kala itu, maka silakan, dengan syarat tidak mengganggu jama’ah lainnya,” (Kitab Fatwaa Al-Islam, Suaal wa Jawaab no. 111936).
Sebagai penutup, mari kita berdoa dengan Doa yang diajarkan oleh Rasuulullaah ﷺ ini: "Yaa Allaah bimbinglah kami untuk selalu eling mengingat-Mu yaa Allaah, bersyukur dan beribadah dengan sebaik-baiknya kepada-Mu".
اللهم اعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك
Dapatkan update muslimobsession.com melalui whatsapp dengan mengikuti channel kami di Obsession Media Group
































