Kami Para Yatim: Siap Memilih Anda Selama Siap Jadi Wali Kami

Kami Para Yatim: Siap Memilih Anda Selama Siap Jadi Wali Kami

Oleh: Dr. Sulaeman Jazuli (Dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Pengurus MUI Kota Bogor

Kita ini sesungguhnya adalah seorang pemimpin. Dimana inti tuju dari seperangkat proses dialektika yang dijalani kita ketika mengayuh sampan hidup dan kehidupan di samudera mayapada ini, sudah pasti akan merapat di tepi pantai pertanggungjawaban:

 كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته

Dari juntrung narasi di atas, konteks akumulasi sasarnya mengejawantah pada 3 (tiga) segmen tukikan, yaitu: pemimpin, kepemimpinan dan risiko konsekuensi pertanggung-jawaban dari keduanya (pemimpin dan kepemimpinan).

Apa itu pemimpin, kepemimpinan dan pertanggungjawaban? Banyak rumusan (definisi)nya yang dijajakan para praktisi di pasar akademis, di antaranya:

(1) Pemimpin. versi mantan duta besar Amerika Serikat untuk Norwegia Robert D. Stuart dalam bukunya yang Library and Information Centre Management, "Pemimpin adalah seorang yang diharapkan mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi, memberi petunjuk dan juga mampu menentukan individu untuk mencapai tujuan organisasi.”

Disusul berikutnya versi Kartini Kartono (1983: 33), "Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan khususnya kecakapan di satu bidang, sehingga dia mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan.

Subtansi konklusinya, terletak pada inti pertanyaan, sejauhmana sesungguhnya seseorang tepat untuk disebut pemimpin? Jawabnya, manakala dia bisa dan sanggup mempengaruhi individu atau kolektif. Untuk merealisasikannya, tentu bukanlah perkara gampang. Mengingat ia memerlukan seperangkat kecerdasan (kalau bisa) yang multi dimensional.

Andai demikian adanya, baru bisa mempengaruhi pihak lain (individu atau kolektif). Dengan sendirinya, mereka akan langsung tertarik dan finalisasinya diwujudkan dalam bentuk pencoblosan di bilik suara. Apakah kita (para calon pemilih), juga sudah mempunyai standar kecerdasan untuk menentukan pilihan tersebut? Jika tidak, bisa berabe. Apalagi hanya mengandalkan semangat spekulasi dan yang paling parah iman pilihannya dilelang lewat transaksi "money politics".

(2) Kepemimpinan. Versi KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), secara harfiah, "Kepemimpinan, memiliki arti "/mengarahkan, membina, mengatur, menuntun, menunjukkan, atau memengaruhi". Diikuti selanjutnya versi Rauch dan Behling (1984). "Kepemimpinan adalah proses memengaruhi aktivitas kelompok yang terorganisir terhadap pencapaian tujuan".

Tegasnya, ia (kepemimpinan) adalah sebuah seni untuk membawa pihak lain (individu atau kolektif) secara bersama-sama menuju visi yang lebih besar. Ini tentunya harus diaplikasikan melalui tatanan proses komunikasi yang efektif dan empati. Dengan kata lain, harus memiliki seperangkat kemampuan untuk membuat keputusan sesulit apapun ia dengan penuh bijaksana.

Berkait dengan deskripsi di atas, muncul variasi "gaya" (tipologi) yang dimiliki oleh seorang pemimpin, di antaranya : (a) Gaya Kepemimpinan Partisipatif (mengusung kekompakan dua arah: antara atasan dan bawahan), (b) Gaya Kepemimpinan Transaksional (mengedepankan prinsip kesepakatan antara atasan dan bawahan), (c) Gaya Kepemimpinan Delegatif (memberi kepercayaan kepada bawahan (tim) untuk menggarap satu program dan (d) Gaya Kepemimpinan Situasional (yang selalu adaptif, yakni kecerdasan seorang pemimpin membaca gaya tarik situasi dan kondisi yang tengah berlangsung).

(3) Pertanggungjawaban. Pertanggungjawaban adalah sebuah risiko konsekuensi yang mesti diterima dan dipukul oleh seorang pemimpin selama dia menjalankan roda kepemimpinannya. Sekali-sekali jangan menjadi seorang pecundang dan pengecut. Ingat, mesti dipertanggungjawabkan di dua situasi sekaligus: di dunia oleh rakyat dan di akhirat oleh Allah SWT.

**

Spesial dalam paparan gaya (tipologi) kepemipinan di atas, ada yang paling menarik. Yakni dari semua gaya (tipologi) tersebut, sesungguhnya bermuara pada segmen yang terakhir (Gaya Kepemimpinan Situasional). Jelasnya, kapan seorang pemimpin laik dijust sebagai yang adil, arif dan bijaksana, manakala dia cerdas serta peka membaca situasi dan kondisi yang berlangsung di tengah masyarakat (baca: pro rakyat).

Hal ini sesuai dengan Kaidah Fiqhiyyah, "Segala bola kebijakan yang digulirkan ke ruang publik oleh seorang pemimpin, harus didasarkan atas pertimbangan demi kemaslahatan rakyat", (تصرف الإمام على الرعاية منوط بالمصلحة).

Dipertegas oleh pernyataan Imam al-Syafi'i, bahwa peran pemimpin terhadap rakyatnya, harus persis seperti peran seorang wali terhadap anak Yatim (منزلة الإمام من الرعية منزلة الولى من اليتيم). Jadi, keberadaan kami-kami ini sesungguhnya adalah "Para Anak Yatim", sementara "Anda-anda", adalah " Para Wali Kami".

Oleh karena itu, jujur dan yakinilah, bahwa kami siap memilih Anda sebagai " Cagub/Cawagub atau Cabup/Cawabup, selama Anda siap pula menjadi "Wali Kami". Bukan lazimnya seorang " Bos" yang selalu mendikte dan memperlakukan kami seperti halnya jongos demi kepentingan dan ambisi Anda. Setelah tercapai menggapai sasaran, lalu kami diacuhkan (Habis Manis, Sepah Dibuang).

اللهم لا تسلط علينا من لا يخافك ولا يرحمنا

"Ya Allah, sekali-sekali janganlah Engkau mengangkat buat kami seorang pemimpin yang tidak tekut kepada-Mu juga tidak sayang kepada kami".

Wallahu A'lam bi al-Shawab.



Dapatkan update muslimobsession.com melalui whatsapp dengan mengikuti channel kami di Obsession Media Group