Hati Rusak karena Enam Perkara

Oleh: Fimdalimunthe
MANUSIA merupakan mahkluk yang istimewa dengan segala perangkat yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, baik perangkat keras atau jasad maupun perangkat lunak yaitu akal dan hati.
Semua perangkat tersebut senantiasa memiliki tujuan dan kemanfaatan bagi tubuh manusia itu sendiri.
Semua perangkat harus dijaga dan dilestarikan dengan baik, karena jika tidak, maka akan rusak dan tidak berfungsi sebagaimana semestinya.
Hati merupakan komponen inti dari segala perilaku manusia, jika hatinya atau batin baik maka perilakunya atau lahir akan baik, begitu sebaliknya.
Karena hati merupakan sumber dari kebaikan atau keburukan dari manusia, sehingga hati bisa menjadi pengarah bagi indrawi yang dimiliki manusia.
Manusia bisa menjadi jahat dan keji ketika memiliki hati yang buruk dan busuk. Manusia juga bisa menjadi terpuji dan mulia jika memiliki hati yang baik dan suci.
Hati dalam Islam merupakan perangkat lunak yang mempengaruhi perangkat keras atau jasad. Sehingga apa yang terjadi pada hati maka akan berdampak pada jasad.
Jika hati baik, maka baiklah anggota badan yang lain. Jika hati rusak, maka rusak pula yang lainnya.
Dari An-Nu’man bin Basyir RA, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati atau jantung,” (HR. Bukhari 52, Muslim 1599).
Hati yang baik merupakan hati yang selalu takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan selalu mengharapkan rahmat-Nya.
Jika hati manusia rusak, karena tidak ada rasa takut kepada Allah, dan tidak ada khawatir akan siksa-Nya, maka seluruh badan akan ikut rusak, yakni gampang melakukan kemaksiatan. Oleh karena itu, kita sebagai umat muslim diperintahkan untuk selalu meminta kepada Allah agar dikaruniakan hati yang baik.
Sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ ketika meminta kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam doanya agar memiliki hati yang baik dan terus dijaga dalam kebaikan. Beliau berdoa: "Wahai Dzat yang Maha Membolak balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu".
Kita harus bisa menjaga agar hati tidak rusak, karena rusaknya hati bisa menjadi gelap, keras dan sulit menerima kebenaran yang murni.
Sehebat-hebatnya dan sekuat-kuatnya hati untuk selalu Istiqamah, pasti ada rintangannya, karena kita sebagai umat Nabi Muhammad tidaklah maksum sebagaimana para Nabi dan Rasul.
Sehingga kita sepanjang hidupnya pasti banyak melakukan kemaksiatan, salah satu penyebabnya karena kelalaian hati kita terhadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Hati rusak karena 6 perkara:
Pertama, sengaja berbuat dosa dengan harapan kelak taubatnya diterima.
Pernyataan tersebut berarti sama saja meremehkan dosa, dan ketika kita meremehkan dosa, meskipun dosa yang ringan maka dosa tersebut menjadi besar disisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari: Dari Anas RA, ia berkata, “Sesungguhnya kalian melakukan suatu amalan dan menyangka bahwa itu lebih tipis dari rambut. Namun kami menganggapnya di masa Nabi ﷺ sebagai sesuatu yang membinasakan,” (HR. Bukhari 6492).
Maka dari itu, apa yang kita anggap kecil bisa jadi besar di mata Allah, meski diperumpamakan dosa itu lebih tipis dari rambut. Karena dosa kecil juga diremehkan maka lama-lama juga menumpuk menjadi besar.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Batthol: “Sesuatu dosa yang dianggap remeh bisa menjadi dosa besar, ditambah lagi jika terus menerus melakukan dosa”.
Kedua, mempelajari ilmu namun tidak mau mengamalkannya.
Mencari ilmu merupakan kewajiban bagi setiap mukmin laki-laki dan perempuan, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad ﷺ yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari sahabat Anas bin Malik: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim,” (HR. Ibnu Majah 224).
Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah, banyak umat Muslim sudah menuntut ilmu namun tidak mau mengamalkannya. Sehingga ilmu tersebut hanya sekedar teori bukan praktek. Padahal ilmu yang tidak diamalkan, bagaikan pohon tidak berbuah, sebagaimana yang diucapkan oleh para pepatah Arab.
Di dalam kitab Hiyatul Auliya, bahwa Malik bin Dinar berkata: “Barangsiapa yang mencari ilmu agama untuk diamalkan, maka Allah akan terus memberi taufik padanya. Sedangkan barangsiapa yang mencari ilmu, bukan untuk diamalkan, maka ilmu itu hanya sebagai kebanggaan kesombongan”.
Dalam perkataan lainnya, Malik bin Dinar juga berkata: “Jika seorang hamba mempelajari suatu ilmu dengan tujuan untuk diamalkan, maka ilmu itu akan membuatnya semakin merunduk. Namun jika seseorang mempelajari ilmu bukan untuk diamalkan, maka itu hanya akan membuatnya semakin sombong atau berbangga diri”.
Ketiga, yakni ketika beramal tidak ikhlas.
Beramal merupakan perbuatan yang baik, karena akan memberikan kebaikan bagi dirinya dan sekelilingnya, tetapi kadang juga beramal menjadi tidak bermakna dan berpahala ketika tidak dilandasi dari rasa ikhlas. Atau bahasa sekarang hanya sekedar pencitraan semata.
Dan ketika seseorang tidak memiliki rasa ikhlas, maka hatinya akan bermasalah yakni mengidap penyakit hati bernama ria, ingin dipuji dan sombong. Andaikata tidak ada yang memujinya ia akan tersinggung dan malas beramal kembali.
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Umamah RA beliau berkata:
Datang seorang lelaki kepada Rasulullah ﷺ dan bertanya: “Bagaimana menurut engkau ya Rasulullah jika ada seorang yang berperang untuk mengharapkan pahala dan sekaligus ingin disebut namanya sebagai pahlawan, apa yang ia dapatkan? Rasulullah ﷺ bersabda,: “Ia tidak mendapatkan apa-apa”.
Lelaki tadi mengulangi pertanyaannya hingga tiga kali.
Rasulullah ﷺ tetap bersabda: “Ia tidak mendapatkan apa-apa”.
Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah swt tidak menerima amalan kecuali yang ikhlas mengharapkan wajah-Nya”.
Hadits di atas dan hadits-hadits lainnya menunjukkan bahwa seorang mukmin tidak akan diterima amalannya jika ia tidak karena mengharap ridha Allah Subhanahu Wa Ta'ala dari amalannya tersebut. Karena segala sesuatu yang disandarkan kepada Allah, maka akan membuahkan keikhlasan yang mendalam.
Rasulullah ﷺ bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Nabi Abu Hurairah:
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat atau menilai bentuk tubuhmu dan tidak pula menilai kebagusan wajahmu, tetapi Allah melihat atau menilai keikhlasan hatimu,” (HR. Muslim).
Juga disebutkan dalam hadits yang lain bahwasanya: “Seandainya salah seorang di antara kamu melakukan suatu perbuatan di dalam gua yang tidak ada pintu dan lubangnya, maka amal itu tetap akan bisa keluar tetap dicatat oleh Allah menurut keadaannya,” (HR. Bukhari Muslim).
Keempat, memakan rezeki Allah namun tidak mensyukurinya.
Rezeki merupakan karunia Allah Swt yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya, jadi sudah sepantasnya kita semua untuk selalu mensyukuri dari setiap apapun yang diberikan kepada kita.
Rasulullah bersabda yang diriwayatkan oleh Ahmad dari An Nu’man bin Basyir: “Barang siapa tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak,” (HR. Ahmad, 278).
Hadits ini benar sekali. Bagaimana mungkin seseorang dapat mensyukuri rezeki yang banyak, jika rezeki yang sedikit saja tidak mampu disyukuri.
Hal ini juga dikuatkan di dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 172: "Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar- benar kepadaNya kamu menyembah".
Akan tetapi, jika kita yang telah diberikan nikmat oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, melupakan nikmatNya dan enggan bersyukur, maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan memberinya adzab yang pedih.
Sebagaimana disebutkan di dalam Al-Quran surat Ibrahim ayat 7: "Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmatKu, maka pasti adzabKu sangat pedih".
Kelima, tidak ridha atau tak puas dengan pemberian Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Ridha dengan pemberian Allah merupakan sifat qonaah yang akan membuat hati seseorang merasa cukup dan merasa puas dengan rezeki yang dia miliki. Ia juga tidak akan menuntut lebih terhadap apa yang sudah ada di tangannya. Karena bagi mereka harta dan segala yang diberikan Allah merupakan titipan semata.
Diriwayatkan oleh Thabrani bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Qonaah merupakan kekayaan yang tidak pernah musnah".
Hadits di atas menunjukkan sifat qonaah menjadi salah satu modal untuk menggapai kehidupan yang lebih lapang, nyaman, dan tentram. Sebaliknya, sifat tamak menjadi ladang kerugian dan juga kehinaan bagi manusia. Sungguh mulia orang yang qonaah, dan sungguh hina orang yang tamak.
Keenam, yakni mengubur jenazah namun enggan mengambil pelajaran dari kematian mereka.
Kematian adalah takdir seluruh makhluk, manusia ataupun jin, hewan ataupun makhluk- makhluk lain, baik lelaki atau perempuan, tua ataupun muda, baik orang sehat ataupun sakit.
Seperti dalam firman Allah Ta’ala berikut ini: "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan,” (QS. Ali Imran: 185).
Sebaik-baik manusia merupakan yang dapat mengambil hikmah dari peristiwa kematian, karena kematian bukan hanya sekedar takdir melainkan hikmah dan nasihat dari Tuhan untuk yang masih hidup. Karena dengan kematian manusia tidak terlalu bernafsu untuk mengejar kenikmatan dunia. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:
Abu Hurairah RA meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian," (HR. Tirmidzi).
Dengan mengingat mati seorang hamba juga bisa menjadi menjadi mukmin yang cerdas berakal. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah:
Abdullah bin Umar RA bercerita, Aku pernah bersama Rasulullah ﷺ, lalu datang seorang lelaki dari kaum Anshar mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad ﷺ lalu bertanya: "Wahai Rasulullah, orang beriman manakah yang paling terbaik?” Beliau menjawab: “Yang paling baik akhlaknya”.
Orang ini bertanya lagi: “Lalu orang beriman manakah yang paling berakal cerdas?” beliau menjawab: “Yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya setelah kematian, merekalah yang berakal,” (HR. Ibnu Majah).
Wallahu a’lam bish shawab.
Dapatkan update muslimobsession.com melalui whatsapp dengan mengikuti channel kami di Obsession Media Group
































