Menelusuri Sejarah Adzan

Oleh: A. Hamid Husain (Alumni Pondok Modern Gontor, King Abdul Aziz University, dan Ummul Qura University)
Kata "Adzan" اذان berasal dari "Udzun" اذن artinya "telinga". Jadi, orang yang tidak pedulikan Adzan, adalah orang TULI menurut Allaah.
Mari kita telusuri sejarah Adzan, agar kita jaga dan penuhi demi keselamatan kita Dunia Akhirat. Jangan jadi orang TULI di sisi Allaah SWT.
Adzan pertama kali dikumandangkan adalah di Madinah, pada tahun pertama Hijriah oleh sahabat Rasul yang bernama Bilal Bin Rabaah, yang berfungsi sebagai penanda masuknya waktu Shalat bagi umat Muslim.
Awalnya, banyak yang mengusulkan sebagai tanda masuknya waktu Shalat. Ada yang mengusulkan: pukul lonceng, tiup trompet dari tanduk, menyalkan api, mengibarkan bendera. Tapi Rasuulullaah ﷺ tidak merestui karena mirip umat Yahudi, Nasrani dan Majusi.
Maka Rasuulullaah ﷺ mengumpulkan para sahabat untuk mencari yang terbaik yang akhirnya disepakatilah Adzan setelah beberapa sahabat mendapat ILHAM melalu mimpi yang sama berulang-ulang.
Dalam beberapa Riwayah dijelaskan bahwa Adzan pertama kali dikumandangkan pada tahun pertama Hijriah oleh Sahabat Rasul yang bernama Bilal Bin Rabaah yang berfungsi sebagai penanda masuknya waktu salat bagi kaum Muslimin.
TRUE STORY:
1. Rasuulullaah ﷺ bersabda menjelaskan awal Adzan:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ كَانَ الْمُسْلِمُونَ حِينَ قَدِمُوا الْمَدِينَةَ يَجْتَمِعُونَ فَيَتَحَيَّنُونَ الصَّلَوَاتِ وَلَيْسَ يُنَادِى بِهَا أَحَدٌ فَتَكَلَّمُوا يَوْمًا فِى ذَلِكَ.فَقَالَ بَعْضُهُمُ: اتَّخِذُوا نَاقُوسًا مِثْلَ نَاقُوسِ النَّصَارَى وَقَالَ بَعْضُهُمْ قَرْنًا مِثْلَ قَرْنِ الْيَهُودِ .فَقَالَ عُمَرُ أَوَلاَ تَبْعَثُونَ رَجُلاً يُنَادِى بِالصَّلاَةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم. «يَا بِلاَلُ قُمْ فَنَادِ بِالصَّلاَةِ ». (رواه مسلم)
"Ketika Umat Muslim tiba di Madinah, mereka berkumpul sembari menunggu waktu Shalat. Namun tidak seorang pun di antara mereka yang bisa memberitahukan bahwa waktu Shalat telah masuk. Sehingga pada suatu hari mereka bermusyarawah untuk membahas persoalan ini. Sebagian Sahabat mengusulkan agar menggunakan lonceng sebagaimana yang digunakan oleh orang-orang Nasrani dan sebagian mengusulkan dengan meniup trompet tanduk sebagaimana yang digunakan oleh orang-orang Yahudi dalam upacara keagamaan mereka.
Namun Sahabat Umar bin Al-Khatthab mengusulkan: “Alangkah baiknya kalian menunjuk seseorang yang bertugas untuk memanggil orang-orang Shalat”. Kemudian Rasuulullaah ﷺ menyetujui usulan Umar dan bersabda: “Yaa Bilal, berdirilah dan panggillah semua Manusia untuk mendirikan Shalat!” (Hadits Sahih Riwayah Al-Imam Muslim).
2. Di hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud ada tambahan sebagai berikut:
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عَمِّهِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ قَالَ أَرَادَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فِى الأَذَانِ أَشْيَاءَ لَمْ يَصْنَعْ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ فَأُرِىَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدٍ الأَذَانَ فِى الْمَنَامِ فَأَتَى النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ « أَلْقِهِ عَلَى بِلاَلٍ
"Sahabat Abdullah Bin Zaid menuturkan bahwa: “Nabi Muhammaad ﷺ berkeinginan untuk mencari cara dalam memberitahukan waktu Shalat, namun beliau belum juga menemukannya”.
Allaah pun memberi ilham melalui mimpi Sahabat Nabi, Abdullah bin Zaid telah bermimpi mengenai kalimat-kalimat Adzan dalam tidurnya. Lalu dia mendatangi Nabi ﷺ untuk memberitahukan hal tersebut, kemudian Nabi ﷺ pun berkata “Ajarkanlah kata-kata itu kepada Bilal!”.
3. Di dalam riwayah lain dijelaskan bahwa pada saat Sahabat Abdullah Bin Zaid menceritakan mimpinya mengenai kalimat-kalimat Adzan itu kepada Rasuulullaah, Sahabat Umar Bin Khattab pun mengakui hal yang sama bahwa beliau juga telah bermimpi dengan mimpi yang serupa dengan mimpinya Abdullah Bin Zaid.
Setelah itu, Rasuulullaah ﷺ berseru sembari memuji Allaah SWT sebagai bentuk kegembiraan beliau dengan berita tersebut. Semenjak itulah Adzan dijadikan sebagai pengingat masuknya waktu Shalat sampai Rasuulullaah ﷺ wafat.
4. Bilal Bin Rabaah, Hijrah ke luar negeri, karena tidak kuat lagi Adzan sepeninggal Rasuulullah ﷺ.
Semua usulan para Sahabat ditolak oleh Rasulullah ﷺ dengan alasan jangan meniru umat lain dan juga bahwa cara itu kurang banyak manfaatnya karena terbatas hanya dilihat oleh orang yang berada di sekitar saja.
Maka Rasuulullaah pun mengganti usulan itu dengan seruan "Ash Shalaatu Jami'ah (Mari Shalat Berjamaah).
Namun, setelah Abdullah Bin Zaid menuturkan, bahwa: "Suatu hari Rasuulullaah ﷺ menyuruh memukul lonceng agar orang-orang berkumpul untuk Shalat. Saat aku tertidur, aku bermimpi: seorang laki-laki datang membawa lonceng dengan tangannya dan mengelilingiku.
Aku pun berkata padanya: "Wahai Hamba Allaah, apakah engkau menjual lonceng itu?' Dia berkata, 'Apa yang akan engkau lakukan dengan lonceng itu?
Maka kujawab: 'Kami akan gunakan lonceng itu sebagai panggilan Shalat. Dia pun berkata: 'Mau engkau kuberi tahu panggilan yang lebih baik dari bunyi lonceng itu?'
Aku pun berkata;'Tentu saja mau.'
Orang yang dalam mimpi itu berkata, kau ucapkan: Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Asyhadu anlaa ilaaha illallaah (2x). Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah (2x). Hayya 'alash shalaah (2x). Hayya 'alal falaah (2x). Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Laa ilaha illallaah.
Setelah melafalkan kalimat-kalimat tersebut, laki-laki yang membawa lonceng itu terdiam sejenak. Lalu, ia berkata: 'Katakanlah jika Shalat akan didirikan: Allaahu Akbar, Allashu Akbar. Asyhadu anlaa ilaaha illallaah. Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah. Hayya 'alash shalah. Hayya 'alal falah. Qade QAAMATIS shalaah (2x). Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Laa ilaaha illallaah."
Begitu tiba waktu Shubuh, aku mendatangi Rasuulullaah ﷺ dan kusampaikan kepada beliau, perihal yang kumimpikan.
Beliau pun bersabda, "Sungguh, itu adalah mimpi yang benar, In Syaa Allaah. BANGKITLAH bersama Bilal Bin Rabaah, karena sungguh, suaranya lebih lantang darimu."
Maka, aku bangkit bersama Bilal, lalu aku ajarkan kepadanya dan dialah yang mengumandangkan Adzan.
Ternyata, seruan Adzan tersebut terdengar oleh Umar Bin Khatthab ketika dia berada di rumahnya. Umar kemudian keluar dengan selendangnya yang menjuntai. Dia berkata, "Demi Zat yang telah mengutusmu yaa Rasuulullaah dengan benar, sungguh aku telah memimpikan apa yang dimimpikannya itu."
Kemudian, Rasuulullaah ﷺ bersabda, "Maka, bagi Allah-lah segala Puja dan Puji," (Hadits Sahih Riwayah Al-Imam Abu Dawud, At Tirmidzi, Al-Bukhari, Ad Darimi, dan Ibnu Maajah).
Demikian asal mula dan sejarah ditetapkannya Adzan sebagai seruan memanggil umat Islam, untuk menunaikan Shalat berjamaah.
"Jika telah datang waktu Shalat, hendaknya salah seorang di antara kalian mengumandangkan Adzan," (Hadits Sahih Riwayah Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim).
Bilal bin Rabah, Sang Mu'adzin Pertama
Bilal Bin Rabah menjadi Mu'adzin pertama yang mengumandangkan Adzan setiap datang waktu Shalat. Ia adalah seorang budak berkulit gelap (hitam). Namun, akhirnya bebas merdeka setelah memeluk Islam.
Bilal termasuk salah seorang yang pertama memeluk Islam. Sepanjang hidup Rasuulullaah ﷺ, selama itu pula Bilal menjadi Muadzin Rasuulullaah ﷺ.
Rasul sangat senang dengan suara lantang Bilal. Ketika Rasuulullaah ﷺ wafat, dan jenazah orang paling mulia itu dikafankan, Bilal segera berdiri untuk mengumandangkan Adzan.
Ketika sampai pada kalimat 'Asyhadu anna Muhammadan Rasuulullaah', tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup melanjutkan Adzannya karena perasaan yang sangat sedih.
Sejak kepergian Rasuulullaah ﷺ, Bilal hanya sanggup mengumandangkan Adzan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, Asyhadu anna Muhammadar Rasulullaah, Bilal langsung menangis tersedu-sedu.
Alasan inilah yang kemudian membuat Bilal memohon kepada Abu Bakar RA agar diperkenankan tidak mengumandangkan Adzan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar dari Kota Madinah dengan alasan berjihad di jalan Allaah dan ikut berjihad ke wilayah Syam.
Permintaan Bilal itu dikabulkan Abu Bakar RA kendati dengan berat hati.
Ketika berada di Syam, Umar yang kemudian menjadi Khalifah, bertemu dengan sang Muadzin ini. Umar langsung melepaskan kerinduannya dengan Bilal.
Amirul Mukminin Umar Al Khattaab meminta sekali lagi, Bilal sang pelantun panggilan Tauhid ini untuk mengumandangkan Adzan. Lalu, ketika suara Bilal yang nyaring itu kembali terdengar, Umar tidak sanggup menahan tangisnya. Sahabat lain pun turut menangis.
Suara Bilal membangkitkan segenap kerinduan mereka kepada masa-masa kehidupan yang dilewati di Madinah bersama Rasuulullaah ﷺ. Bilal, 'sang pengumandang seruan langit itu' tinggal di Damaskus hingga wafat.
POINTERS:
1. Apa bila Adzan dikumandang kan Rasuulullaah ﷺ mengajarkan kepada kita untuk menjawab panggilan itu, sebagaimana Hadits Rasuulullaah yang diriwayatkan oleh Al-Imam
Al-Bukhari dan Imam Muslim yang artinya: “Jika kalian mendengar seruan Adzan maka ucapkanlah seperti yang diucapkan oleh Muadzin,” (Hadits Sahih).
2. Jika Adzan dukumandangkan, hentikanlah semua kegiatan, dan simak baik-baik lalu dijawab setiap kalimat kalimatnya. Karena inilah penyebab kita mendapatkan anugerah: dijauhkan dari tipu daya setan, pertolongan Allaah, kesaksian yang meringankan kelak di Akhirat, dan masuk Surga Al-Firdaus.
Sebagai penutup, mari kita berdoa dengan Doa yang diajarkan oleh Rasuulullaah ﷺ ini: "Yaa Allaah bimbinglah kami untuk selalu eling mengingat-Mu yaa Allaah, bersyukur dan beribadah dengan sebaik-baiknya kepada-Mu".
اللهم اعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك
Dapatkan update muslimobsession.com melalui whatsapp dengan mengikuti channel kami di Obsession Media Group
































