Melepas Jilbab

Melepas Jilbab
Oleh: Nuim Hidayat (Guru dan Penulis) Sebelum Idul Fitri ini ada kabar heboh dari keluarga mantan gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Zara, putrinya yang kini kuliah di Inggris tiba tiba mengumumkan di instagramnya, bahwa ia telah melepas jilbabnya. Ia menyatakan telah berdiskusi dengan orang tuanya dan itu upayanya untuk mencari jati diri. Ibunya dalam wawancara di media massa memahami perilaku anaknya. Ia juga sebenarnya ingin anaknya tetap berjilbab. Tapi ia seperti tak berdaya menghadapi tingkah laku anaknya. Masalah jilbab, memang bukan masalah enteng bagi wanita. Di sekolah atau pesantren, mereka bisa saja berjilbab, karena ada peraturan yang mengharuskan. Tapi setelah keluar dari sekolah atau pesantren, mereka bisa melepaskan jilbabnya, bila pemakaian jilbab itu tidak dibarengi dengan kesadaran. Apalagi bila ia hidup dalam lingkungan yang berbeda. Di luar negeri, di komunitas yang berbeda, ia bisa saja melepaskan jilbabnya. Teman-teman dekat yang nggak berjilbab bisa mempengaruhi dirinya untuk melepaskan jilbab juga. Apalagi ditambah ada ulama Indonesia yang memperbolehkan tidak memakai jilbab. Kita ingat ada artis yang berjilbab kemudian melepaskan jilbabnya. Ada juga anak seorang tokoh, yang hingga sekarang tidak memakai jilbab, Ia beralasan bapaknya ulama dan tidak mewajibkan berjilbab. Di tanah air ada juga perempuan anaknya seorang kiyai, karena menganut liberal, ia juga melepaskan jilbabnya. Jilbab memang berat bagi seseorang yang tidak memahami Islam atau Al-Quran. Jilbab jelas diwajibkan Al-Quran dan ulama ulama yang muktabar dari zaman sahabat hingga kini pendapatnya mewajibkan jilbab. Hanya ulama yang minoritas atau terpengaruh liberal, pendapatnya tidak mewajibkan jilbab. Diantara kewajiban jilbab ini, ada dalam surat surah Al-Ahzab ayat 59. Allah SWT menyatakan, "Wahai Nabi (Muhammad), katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin supaya mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali sehingga mereka tidak diganggu." Dulu masyarakat Arab sebelum turun ayat jilbab, juga tidak mengenakan jilbab. Bahkan dikisahkan mereka ada yang mengelilingi Ka'bah dengan telanjang. Maka jangan heran di Arab hingga kini ada tarian perut, tarian yang memperlihatkan pusar wanita. Begitulah dalam masyarakat jahiliah. Fisik wanita dipamerkan atau ditonjol tonjolkan untuk merangsang syahwat pria. Ini terjadi juga di zaman jahiliah modern saat ini. Islam datang justru untuk memuliakan wanita. Memuliakan wanita dengan akal dan akhlaknya. Fisiknya yang dapat merangsang pria, ditutupi agar pria lebih menghormati akal dan akhlaknya daripada fisiknya. Hikmah perintah jilbab ini diantaranya untuk mengerem kesukaan wanita yang suka menonjolkan fisiknya. Seakan Allah ingin berbicara akal dan akhlakmu lebih mulia dari fisikmu. Maka jangan heran, karena perintah memakai jilbab itu datang dari Al-Quran, wanita Muslimah berbondong bondong memakai jilbab. Itu terjadi sejak zaman Rasulullah hingga sekarang. Kini sebenarnya jilbab sudah tidak menjadi asing baik di negeri.kita maupun luar negeri. Di tanah air, kita ingat perjuangan memakai jilbab di sekolah sejak tahun 80an. Saat itu anak sekolah SMA yang memakai jilbab hendak dikeluarkan dari sekolah. Ramailah kasus itu akhirnya di masyarakat. Yang mempelopori pemain jilbab di sekolah saat itu diantarnya putri dari tokoh Islam, Prof AM Saefuddin. Bila para kiyai, ustadz, guru dan banyak orang tua yang menganjurkan anaknya berjilbab, kini juga ada gerakan yang anti jilbab. Di antaranya mereka yang menggaungkan pakaian adat. Mereka menganggap jilbab Budaya Arab yang tidak sesuai dengan budaya asli Indonesia. Padahal di negeri Arab sendiri juga ada gerakan menghidupkan pakaian adat yang bukan jilbab. Tokoh liberal di Indonesia yang menentang jilbab, di antaranya adalah Ade Armando. Dalam video rekamannya ia pernah mendukung penuh mahasiswinya dari UI yang melepas jilbabnya. Begitulah di dunia ini peperangan budaya terjadi. Peperangan antara budaya jilbab dan budaya adat atau budaya buka bukaan aurat terus berlangsung baik di tanah air maupun di luar negeri. Mereka yang tidak faham Al-Quran dan tidak memahami Islam dengan baik, akan terbawa pada budaya liberal, budaya menuruti syahwat. Dan salah satu korbannya adalah Zara, putri Ridwan Kamil. Kalau kita renungkan ajaran Islam itu mendidik kita untuk tidak menuruti syahwat atau hawa nafsu. Lihatlah kita capek-capek kerja siang hari, Allah perintahkan kita untuk Shalat Zhuhur. Padahal lebih enak tidur daripada shalat kan? Begitu juga ketika malam hari atau di waktu Subuh. Enak-enaknya tidur dianjurkan tahajud dan shalat subuh. Bila nafsu berhasil kita tundukkan, maka kebaikan akan terus melimpah di diri kita. Begitu juga jilbab. Nafsu wanita ingin memperlihatkan rambut, dada atau bahkan pahanya. Tapi bila ia bisa mengerem nafsunya itu, maka kebaikan akan melimpah kepadanya. Laki-laki pun bila mengikuti nafsunya ia ingin terus melihat aurat wanita. Semoga putri-putri kita terjaga dari budaya yang mengikuti syahwat atau syetan ini. Wallahu azizun hakim.