Ukhuwah Islamiyah

Ukhuwah Islamiyah
Oleh: Nuim Hidayat (Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Depok) Banyak yang menginginkan Ukhuwah Islamiyah, tapi mengapa sulit untuk terwujud? Marilah kita coba kaji ayat-ayat mengenai soal ini: 1. Surat Ali Imran 103: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara;dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa agar kita tidak bercerai berai, maka yang pertama adalah kita harus berpegang pada tali Allah (hablullah). Maknanya apa? Maknanya kita mesti berpegang pada Al-Quran, Sunnah dan ijtihad ulama yang shalih. Dalam ayat ini juga mengandung pengertian bahwa mereka yang mendulukan kepentingan manusia (ridha manusia) daripada ridha Allah, maka orang itu berarti telah membuat cerai berai umat. Misalnya membuat partai atau organisasi yang bukan Islam sebagai asasnya. Orang-orang seperti ini lebih senang berangkulan dengan orang-orang kafir daripada orang-orang Muslim. Jebakan nasionalis sekuler juga digunakan agar umat Islam terpecah belah. Mereka menyatakan bahwa nasionalisme lebih tinggi dari Islam. Kalau Islam kan cuma kumpul-kumpul dengan orang Islam, kalau nasionalis kan bisa kumpul semua agama. Begitulah kata mereka. Kita jawab, bahwa memang Islam lebih senang kumpul dengan orang Islam –tidak dengan orang kafir- karena hanya Islam lah yang benar. Hanya Islam lah yang punya kitab suci yang asli, yang lain tidak punya kitab suci atau punya kitab suci tapi sudah penuh campur tangan manusia. Hanya berkumpul dengan orang Islamlah maka tujuan sebuah partai atau organisasi bisa tercapai. Karena punya visi yang jauh bersama, visi kebahagiaan dunia akhirat. Perkumpulan para nasionalis sekuler hanya bertujuan untuk kebahagiaan dunia saja. Karena itu Al-Quran menegaskan, “Muhammad itu utusan Allah, dan orang-orang yang bersama tegas mereka kepada orang-orang kafir dan kasih sayang kepada mereka.” (QS al Fath 29) Maka seorang Muslim bila bertemu dengan orang kafir, merasa risi atau kasihan kepada mereka. Karena mereka adalah orang-orang yang tertutup hatinya dari cahaya Allah. Ada semangat dalam dirinya untuk mengislamkannya. Ada semangat dalam hatinya untuk mendoakannya agar masuk Islam. Karena orang-orang menjadi kafir bisa jadi karena keturunan, bodoh, tidak mau mencari kebenaran, teman-teman lingkungannya, hanya tahu tentang ‘keburukan Islam’ dan sebagainya. Makanya jangan heran, Rasulullah Saw. mempunyai semangat yang tinggi dalam mengislamkan mereka. Bahkan isi kehidupan Rasulullah adalah kehidupan dakwah. Kehidupan dalam rangka mengislamkan orang-orang kafir. Kehidupan dalam rangka memberikan cahaya kepada hati mereka. Kehidupan dalam rangka membuat mereka agar bahagia dunia akhirat. Kehidupan dalam rangka membuat mereka agar faham kemukjizatan Al-Quran. Lihatlah dulu bagaimana para sahabat Rasulullah bermusuh-musuhan karena suku, dengan cahaya Islam mereka menjadi bersaudara. Mereka letakkan Islam di atas kepentingan suku. Jadi bila dunia Arab sekarang berpecah belah, adalah karena mereka telah meletakkan kesukuan di atas Islam. Dan itulah yang memang dilakukan Barat. Mereka letakkan, kesukuan-kenasionalismean di atas Islam agar umat Islam ini pecah berkeping-keping, seperti kita lihat dunia Islam sekarang. Maka satu-satunya jalan agar umat Islam menjadi bersaudara, maka mereka harus meletakkan kepentingan Islam, di atas segala-galanya. Bahkan untuk kepentingan pribadi, Islam harus diletakkan lebih tinggi. Bila Islam –ridha Allah dan RasulNya- kita letakkan di atas kepentingan kita, maka Allah akan memberikan nikmat kehidupan, nikmat persaudaraan. Bukankah pepecahan itu membuat resah jiwa? 2. Surat Al-Hujurat 10-14 Ayat 10: Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. Ayat 11: Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim. Ayat 12: Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang. Ayat 13: Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. Ayat 14: Orang-orang Arab Badui berkata, "Kami telah beriman." Katakanlah (kepada mereka), "Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘Kami telah tunduk (Islam),’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amal perbuatanmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." Surat Al-Hujurat 10-14 ini menarik. Ia bicara tentang ukhuwah Islamiyah dan seluk beluknya. Dalam ayat 10 dikatakan “Sesungguhnya orang-orang mukmin bersaudara.” Di ayat itu –sebagaimana diungkap tokoh kita, Mohammad Natsir- menggunakan lafadz Innamal mu’minuuna ikhwatun. Bukan innamal muslimuuna ikhwatun. Jadi yang bersatu itu orang-orang mukmin, bukan orang-orang Islam. Kenapa? Karena makna iman lebih tinggi daripada Islam. Orang bisa sudah Islam, tapi belum beriman. Karena orang menjadi Islam, bisa karena keturunan, pura-pura dan lain-lain. Lebih jelas lagi tafsir ayat 10 itu dikaitkan dengan ayat 14. Yaitu Allah mengecam orang-orang Arab yang menyatakan dirinya Muslim. Allah jelas menyatakan,” Orang-orang Arab Badui berkata, "Kami telah beriman." Katakanlah (kepada mereka), "Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘Kami telah tunduk (Islam),’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amal perbuatanmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." Di ayat 11-12 ini Allah SWT melarang kita berprasangka buruk kepada orang lain. Ini berbeda dengan dunia intelijen sekarang yang dikuasai Barat. Dimana dalam dunia intelijen yang ada adalah prasangka buruk, prasangka bahwa manusia ‘di belahan bumi lainnya’ akan membuat kerusakan. Prasangka bahwa di sana manusia akan selalu berbuat buruk dan seterusnya. Islam mendulukan ‘husnudhan’ (prasangka baik) daripada ‘suuddhan’ (prasangka buruk). Dengan prasangka baik, maka orang akan selalu mencari teman. Dengan prasangka buruk, maka orang akan selalu mencari musuh. Ayat ini juga langsung menyebut perempuan, karena perempuan biasanya suka ngobrol, menggunjing dan suka berprasangka padahal faktanya belum jelas. Ayat 12 ini juga memberikan ilustrasi yang keras: ‘Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik.’ Dan diakhiri dengan : ‘Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.’ Di sini seolah-olah diungkapkan bahwa banyak yang melakukan prasangka dalam hidup ini, maka bertobatlah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat dan Allah Maha Penyayang.’ Di ayat 13 Allah menjelaskan tentang kehidupan manusia yang bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Untuk apa hidup ini? Untuk berkelahi, bermusuhan atau untuk bersaudara? Al-Quran jelas menyatakan ‘litaaarafuu’, untuk saling mengenal. Dengan saling mengenal, maka orang akan saling memahami. Dengan memahami, maka orang akan bekerjasama menyelesaikan masalah-masalah hidupnya. Beda dengan pandangan hidup Barat yang sekuler, melihat manusia lain ‘seperti musuh’. Sehingga mereka membuat senjata-senjata yang canggih untuk memperkuat militernya, membuat industri intelijen yang canggih untuk menyadap musuhnya dan seterusnya. Dan pandangan seperti ini ditularkan ke dunia Islam, dan parahnya pemimpin-pemimpin dunia Islam mengikutinya. Dilemparkan jargon-jargon yang menipu seperti ‘kalau ingin damai, maka harus siap perang’, kalau negara lain canggih teknologinya kita harus canggih pula karena tidak tahu suatu saat negara itu akan menyerbu kita dan seterusnya. Kita tahu bahwa pusat pendidikan militer dan intelijen adalah Amerika. Dan negara ini kita tahu dikuasai oleh pandangan Yahudi-Kristen. Di sini para perwira militer di dunia Islam itu dididik dengan pluralisme, ancaman radikalisme, ancaman fundamentalisme dan lain-lain. Maka jangan heran ketika mereka kembali ke negaranya –dan menjadi pemimpin negara itu, mereka menjadi corong kepentingan Amerika. Dan negara besar ini dari jauh terus memantau pribadi-pribadi yang dididiknya itu, membantunya dengan data-data intelijen, membantunya dengan dana besar dan seterusnya. Dengan gurita militer dan intelijen inilah Amerika menguasai dan mengendalikan dunia. Bagaimana dengan media massa? Media massa kebanyakan awaknya bekerja bukan karena idealisme, tapi karena uang. Para wartawan mudah ditundukkan dengan uang dan intelijen (juga para pemilik modal) tahu persis hal ini. Hanya sedikit di dunia ini wartawan bekerja karena idealisme. Mereka yang bekerja tanpa kenal lelah menginginkan dunia yang lebih baik, menginginkan dunia yang adil dan makmur. 3. Surat Al-Anfal 63 “Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” Untuk mempersatukan manusia itu ada dua: dengan uang atau dengan pemikiran (hati). Kebanyakan manusia mempersatukan manusia lain dengan uang. Maka jangan heran, partai-partai sekuler selalu ingin menumpuk-numpuk pundi kekayaannya. Karena dengan kekayaan itu mereka bisa mengendalikan orang-orang. Dari sinilah timbulnya korupsi, sikap jiwa tamak harta dan lain-lain. Bagi kelompok sekuler ini, harta adalah segalanya. Dengan harta itu ia bisa mengendalikan orang, bahkan dengan harta itu ia bisa membunuh orang. Islam beda. Kaum Muslim ‘dilarang’ berkumpul untuk sekedar mencari harta. Perkumpulan kaum Muslim –misalnya dalam partai Islam- tujuan tertingginya adalah untuk merealisasikan hukum-hukum Allah di muka bumi, termasuk tanah airnya. Bila partai Islam, kehilangan tujuan ini, maka awak-awak partainya akan bersikap sama seperti partai sekuler, yaitu berebut harta, berebut uang. Bila kawannya mendapat uang yang gede, ia iri, ia ingin mendapat uang gede juga. Gak peduli itu dari korupsi atau dari ‘merampok harta negara dengan cara yang konstitusional’. Anggota DPR kita tingkah lakunya seperti itu. Mereka tidak peduli jutaan rakyat Indonesia masih miskin, yang penting bagi mereka gaji gede, sekitar 100 juta sebulan. Inilah yang menyebabkan kerusakan di negeri ini. Menempatkan uang lebih tinggi dari risalah para Nabi. Mereka sebenarnya bukan wakil rakyat, tapi wakil partai atau wakil dirinya sendiri. Seorang wakil rakyat sejati harusnya mendulukan kepentingan rakyat daripada pribadi, keluarga atau partainya. Penyakit cinta dunia (harta) inilah yang merupakan sumber kerusakan dunia. Sebagaimana sabda Rasulullah: Rasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati,” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud). 4. Surat An-Nashr “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah (Islam) dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” Bila kita menyimak surat ini dengan seksama, maka di sini terungkap tujuan dari organisasi atau partai dalam Islam. Yaitu untuk Islamisasi. Baik Islamisasi itu di tingkat individu, keluarga, masyarakat, negara dan dunia. Bila sebuah organisasi kehilangan visi ini, maka organisasi ini akan penuh dengan kerusakan. Tokoh Ikhwanul Muslimin, Imam Hasan Al-Bana telah memancangkan visi ini ketika pertama kali mendirikan organisasi yang jumlah anggotanya terbesar di dunia ini. Begitu juga tokoh pendiri Hizbut Tahrir, Taqiyuddin An-Nabhani. Buku-buku yang ditulis Taqiyudin semua muaranya ke tegaknya syariat Islam (Khilafah Islamiyah). Bahkan ia lebih jauh menekankan tentang pentingnya kepemimpinan befikir dalam Islam (Qiyaadatul fikriyah fil Islam). Menurutnya, memimpin orang lain itu bukan dengan senjata (sebagaimana Barat), tapi memimpin orang lain itu dengan pemikiran. Dan pemikiran yang paling tinggi adalah Islam. Karena itu dalam perjuangannya Taqiyuddin ‘mengharamkan’ penggunaan senjata. Taqiyudin dan tokoh-tokoh Hizbut Tahrir berprinsip bahwa perjuangan Rasulullah saw 13 tahun di Mekkah itu tanpa senjata. Perjuangan di situ waktu itu menggunakan pemikiran. Rasulullah dan para sahabat bahu membahu bekerjasama menyiarkan dakwah ini ke seluruh umat. Umat dibina aqidahnya, dibina pemikirannya sehingga menjadi umat yang mulia. Umat diyakinkan bahwa Islam itu mulia dan kekafiran itu hina. “Islam itu tinggi (hebat), tidak ada yang lebih tinggi dari Islam,” sabda Rasulullah. Rasulullah dan para sahabat tidak goyang dalam memegang prinsip ini. Meski ada diantara sahabat ada yang dibunuh. Teror, cacian adalah hal yang biasa mereka alami. Mereka yakin bahwa risalah para Nabi ini adalah mulia dan suci. Risalah ini langsung turun dari Yang Maha menciptakan bumi dan seisinya. “Demikian, karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang beriman, sedangkan orang-orang kafir tidak mempunyai pelindung.” (QS Muhammad 11) “Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS an Nisa’ 104) Habib Rizieq Shihab dalam ceramahnya di Al-Azhar menarik ketika menguraikan tentang ayat ini. Habib menyatakan bahwa dalam perjuangan orang-orang kafir dan orang-orang Islam sama menderita keletihan atau kesakitan. Tapi ada satu hal yang membedakan antara orang mukmin dan orang kafir dalam berjuang. Yaitu orang mukmin mengharap pahala dari Allah (al Jannah), sedangkan orang kafir tidak. Orang-orang kafir berjuang hanya menuruti nafsunya atau hanya menjadi budak thaghut pemimpinnya. Orang-orang kafir berjuang hanya demi uang, jabatan, ketenaran dan semacamnya. Begitu pula dalam sejarah Indonesia, ada partai yang berjuang dengan ikhlash untuk menegakkan risalah Islam. Sayang pada tahun 1960 partai ini dibubarkan oleh Presiden Soekarno. Tokoh-tokohnya dipenjara dan dihinakan. Meski dibubarkan, tapi pengaruh tokoh-tokoh Masyumi tetap besar di kalangan kaum Muslim terpelajar. Buku-bukunya menjadi bacaan yang menarik. Tokoh boleh dipenjara, digantung atau wafat, tapi ide atau pemikiran yang benar tidak akan mati. "Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya;adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan". (QS ar Ra’d 17) Wallahu alimun hakim. Wallahu azizun hakim.

Dapatkan update muslimobsession.com melalui whatsapp dengan mengikuti channel kami di Obsession Media Group