Ustadz Adi Hidayat Bantah Wali Songo Keturunan Tionghoa

Muslim Obsession - Belakangan ini ramai di media sosial soal pernyataan yang menyebut bahwa Sembilan Wali atau Wali Songo merupakan keturunan Tionghoa. Di salah satu kajian, hal ini dibantah oleh Ustadz Adi Hidayat. Melalui cuplikan video ceramahnya di Youtube, dia menjelaskan secara rinci dan singkat perjalanan Islam masuk ke Nusantara. Berikut penjelasan Ustadz Adi Hidayat: Islam itu sesungguhnya masuk ke Nusantara dalam fase yang sangat awal. Bahkan di pelajaran-pelajaran sekolah termasuk anak-anak SD sampai SMP disebutkan abad ke-14. Ada yang menyebut pada abad ke-13 dengan teori-teori yang ada dari hujarat, padahal itu bersamaan di abad ke-7. Di awal masa islam, bahkan pernah tercatat dalam sejarah Saad bin Abi Waqas, itu dalam satu ekspedisi pernah ikut sampai ke kota Baros 414 Km dari kota Medan, jadi dari awal abad ke-7 sudah masuk. Ini sudah bersamaan, dan tidak benar agama pertama di nusantara itu Hindu. Kemudian Islam datang, itu bersamaan, baik Hindu ataupun Islam itu sudah bersamaan, ada dalam dakwah dan sudah disebarkan, dan yang datang bukan hanya pedagang dari Arab. Sementara orang-orang Arab yang datang itu, baik dari Yaman dan sebagainya, dibekali untuk misi dakwah yang dipetakan daerahnya. Mereka berdagang sambil menyebarkan nilai-nilai keislaman. Sampai puncaknya berdirilah kemudian kesultanan-kesultanan, kerajaan-kerajaan islam di nusantara dari mulai Sabang sampai dengan Merauke, dari Sumatera sampai ke ujung bagian timurnya. Bahkan di timur ini, ada kerajaan yang terkenal dengan kerajaan-kerajaan Islam, dalam bahasa arab kerajaan disebut dengan rajanya malik, kerajaannya muluk, dalam bahasa orang lokal disebut Maluku. Ya Maluku itu asalnya dari bahasa arab yang ada di kerajaan-kerajaan Islam, karena disitu ada ternate, tidore, bacan, ambon, dan macam-macam termasuk sampai ke Papua. Nah, kemudian di masa-masa di abad ke-13 itu bukan awal masuknya Islam, tapi penguatan nilai-nilai keislamannya. Jadi, orang tua dulu merintis membawa Islam, kemudian ulama setelahnya mengajarkan nilai-nilai keislaman yang benar. Mulai dari bagaimana caranya shalat dengan baik, bagaimana bertauhid, karena pada waktu itu masih diperkenalkan, kan ada orang yang kenal Islam tapi belum bisa shalat dengan baik, saking hafal Al-Fatihah cepatnya luar biasa. Ini persoalan-persoalan disini, maka diutuslah kemudian oleh Sultan Turki pada saat itu, kisaran tahun 1400-an di awal masa ke-13 dari 1200 sampai ke 1400-an, dikirimkan ulama-ulama, ini ulama-ulama yang dekat Allah. Mereka yang paham tentang sistem kehidupan dan tahu tentang fiqih dakwah, dalam bahasa arab orang yang punya ilmu dan dekat dengan Allah, itu bukan cuma disebut ulama tapi wali, jamaknya aulia. Misalnya QS. ke-2 Al-Baqarah ayat 257 yang artinya Allah menjadi wali bagi orang-orang beriman. Maksudnya memberikan dia ilmu, kekuatan dan sebagainya, maka diutuslah sembilan orang pada saat itu. Mereka itu semuanya dari Arab, ada yang dari Palestina, Syaikh Hasanuddin misalnya, ada dari Mesir Syaikh Ahmad Jumadil Qubra, Ahmad Jumadil Qubro ini ahli dakwah, ahli fiqih juga, ahli islam yang nanti punya dua orang anak, anak pertamanya dibawa ke nusantara, anak keduanya tinggal di Mesir. Ahmad Jumadil Qubro berdakwah sampai ke ujung Sumatera. Siapa Ahmad Jumadil Qubro ini? Seorang ulama besar dari Mesir ahli dakwah, dibawa kemudian anaknya salah satunya adalah Maulana Ishaq. Maulana Ishaq itu yang tadi, yang saya turunkan sampai muncul KH Ahmad Dahlan sampai KH Hasyim Asyari. Satu lagi dia tinggal di mesir bernama Syarif Abdullah, ini bukan Sunan Gunung Jati. Ini yang menarik ketika beliau berdakwah di kisaran abad ke-15 sampai awal abad ke-15, di situ sedang dikuasai di wilayah sunda sampai ke pertengahan jawa oleh satu kerajaan besar, satu daerah sunda wiwitan, padjajaran, lebih dekat ke Hindu sebetulnya rajanya Prabu Siliwangi. Prabu Siliwangi punya control ibu dari mulai banten sampai ke perbatasan Jawa, sampai nanti ada salah satu candi cepak di wilayah karang anyar ke sebelah atas kesana. Nah disini ketika sedang berdakwah Islam sudah muncul sebagiannya, ketika masuk ke daerah Karawang. Ketika masuk ke daerah karawang ditemukan seorang perempuan itu terdengar suaranya sedang mengaji, suaranya lembut sekali, bagus, dilihat orangnya cantik luar biasa namanya Nyai Subang Larang. Nyai Subang larang ini ternyata anak pembesar muslim dia sedang belajar pesantren jadi santri dari satu guru besar yang baru pulang dari Makkah. Makkah dulu dikenal Umul Quro maka gurunya disebut dengan Syaikh Quro. Namanya Syaikh Hasanudin dikenal syaikh Quro maka jadi muridnya ketahuan oleh Prabu Siliwangi tentang kebaikannya. Maka diminta untuk jadi bagian dari istrinya. Tapi apa yang disampaikan Nyai Subang Lara, apa yang disampaikan, ini bisa mengatakan apa saja, tapi dengan kekuatan imannya dia katakana, “Anda boleh nikahi saya kalau mau masuk Islam, singkatnya mau. Jika kalimat dikeluarkan dengan nilai keimanan, tidak pernah dipakai maksiat itu nanti ada kekuatan-kekuatan yang Allah menggerakkan, maka masuk Islam lah Prabu Siliwangi nama Asli Pamenah Rasa. Dari pernikahan itu melahirkan tiga orang anak, dua laki-laki satu perempuan, anak pertama lahir tahun 1423 diberi nama dengan Walasungsang. Anak kedua lahir tahun 1426 diberi nama Lara Santang, anak ke-3 lahir 1427 diberi nama dengan ajak sengarang. Semuannya masuk Islam pelan-pelan, semua masuk Islam, Walasungsang berganti nama dengan Abdullah Iman dan Lara santang berganti menjadi Syarifah Mudaim. Dari tahun inilah kemudian keduanya pergi menunaikan ibadah haji. Setelah berhaji ini, ternyata setelah selesai mau pulang bertemu dengan Syarif Abdullah. Syarif Abdullah jatuh hati kepada Syarifah Mudaim. Lalu dia minta izin untuk menikah kepada kakaknya, dinikahkan disitu. Maka ketika Abdullah Iman pulang ke daerahnya jadi Syarifah Mudaim ngga ikut, disampaikan menikah dengan Syarif Abdullah. Ketika pulang, oleh Prabu Siliwangi diberikan tempat di daerah Lemang Wungkuk. Lemang Wungkuk itu dulu banyak etnis disitu, ada Arab, ada China, ada orang lokal, dalam bahasa lokal disebut dengan saruban. Saruban itu kumpulan orang-orang dengan etnis-etnis yang banyak. Karena itu di daerah Lasem ada pesisir sedikit dekat ke Tuban 30 Km, sekitaran pantai ada saruban juga disitu, karena dulu orang China masuk pertama kali lewat Lasem, daerah Karangturi, posisi paling kanan disitu ada kisaran orang-orang China, komunitasnya disitu. Kalau ibu tanya bahasa jawanya paling halus, orang-orang sekitaran itu, Saruban. Sedangkan Syarif Hidayatullah, ketika menghadapi kakeknya diberikan kewenangan di Gunung Jati, maka dikenal dengan Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati ini bukan termasuk yang sembilan wali pertama, ini generasi keempat. Jadi kaya Sunan Kalijaga, Sunan Gunung Jati itu orang lokal dari campuran sebelumnya. Sembilan wali yang pertama itu, bukan dari generasi yang keempat yang awal, ada yang dari Mesir, ada yang dari Maroko, ada yang dari Palestina, ada yang dari Persia, semuanya jumlahnya 9 orang, ada dari Turki 2 orang. (Vina)
Dapatkan update muslimobsession.com melalui whatsapp dengan mengikuti channel kami di Obsession Media Group
































