Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-74)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah) Ayat tersebut selain menyebutkan kerasulan Nabi Ilyas, yang kemudian mengingatkan kaumnya agar kembali bertakwa, yaitu kembali pada ajaran tauhid yang diajarkan nenek moyang mereka, namun juga menyebutkan bahwa masih ada hamba-hamba Allah dari Bani Israel di Samaria yang disucikan dan yang beriman tauhid. Hal itu yang menunjukkan bahwa masih ada dari Bani Israel yang melaksanakan ajaran tauhid namun tidak bisa leluasa melaksanakannya karena mendapat penindasan seperti adanya usaha membunuh Nabi Ilyas. Dengan demikian, ayat tersebut menunjukan situasi Bani Israel Samaria yang terbelah dalam keyakinan religiusnya. 3. Nabi Ilyas di Sidon. Kitab 1 Raja-Raja 17 menyebutkan, karena kemurtadan penguasa dan sebagaian Bani Israel di kerajaan Israel Samaria, maka adzab Allah ditimpakan kepada mereka berupa musim kering panjang. Tidak luput pula sungai Kerit mengering tidak berair. Nabi Ilyas diperintahkan Elloh keluar dari persembunyiannya di sungai kerit. Menghindari wilayah Israel yang tidak aman baginya, Allah menyelamatkannya dengan memerintahkannya pergi ke wilayah Sidon ke daerah Sarfat, negerinya Etbaal. Tempat persembunyian di negeri Etbaal tentu tidak diduga oleh bala tentaranya Ahab. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-73) Dalam perjalanan di Sarfat, Nabi Ilyas bertemu seorang janda yang sedang mencari kayu untuk membuat api. Nabi Ilyas yang kehabisan bekal kemudian meminta air minum dan roti dari janda tersebut yang kemudian memberinya minum. Namun janda tersebut tidak mempunyai roti, yang dipunyainya hanya sedikit tepung dalam tempayan yang akan dijadikannya roti untuk makan dirinya dan anaknya. Namun Nabi Ilyas mengatakan agar membuatkan sepotong roti baginya dan tidak perlu kuatir akan kehabisan tepung dan minyak karena tepung dan minyak itu tidak akan habis sampai Tuhan menurunkan hujan lagi di bumi yang sedang dilanda kekeringan panjang itu. Janda tersebut kemudian melaksanakan perintah Nabi Ilyas membuat roti, dan ternyata meskipun tepungnya diambil untuk dibuat roti, namun selalu ada tersedia tepung di tempayan dan tempat minyaknya juga selalu dalam keadaan terisi minyak. Ini adalah mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Ilyas. Janda dan anaknya itu, meskipun miskin, namun karena kemurahan hatinya dan bersedia memberi tempat berteduh serta memberi makanan bagi Nabi Ilyas, maka Allah memberinya rizqi yang tak pernah diduganya. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-72) [caption id="attachment_78178" align="alignnone" width="720"]
Lukisan Nabi Ilyas berbicara dengan janda miskin yang bersidia memberi tempat di rumahnya. (Sumber: Block spot.com)[/caption] Nabi Ilyas kemudian menginap di rumah janda tersebut. Namun dia tidak mengetahui dan tidak mengerti apa saja yang dilakukan Nabi Ilyas sehari-hari di negeri Sidon. Di tempat ini, penduduknya tidak mengenal Nabi Ilyas sehingga cukup bebas untuk keluar rumah. Namun tidak ada kisah tentang apa saja yang diperbuat oleh Nabi Ilyas ditempat tersebut. Kitab 1 Raja-Raja 17 : 17 – 24 mengisahkan, suatu hari anak janda tersebut jatuh sakit berat hingga akhirnya sudah tidak bernafas lagi. Janda tersebut, yang telah mengetahui mukjizat Nabi Ilyas, memohon pertolongan agar anaknya dapat hidup kembali. Nabi Ilyas kemudian membawa anak tersebut ke kamarnya. Janda tersebut tidak mengetahui apa saja yang dikerjakan oleh Nabi Ilyas di kamarnya. Dia hanya menunggu dengan harap-harap cemas tentang keadaan satu-satunya anaknya tersebut. Di dalam kamar, Nabi Ilyas kemudian membaringkan anak tersebut di tempat tidur kemudian Nabi Ilyas berdoa memohon kepada Allah agar anak tersebut dihidupkan lagi. Permohonan Nabi Ilyas tersebut dikabulkan Allah dan anak tersebut diserahkan kepada janda pemilik rumah dalam keadaan hidup. Tentu janda tersebut sangat senang menerima anaknya kembali dalam keadaan hidup. Hal itu membuat janda tersebut semakin yakin bahwa tamunya itu adalah seorang rasul yang suci. Namun demikian, Nabi Ilyas berpesan agar janda tersebut tidak menceritakan peristiwa tersebut kepada penduduk lainnya, agar tidak menarik perhatian dan keramaian di pemukiman tersebut. 4. Kembali ke Samaria melawan Ahab dan para imam baal. Kitab 1 Raja-Raja 18, mengisahkan, sudah lebih dari tiga tahun kekeringan dan kelaparan masih mendera di negeri Samaria. Meskipun negerinya dilanda kekaringan panjang, namun atas permintaan istrinya yaitu Izebel, ratusan orang shalih dan Nabi dari Bani Israel dikejar kejar, ditangkap dan dibunuh Ahab. Namun masih terdapat sekitar 100 orang salih yang diselamatkan Allah. Mereka disembunyikan di dalam sebuah gua oleh perwira Ahab yang menyembunyikan keimanan tauhidnya yaitu Obaja. Ahab memberikan perintah kepada Obaja untuk berkeliling ke seluruh wilayah Israel untuk mencari mata air yang masih mengeluarkan airnya dan tersedia cukup rerumputan dan dedaunan untuk makanan bagi kuda, bagal dan ternak kerajaan. Demikian pula Ahab bersama beberapa tentaranya mencari sumber air dan padang rumput dengan arah yang berlawanan dengan arah kepergian Obaja. Pencarian sumber air tersebut menunjukkan betapa sulit keadaan yang sedang di hadapi oleh Bani Israel saat itu. Hewan peliharaan dan ternak kerajaan harus dicarikan tempat yang memadai untuk tetap bertahan hidup menggambarkan tentang situasi yang sangat sulit. Dalam situasi musim kering hebat itu, turun perintah Allah kepada Nabi Ilyas untuk kembali ke Samaria dan menampakkan diri pada Ahab. Dalam perjalanan Nabi Ilyas menuju kota Samaria, ditengah jalan Nabi Ilyas bertemu Obaja. Pertemuan itu membuat kaget Obaja yang langsung bersimpuh kepada Nabi Ilyas. Nabi Ilyas meminta Obaja agar memberitahukan kehadirannya di Samaria kepada Ahab. Namun Obaja takut melaksanakan perintah tersebut, yang kemudian menjelaskan kepada Nabi Ilyas bahwa banyak orang dikerahkan Ahab untuk mencari keberadaannya. Nabi ilyas kemudian mengajak Obaja pergi menyerahkan dirinya kepada Ahab. BERSAMBUNGDapatkan update muslimobsession.com melalui whatsapp dengan mengikuti channel kami di Obsession Media Group
































