Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-2)

167
Fenomena alam, badai gurun pasir. Adzab bagi kaum ‘Aad berupa badai gurun pasir dengan disertai petir dan angin keras, pasti lebih besar dari fenomena alam tentang badai gurun pasir sebagaimana pada gambar di atas, karena adzab yang dijatuhkan pada kaum ‘Aad memusnahkan pemukiman di atas bukit.

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

I. Nabi Hud dan Nabi Shalih.

Dengan adanya tantangan tersebut, sebelum adzab diturunkan,Allah terlebih dahulu menyelamatkan Nabi Hud dan orang orang yang beriman yang bersamanya (QS. Al-A’raf: 72) baru kemudian diturunkan adzab yang bersifat memusnahkan peradaban kaum ‘Aad sehingga hanya tertinggal bekas bekasnya saja.

Al-Ahqaf: 24-25, QS. Al-Fushilat: 13, QS. Adz Dzuriyat: 41-42 menyatakan: Maka tatkala mereka melihat adzab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka, inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami. Bukan! Bahkan itulah adzab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung adzab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya.

Angin yang sangat keras dibarengi petir yang sangat keras sehingga membuat apa saja yang dilandanyaseperti serbuk ditiup angin. Maka jadilah mereka tidak tampak lagi kecuali bekas bekas tempat tinggal mereka.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri 1)

Demikianlah Allah memberi balasan kepada kaum yang berdosa. Sedang Nabi Hud diselamatkan oleh Allah ke tempat yang agak jauh dari wilayah suku ‘Aad. Peradaban tinggi suku ‘Aad menjadi lenyap dan tidak berlanjut lagi.

Sebagaimana Nabi Nuh, Nabi Hud juga hidup bersama kaum yang sudah memiliki peradaban tinggi yang tidak menjamin manusia dapat mempelajari tanda-tanda kekuasaan Allah. Sejak masa lalu, ilmu pengetahuan ternyata dapat pula membawa manusia mengingkari adanya kekuasaan Allah yang menciptakan alam semesta dengan segala isinya termasuk menciptakan manusia.

Ilmu pengetahuan dapat membawa manusia menjadi lupa diri karena dengan ilmu pengetahuan manusia merasa dapat berbuat apa saja menuruti nafsunya yang tidak dikendalikan sehingga seolah-olah dapat hidup menikmati kehebatannya selama lamanya.

Allah dalam waktu sekejap kemudian menimpakan adzab yang melenyapkan semua produk ilmu pengetahuan dan peradaban tinggi yang telah dicapai kaum ‘Aad tanpa tersisa. Di wilayah tersebut kehidupan harus dimulai dari awal lagi, dengan sedikit manusia yang tidak membutuhkan banyak hal untuk menopang kehidupannya, kemudian mulai berkembang lagi.

Kisah Nabi Hud adalah kisah dari suatu kaum atau suku yang tidak terkait dengan suku lainnya. Namun demikian, sisa sisa dari kaum ‘Aad yang selamat bersama Nabi Hud, sangat mungkin menjadi cikal bakal dari munculnya suku-suku di Yaman dan suku di Oman.

Salah satu suku keturunan kaum ‘Aad ini adalah suku Jurhum atau Jarhomit yang sekitar 400 tahun kemudian dimana salah satu kabilahnya menetap bersama Hajar dan Ismail di dekat sumur Zam-zam dan membangun kota Makkah kemudian menurunkan suku-suku Arabia.

Maqam (atau petilasan) Nabi Hud yang terletak di lembah kecil di Hadramaut, sekitar 80 km dari kota Tarim, yang selalu ramai orang berziarah. Jejak Nabi Hud masih nampak terpelihara. Saat ini, di situs yang tidak terlalu jauh dari maqam Nabi Hud, di dekat Hadramaut banyak terdapat kegiatan arkheologi untuk menguak peradaban kaum ‘Aad.

1- Masa kerasulan dan tempat diutusnya Nabi Shalih.

Nabi Shalih adalah nabi kedua yang diutus setelah Nabi Nuh dan Nabi Hud. Nabi Shalih diutus pada kaumnya, yaitu suku Tsamud (QS. Al-‘Araf: 73), terjadi setelah Nabi Hud diutus pada kaum ‘Aad (QS. Al-‘Araf:74) yang juga suku keturunan suku Iram bin Sem bin Nuh, dengan waktu pengutusan tidak terlampau jauh dengan jarak waktu pengutusan Nabi Hud, yang diperkirakan terjadi pada tahun 2200 SM-2100 SM.

Kisah suku Tsamud terjadi di sebuah wilayah yang disebut dengan kawasan Al-Hijr yang berarti kawasan pemukiman di Gunung Batu. Kitab kejadian menyebut kawasan gunung Al-Hijr dengan sebutan pegunungan Seir.

Saat ini, kawasan Al-Hijr atau Seir membentang dari perbatasan Arabiya hingga sampai di Yordania dan Syam (Suriah).

Kawasan Al-Hijr yang menjadi tempat tinggal kaum Tsamud terletak di Wadi Al-Qura’ yang juga dikenal dengan nama Madain Shalih berada di utara Madinah, dekat pantai laut merah di jalan lintasan perdagangan menuju kota Tabuk yang membentang sampai wilayah Yordania.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here