Kerja Keras

73

Oleh: Dea Guru H. Ahmad Nahid, M.Pd (Wakil Pengasuh dan Direktur Pendidikan dan Pengajaran Pesantren Modern Internasional Dea Malela Sumbawa Indonesia)

Hakikat hidup di dunia adalah perjuangan dan kerja keras. Tanpa kerja keras manusia tidak akan bisa bertahan hidup.

Itu sebabnya, manusia harus berjuang sekuat tenaga demi memenuhi segala kebutuhan pokoknya serta memenuhi kewajibannya kepada Allah dan sesama manusia. Kerja keras berarti berusaha seoptimal mungkin agar mendapatkan hasil yang maksimal.

Kerja keras juga berupa kerja pikir secara serius dalam melakukan sebuah pekerjaan kemudian diiringi sikap tawakal kepada Allah SWT. Sesuatu yang dihasilkan dari usaha dan kerja keras niscaya mendatangkan kenikmatan yang tak ternilai.

إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya,” (QS. Ali Imran: 159).

Bahkan, dengan bekerja keras akan menjadikan seseorang terhormat sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, “Tidak ada satu makanan pun yang dimakan seseorang yang lebih baik daripada makanan hasil usahanya sendiri,” (HR. Al-Bukhari dan Nasa’i).

BACA JUGA: Fasiq

Sayangnya, tidak setiap muslim memiliki etos kerja keras. Sekadar contoh, untuk melaksanakan sholat shubuh berjamaah di masjid tampak begitu berat, terlebih harus bangun malam untuk qiyamul lail. Juga masih banyak dari kalangan muslim yang terjebak dalam kemacetan berfikir dalam menggunakan potensi waktu yang dimiliki.

Ini bertentangan dengan karakter Rasulullah ﷺ yang notabene adalah seorang pemegang amanah yang sangat kuat. Beliau seorang pemimpin negara, kepala rumah tangga, konsultan atas persoalan umat, pengusaha, dan lain-lain. Semua amanah tersebut mustahil teratasi tanpa ditopang etos kerja yang tinggi.

Seseorang yang memiliki etos kerja keras niscaya menyadari betapa mahalnya waktu, sehingga ia akan berlomba mengisinya dengan kebajikan.

Sebaliknya, seorang pemalas akan melewati waktu-waktu yang dilaluinya dengan sia-sia atau setidaknya suka menunda-nunda pekerjaan. Dan seorang muslim tidaklah patut menunda pekerjaannya hingga esok sepanjang bisa dilakukannya hari ini.

Banyaknya di antara umat Islam yang masih menampakkan sikap bermalas-malasan, kurang disipin, dan semangat kerja yang rendah, merupakan karakter yang tidak serasi dengan ajaran Islam. Sebab Islam selalu memberikan motivasi dalam beribadah, bekerja, serta menghargai setiap kesempatan.

BACA JUGA: Taubat

Bentuk kerja keras dalam Islam tentu beragam. Bekerja keras bukan berarti seseorang harus kerja dari pagi hingga malam, hingga melupakan kewajiban dan hak dirinya.

Bukan berarti pula seseorang yang bekerja keras hanya melulu bekerja selama atau sebanya mungkin dari segi kuantitas waktu dan usahanya. Namun, bekerja keras dalam Islam lebih kepada bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu sehingga bisa diperoleh hasil yang diinginkan.

Tidak hanya itu, bentuk kerja keras dalam Islam adalah bersikap profesional atas segala hal yang menjadi tanggung jawabnya. Dia menepati janji dan komitmen yang telah dibuatnya, bukan hanya sekedar mengerjakan tugas sekenanya. Maka, seorang muslim yang bekerja keras pasti akan mendapatkan hikmah dan kebaikan dari apa yang telah diusahakannya.

Beberapa hikmah yang mungkin bisa langsung dirasakan oleh seseorang yang senantiasa bekerja keras adalah dia bisa meningkatkan taraf hidupnya, memenuhi kebutuhannya, hingga mencapai target atau cita-citanya.

BACA JUGA: Sifat Malu

Namun, ada banyak hikmah lain dari kerja keras yang dilakukan seorang muslim, yang mungkin tidak bisa langsung dirasakan manfaatnya saat di dunia. Misalnya, dia mendapatkan pahala dari Allah, berkah atas segala usahanya, meningkat derajatnya di mata Allah.

Dari banyaknya hikmah di dunia dan akhirat dari kerja keras, maka mengapa kita masih bermalas-malasan?

Mengapa kita masih cepat menyerah ketika mengalami sebuah kegagalan, padahal Allah telah menyiapkan kejutan di balik kegagalan yang kita alami. Jika kita telah mengetahui hal ini, maka sebagai seorang muslim kita harus mulai belajar untuk selalu bekerja keras untuk sesuatu yang kita inginkan.

Bahkan, kita juga harus selalu bekerja keras terhadap semua komitmen yang telah kita buat di awal. (Baca juga: Amanah dalam Islam)

Namun, meski bekerja keras untuk kehidupan dunia memagn dibolehkan dan sangat dianjurkan dalam ajaran Islam, kita tetap harus bisa menyeimbangkan usaha tersebut dengan usaha kita menyempurnakan ibadah kita untuk akhirat. Jangan sampai usaha kita dalam bekerja untuk dunia justru membuat kita lalai dalam beribadah. Keduanya harus berjalan seimbang, tidak boleh berat sebelah.

Wallahu a’lam bish shawab.

Mari istiqomah dalam beribadah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here