Banyak Anak Tapi Sepi

507

Oleh: A. Hamid Husain (Alumni Pondok Modern Gontor, King Abdul Aziz University, dan Ummul Qura University)

Di kala usia lanjut, ternyata baru engeh, baru terasa sepi meski anak banyak dan pada sukses, karena masing-masing sibuk dengan pekerjaan dan keluarganya.

Sehingga, saat ditanya: “Kalaupun masih ada waktu, dan disuruh memilih, apakah hebat dan melambung di jabatan tinggi duniawi dan ahli teknologi canggih atau ahli agama?”

Jawabannya: “Saya akan memilih Ahli Agama, agar tidak kesepian saat tua renta”.
Demikian jawaban BJ Habibie.

TRUE STORY:

B.J. HABIBIE bertutur:

Ternyata kembali ke nol.. tidak ada yang dapat dibanggakan.

Dulu bangga dengan jabatan, apa itu nakhoda, apa itu KKM, apa itu direktur, apa itu bos perusahaan besar.

Ungkapan hati B.J. Habibie soal akhirat yang membuat kita sadar dan hati merinding di 8 Januari 2019.

B.J. Habibie mantan Presiden RI ini menuliskan tentang kisah hidupnya:

SAAT KEMATIAN ITU KIAN DEKAT. KALAULAH SEMPAT…??? Renungan untuk kita semua….!!!

B.J. Habibie berpesan:
“Saya diberikan kenikmatan oleh Allah ilmu tekhnologi sehingga saya bisa membuat pesawat terbang, tetapi sekarang saya tahu bahwa ilmu agama itu lebih bermanfaat untuk umat.

Kalau saya disuruh memilih antara keduanya, maka saya akan memilih ilmu Agama.

Sepi penghuni…Istri saya sudah meninggal.  Tangan saya kini menggigil karena sudah lemah.

Penyakit menggerogoti saya sejak lama. Duduk tak enak, berjalan pun tak nyaman.
Untunglah ada seorag kerabat jauh yang mau tinggal bersama menemani saya beserta seorang pembantu.

Tiga anak, semuanya sukses. Berpendidikan tinggi sampai ke luar negeri.

Ada yang sekarang berkarir di luar negeri,
ada yang bekerja di perusahaan asing dengan posisi tinggi. Dan Ada pula yang jadi pengusaha.

Soal ekonomi, saya angkat 2 jempol. Semuanya kaya raya.

Namun, saat tua seperti ini saya “merasa hampa”, ada “pilu mendesak” di sudut hati.

Tidur tak nyaman, berjalan memandangi foto-foto masa lalu ketika masih perkasa dan enegik yang penuh kenangan.

Di rumah yang besar merasa kesepian, tiada suara anak, cucu, hanya detak jam dinding yang berbunyi teratur.

Punggung terasa sakit, sesekali air liur keluar dari mulut ini. Dari sudut mata ada air yang menetes.. rindu dikunjungi anak-anak.

Tapi semua anak sibuk dan tinggal jauh di kota, negara lain.

Ingin pergi ke tempat ibadah namun badan tak mampu berjalan. Sudah terlanjur melemah.

Begitu lama waktu ini bergerak, tatapan hampa, jiwa terasa kosong, hanya gelisah yang menyeruak sepanjang waktu.

Laki-laki renta itu, barangkali adalah saya, barangkali adalah Anda yang membaca tulisan ini suatu saat nanti.

Hanya menunggu sesuatu yang tak pasti…
yang pasti hanyalah KEMATIAN.

Rumah besar tak mampu lagi menyenangkan hatinya.

Anak sukses tak mampu lagi menyejukkan rumah mewahnya yang ber AC.

Cucu-cucu yang hanya seperti orang asing bila datang.

Aset-aset produktif yang terus menghasilkan, entah untuk siapa…?

Kira-kira, jika Malaikat datang menjemput, akan seperti apakah kematiannya nanti?

Siapa yang akan memandikan? Di mana akan dikuburkan?

Sempatkah anak kesayangan dan menjadi kebanggaannya datang mengurus jenazah dan menguburka?

Apa amal yang akan dibawa ke akhirat nanti? Rumah akan ditinggal, aset juga akan di tinggal pula.

Anak-anak entah apakah akan ingat berdoa utk kita atau tidak? Sedang ibadah mereka sendiri saja belum tentu dikerjakan?

Apalagi jika anak tak sempat dididik sesuai tuntunan agama. Ilmu agama hanya sebagai sisipan saja.

Kalaulah sempat menyumbang yang cukup berarti di tempat ibadah, Rumah Yatim, Panti Asuhan atau ke tempat-tempat di jalan Allah yang lainnya.

Kalaulah sempat dahulu membeli sayur dan melebihkan uang pada nenek tua yang selalu datang.

Kalaulah sempat memberikan sandal untuk disumbangkan ke tempat ibadah agar dipakai oleh orang yang memerlukan.

Kalaulah sempat membelikan buah buat tetangga, kenalan, kerabat, dan handai taulan.

Kalaulah kita tidak kikir Ikhlas kepada sesama, pasti itu semua akan menjadi “amal penolong”.

Kalaulah dahulu anak disiapkan menjadi “orang yang shalih”, dan “ilmu agamanya lebih diutamakan”.

Ibadah sedekahnya dibimbing atau diajarkan dan diperhatikan, maka mungkin senantiasa akan terbangun malam, meneteskan air mata mendoakan orangtuanya.

Kalaulah sempat membagi ilmu dengan ikhlas pada orang sehingga bermanfaat bagi sesama.

KALAULAH SEMPAT

Mengapa Kalaulah Sempat?
Mengapa itu semua tidak jadi perhatian utama kita?

Sungguh kita tidak adil pada diri sendiri. Kenapa kita tidak lebih serius menyiapkan “bekal” untuk menghadap-Nya dan nempertanggung-jawabkan kepada-Nya?

Jangan terbuai dengan kehidupan dunia yang bisa melalaikan.

Kita boleh saja giat berusaha di dunia, tapi jadikan itu untuk bekal kita pada perjalanan panjang dan kekal di akhir hidup kita.

Teruslah menjadi “Si Penabur Kebaikan” selama hayat masih dikandung badan meski hanya sepotong pesan.

Semoga bermanfaat.
Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie.

POINTERS:

1- Waktu akan terus berjalan, tanpa bisa kita hentikan. Rasulullah ﷺ mengingatkan:

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ
وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ
وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ
وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ
وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkanlah lima kesempatan sebelum datang lima waktu lain:

– Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu;

– Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu;

– Masa kayamu sebelum datang masa miskinmu;

– Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu;

– Masa hidupmu sebelum datang ajal kematianmu.

(Hadits Sahih Riwayah Al-Hakim).

2- Sahabat bernama Ghaanim Bin Qois RA menuturkan:

كنا نتواعظُ في أوَّل الإسلام : ابنَ آدم ، اعمل في فراغك قبل شُغلك ، وفي شبابك لكبرك ، وفي صحتك لمرضك ، وفي دنياك لآخرتك . وفي حياتك لموتك

“Di awal-awal Islam, kami juga saling menasehati:

“Wahai manusia, beramallah di waktu senggangmu sebelum datang waktu sibukmu, beramallah di waktu mudamu untuk masa tuamu, beramallah di kala sehatmu sebelum datang sakitmu, beramallah di Dunia untuk Akhiratmu,
dan beramallah ketika hidup sebelum datang kematianmu.”

3- Bekalilah anak-anak kita dengan didikan agama sejak dini. Biasakan juga anak-anak kita membaca Al-Quran sejak usia dini.

4- Kejarlah duniawi, tapi utamakan ukhrowi.

Mari kita berdoa, agar Allah SWT menganugerahkan kita kemudahan untuk selalu menjalankan apa-apa yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dan menjauhi apa-apa yang dilarang oleh Rasulullah ﷺ.

Dan Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk selalu eling mengingat Allah, bersyukur dan beribadah dengan sebaik-baiknya pada Allah SWT.

اللهم اعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here