Kisah Ahli Ibadah tapi Jadi Penghuni Neraka, Apa Sebabnya

Jakarta, Muslim Obsession - KH Yahya Zainul Ma'arif, yang akrab disapa Buya Yahya, Pengasuh Lembaga Pengembangan Da'wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah, mengingatkan para ahli ibadah untuk tidak bersikap sombong, merasa paling benar di hadapan Allah.
Dalam ceramahnya, Buya Yahya menyoroti sikap sebagian orang yang merasa dirinya ahli ibadah karena rutin melaksanakan tahajud dan puasa Senin-Kamis. Namun, beliau menekankan bahwa ibadah tersebut belum cukup jika hubungan dengan sesama manusia tidak baik.
"Bagaimana urusanmu dengan suamimu, wahai para istri? Urusanmu dengan istrimu, wahai para suami? Urusan dengan ayahmu, wahai anak? Urusan dengan anakmu, wahai ayah dan ibu?" tanya Buya Yahya dalam ceramah yang dikutip melalui kanal YouTube @albahjah-tv.
Buya menegaskan bahwa tidak cukup hanya dengan mengucapkan "Allahu Akbar" saja, tetapi juga harus memiliki akhlak yang baik kepada sesama manusia. Ada orang yang baik kepada Allah, tetapi tidak baik kepada manusia, orang seperti ini tidak dianggap baik.
Buya Yahya menceritakan kisah seorang perempuan yang banyak shalat dan puasanya, sehingga mengagumkan para sahabat Nabi. Namun, perempuan tersebut memiliki kebiasaan buruk, yaitu sering menyakiti tetangganya dengan perkataan yang menyakitkan.
Ketika mendengar hal tersebut, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa perempuan itu tidak ada kebaikannya dan termasuk ahli neraka. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah yang banyak tidak menjamin seseorang masuk surga jika masih menyakiti orang lain.
Buya Yahya menekankan bahwa ujian bagi orang yang merasa ahli ibadah adalah kecenderungan merasa sudah memiliki surga dan merendahkan orang lain.
Sikap seperti ini harus dihindari. Ia juga mengingatkan bahwa seorang laki-laki yang ahli ibadah kadang meremehkan istrinya, dan sebaliknya, seorang perempuan yang merasa sering hadir pengajian, tahajudnya banyak, dan puasanya banyak, kadang berbicara kasar kepada suaminya.
Berbicara kasar kepada tetangga saja bisa menjadi sebab masuk neraka, apalagi jika dilakukan kepada anggota keluarga di rumah. Oleh karena itu, penting bagi setiap hamba Allah untuk menjaga lisan dan sikapnya.
Buya Yahya mengajak umat Islam untuk tidak hanya fokus pada ibadah ritual, tetapi juga memperhatikan hubungan dengan sesama manusia. Akhlak yang baik harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Dia menegaskan bahwa ibadah yang diterima oleh Allah adalah ibadah yang disertai dengan akhlak mulia. Tanpa akhlak yang baik, ibadah seseorang bisa menjadi sia-sia.
Selain itu, Buya Yahya mengingatkan bahwa merasa diri lebih baik dari orang lain adalah bentuk kesombongan yang harus dihindari. Kesombongan dapat merusak amal ibadah yang telah dilakukan. Buya menekankan pentingnya introspeksi diri dan tidak mudah menilai orang lain.
Setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Buya Yahya juga mengingatkan bahwa lisan adalah salah satu sumber fitnah terbesar.
Oleh karena itu, menjaga lisan menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Kembali ia menegaskan bahwa orang yang mampu menjaga lisannya akan mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Sebaliknya, orang yang tidak bisa menjaga lisannya akan mendapatkan kerugian.
Buya Yahya mengajak umat Islam untuk selalu berusaha memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah serta akhlak. Hal ini penting untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Dapatkan update muslimobsession.com melalui whatsapp dengan mengikuti channel kami di Obsession Media Group
































