Melestarikan Budaya Lokal Desa Madani Kabupaten Gowa

Melestarikan Budaya Lokal Desa Madani Kabupaten Gowa
Bola Lompoa Ri Caile/Jadesta. (Sumber: gowapos)

Oleh: Drs. Muchlis Achmad (Ketua PD. Kabupaten Gowa)

Pendahuluan

Desa Madani adalah Desa Binaan Organisasi Massa Islam Persaudaraan Muslimin Indonesia (PARMUSI) yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Ketua Umum PP. PARMUSI. Tujuannya adalah “Mewujudkan masyarakat madani yang sejahtera lahir dan batin dalam kehidupan bangsa Indonesia yang diridhoi Allah Swt.”

Melestarikan budaya lokal Desa Madani merupakan faktor penting dalam kehidupan masyarakat baik untuk keberlanjutan hidup manusia maupun alam. Sedangkan “Budaya Lokal” yang dimaksud dalam artikel ini adalah bagian dari pilar sosial dari empat pilar Desa Madani, (Pilar Iman dan Takwa, pilar ekonomi, pilar pendidikan dan pilar sosial).

Pelestarian budaya lokal dilakukan untuk mempertahankan nilai seni budaya tradisional, serta melindungi warisan budaya dari kerusakan atau kemusnahan. Pelestarian budaya juga dimaksudkan untuk mengembangkan perwujudan budaya yang dinamis, luwes, dan efektif.

Prof. Dr. Syukur Abdullah seorang pakar administrasi negara dan ilmu-ilmu sosial dan budaya dalam bukunya Lontara’ Duri mengatakan: “Warisan Sejati adalah Membangun Manusia dan Alam, Menghubungkan Masa Lalu dan Masa Depan.”

Membangun manusia berbudaya memiliki perilaku mencintai alam, memelihara tradisi masa lalu yang berkelanjutan sampai ke masa depan. Firman Allah Swt. QS. An-Nahl ayat 123 yang artinya: “Kemudian kami wahyukan kepadamu (Muhammad) “Ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukan termasuk orang musyrik .”

Ini artinya Islam mewajibkan tetap menjaga tradisi dan melestarikan budaya yang sesuai dengan ajaran Islam.

Pelestarian budaya mencakup kegiatan yang cukup luas, terstruktur dan melibatkan banyak pihak dengan sasaran untuk menjaga nilai dan tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang. Karena itu, sebagai bentuk penghargaan terhadap leluhur, maka perlu kiranya dilakukan berbagai upaya untuk menjaga Desa Madani sebagai desa yang kaya akan budaya dan tradisi dan menjadi Desa Wisata Budaya yang menarik dan islami bagi wisatawan asing maupun domestik.

Potensi Budaya Lokal

Potensi Budaya Lokal di Desa Madani Kecamatan Tombolo Pao dapat dibagi ke dalam empat bagian yaitu:

Pertama, Rumah Adat Caile, yaitu rumah adat yang digunakan untuk pelantikan Raja Pao dan orang-orang yang dipercaya sebagai pelaksana pemerintahan. Rumah adat ini dibangun oleh Dampangia (Raja Pao) pada tahun 1468 atau pertengahan abad ke 15.

Beberapa referensi mengungkapkan bahwa nilai-nilai yang dikandung oleh rumah adat adalah sebagai salah satu warisan budaya yang menjadi “ikonik “bagi masyarakat Pao, memberikan pengaruh pada pola hidup masyarakat.

Nilai-nilai tersebut meliputi religi dan spiritual , niliai filosofis, nilai budaya dan seni serta nilai sosial kemasyarakatan. Implikasi rumah adat ini dapat pula mempersatukan masyarakat Tombolo Pao.

Kedua, “Arangangia Toceilea” adalah tradisi penangkapan ikan secara gotong royong di sungai Tangngara oleh komunitas adat Pattalassang. Tradisi ini biasanya dilaksanakan saat puncak kemarau pada setiap bulan September atau Oktober.

Selain Kesenian tradisional, Desa Pao juga memiliki daya tarik lain seperti : “Air Terjun Bantimurung Gallang.” Dan sanggar seni “Pa’rapunganta “Tombolo Pao di Desa Kanreapia.

Ketiga, Desa Madani Kecamatan Tombolo Pao memiliki kuliner khas yang cukup enak dinikmati antara lain : Baje, Dodoro’ & Tenteng Wijen, dan sayur mayur sebagai ole-ole yang bisa di bawa pulang oleh para pengunjung.

Keempat, dahulu kala rumah adat disamping terutama digunakan untuk upacara adat dalam rangka pelantikan Raja Pao beserta pembantu-pembantunya, juga pernah digunakan untuk “upacara syukuran” apabila masyaraakat Pao mendapat hasil panen yang melimpah dari usaha taninya.

Acara ini dilaksanakan minimal satu tahun sekali. Atau disesuaikan dengan keadaan apakah panen berhasil atau kurang berhasil. Apabila kurang berhasil maka masyarakat berdoa’a di rumah adat, memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar diturunkan rahmat berupa rezeki dan kemudahan dalam usaha serta dijauhkan dari bala bencana. 

Strategi Melestarikan Budaya Lokal

Strategi melestarikan budaya lokal dapat dilakukan melalui: pendidikan dan penelitian budaya, pengembangan program budaya dan kerja sama dengan pihak pemerintah dan swasta.

Pendidikan dan penelitan budaya, Alhamdulillah dengan adanya kebijakan pemerintah menetapkan Desa Wisata di berbagai daerah termasuk Desa Pao Kecamatan Tombolo, maka dengan sendirinya berdampak kepada perilaku masyarakat terutama sektor pendidikan dan penelitian. Hal ini terlihat dari banyaknya mahasiwa yang melakukan penelitian dan observasi budaya di Kecamatan Tombolo Pao.

Tidak cukup hanya pendidikan dan penelitian, tetapi langkah berikutnya harus dikembangkan program-program yang dapat memperkokoh budaya lokal misalnya dengan menjaga tradisi masyarakat lokal (kesenian dan adat istiadatnya).

Harus diakui bahwa dalam perkembangannya budaya lokal akan tergerus oleh masuknya budaya baru terlebih kerena Desa Madani Kecamatan Tombolo Pao berbatasan langsung dengan Pusat Wisata Malino.

Dalam kaitan ini “Da’i Desa Madani Parmusi” memiliki peran strategis dalam menangkal perusakan budaya lokal melalui Dakwah Ilallah di Masjid-masjid dan surau.

Nabi Saw. bersabda: “Apabila Allah memberi hidayah kepada seseorang melalui upayamu, itu lebih baik bagimu dari pada apa yang dijangkau matahari sejak terbit sampai terbenam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tidak kalah pentingnya adalah kolaborasi dengan pemerintah dan swasta terutama menyangkut kebijakan perlindungan budaya lokal, pelatihan ketrampilan dan promosi budaya.

Dampak Positif dari Melestarikan Budaya Lokal

Dampak positif dari upaya melestarikan budaya lokal adalah memperkuat keragaman budaya, meningkatkan kesadaran akan warisan nenek moyang, memperkuat industri pariwisata, serta dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Juga akan terjadi peningkatan eknomi masyarakat sebagai akibat banyaknya dan lamanya para pengunjung yang berkunjung dan tentunya banyak diantara mereka mengorek kantong untuk berbelanja menikmati kuliner maupun membeli ole-ole untuk dibawa pulang.

Penutup

Dalam mengembangkan budaya lokal tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri atau hanya masyarakat saja, tanpa berkolaborasi dengan pemerintah dan swasta. Kerja sama yang telah berjalan dalam bentuk Desa Wisata terus dikembangkan agar dapat memberi manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan masyarakat.

Demikian pula kerja sama dalam bentuk pelatihan ketrampilan membuat karya seni, pelatihan membuat aneka macam kuliner khas Tombolo Pao dan home industri, (souvenir dan makanan ringan).

Para Da’i Desa Madani Parmusi memiliki peran strategis dalam menangkal perusakan budaya lokal melalui Dakwah Ilallah di masjid-masjid, surau dan mushalla. Mengawal dan membimbing masyarakat untuk memelihara keaslian budaya lokalnya sepanjang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama Al-Qur’an dan Sunnah, (QS.An-Nahl ayat 123).

Untuk pengembangan ke masa depan, Desa Madani dapat memberi ruang bagi masuknya budaya baru sepanjang positif. Dengan cara seperti ini diharapkan dapat mendorong pengembangan budaya lokal, seni budaya tradisional, adat istiadat dan kuliner tradisional.

Inilah esensi Warisan Sejati sebagaimana di sampaikan Prof. Dr Syukur Abdullah yaitu “Membangun manusia dan alam, menghubungkan masa lalu dan masa depan.” Sehingga manusia dapat disebut sebagai manusia berbudaya dan berperadaban.

Wallahu’alam bissawab.

 



Dapatkan update muslimobsession.com melalui whatsapp dengan mengikuti channel kami di Obsession Media Group