Petinju Wanita Australia Kecam Prancis Usai Larang Atlet Wanita Berhijab di Olimpiade Paris
Prancis adalah satu-satunya negara di Eropa yang melarang wanita berhijab berpartisipasi di Olimpiade Paris

Jakarta, Muslim Obsession - Petinju muslim asal Australia Tina Rahimi mengecam Prancis karena melarang atlet negaranya mengenakan hijab selama Olimpiade Paris 2024 yang akan berlangsung pada 26 Juli mendatang.
Rahimi (28 tahun) adalah salah satu dari 12 petinju Australia yang lolos ke Paris. Rahimi sendiri adalah petinju berhijab. Dia keberatan dengan kebijakan Prancis yang atletnya mengenakan jilbab dengan alasan menegakkan prinsip sekularisme.
"Syukurlah saya masih dapat berpartisipasi dengan hijab saya, dan saya sangat bersyukur untuk itu. " tulis Rahimi dalam unggahan di media sosial miliknya.
"Namun, ini (keputusan Prancis) sangat disayangkan karena keputusan mereka tidak ada hubungannya dengan masalah performa . Hal ini seharusnya tidak menghalangi Anda untuk menjadi seorang atlet utuh.
Prancis adalah satu-satunya negara di Eropa yang melarang wanita berhijab berpartisipasi dalam sebagian besar kompetisi olahraga, termasuk untuk olahraga di dalam negeri mereka.
"Sangat sulit bagi Anda untuk menjadi atlet Olimpiade dan berpikir bahwa Anda harus mengorbankan keyakinan Anda. Saya percaya bahwa semua orang harus setara."
"Bagaimana jilbab saya akan memengaruhi? Setiap atlet berkeinginan pergi ke Olimpiade, dan semua yang ingin berhasil. Namun keputusan Prancis malah merenggut impian seseorang.
'"Saya mendukung semua gadis Prancis.... Sungguh, sangat disayangkan.'
Sebelumnya, kelompok Hak Asasi Amnesty Internasional juga menyatakan bahwa kebijakan Prancis tidak hanya melanggar pedoman Komite Olimpiade Internasional, tetapi juga ada perjanjian internasional yang mengikat yang juga harus dipatuhi Prancis.
Parlemen Prancis juga pernah melarang pesepakbola wanita mengenakan hijab. Menurut Amnesty International larangan tersebut telah mengakibatkan mental dan fisik atlet drop, juga membuat atlet perempuan merasakan 'penghinaan, trauma, dan ketakutan'.
Keputusan Prancis juga menarik perhatian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Meskipun PBB tidak secara langsung membahas larangan tersebut, juru bicara Hak Asasi PBB di Jenewa mengatakan menegur halus usai kebijakan tersebut dikeluarkan dengan menyatakan 'tidak seorang pun boleh memaksakan kepada seorang wanita apa yang harus ia kenakan atau tidak ia kenakan'.
Dapatkan update muslimobsession.com melalui whatsapp dengan mengikuti channel kami di Obsession Media Group
































