Tanya-Jawab: Bolehkah Mencium Tangan Guru?

Mencium tangan kedua orangtua sudah lazim di masyarakat. Tapi mencium tangan guru, sebagian ada yang menyoalnya.

Tanya-Jawab: Bolehkah Mencium Tangan Guru?
Mencium tangan guru, salah satu tradisi masyarakat. (Foto: NOJ)

Tanya:

Assalamu’alaikum, Ustadz. Saya mau bertanya soal kebolehan mencium tangan guru. Seingat saya, kalau mencium tangan bapak dan ibu sendiri kan sudah lazim, tapi mencium tangan guru, apakah dibolehkan? Karena ada yang mengatakan tidak boleh. Kira-kira, apa Batasan kebolehan mencium tangan guru? Terima kasih.

Jawab:

Wa’alaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh.

Imam Abu Zakariyah Yahya bin syaraf Nawawi Damaskus menjelaskan tentang mencium tangan.

 يُسْتَحَبُّ تَقْبِيلُ يَدِ الرَّجُلِ الصَّالِحِ وَالزَّاهِدِ وَالْعَالِمِ وَنَحْوِهِمْ مِنْ اَهْلِ الآخِرَةِ وَأَمَّا تَقْبِيلُ يَدِهِ لِغِنَاهُ وَدُنْيَاهُ وَشَوْكَتِهِ وَوَجَاهَتِهِ عِنْدَ أَهْلِ الدُّنْيَا بِالدُّنْيَا وَنَحْوِ ذَلِكَ فَمَكْرُوهٌ شَدِيدَ الْكَرَاهَةِ

“Disunahkan mencium tangan laki-laki yang shalih, zuhud, alim, dan yang semisalnya dari ahli akhirat. Sementara mencium tangan seseorang karena kekayaannya, kekuasaan dan kedudukannya di hadapan ahli dunia dan semisalnya, hukumnya adalah makruh dan sangat dibenci,” (Lihat Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, Kairo, Darul Hadits, 1431 H/2010 M, juz, VI, h. 27).

Syarat utama mencium tangan para ulama atau assatidz tersebut adalah sebagai berikut:

1. Seorang laki-laki yang shalih (menjalankan ibadah);

2. Seorang laki-laki yang zuhud (tidak rakus dunia);

3. Seorang laki-laki yang ‘alim (seorang ulama atau guru)

Jadi jika ketiga macam itu melekat di diri orang tersebut, bolehlah kita mencium tangannya.

Ada juga sebagian kecil ulama tasawuf mengatakan bahwa mencium mereka adalah dalam rangka tabaruk, mencari barakah.

Perlu dijelaskan tentang mencari barakah yang dimaksud adalah, ketika kita belajar atau mendengar fatwa-fatwa ulama tersebut yang menyentuh hingga bertambah ketakwaan kita, atau taziidukum fit taqwa (تزيدكم فى التقوى), bertambah takwamu kepada Allah.

Maka menciumnya adalah dalam rangka berterima kasih, dan mohon ikhlasnya dengan mencium punggung tangan sang guru, serta mohon ridhanya dengan mencium telapak tangannya, saat itulah turun barakah Allah kepada anda dan guru anda.

Demikian keterangan para ulama tasawuf dalam berbagai macam thariqah. Jadi, mencium tangan para ulama dalam rangka tabaruk ini hanya kepada para ulama yang kita sudah pernah mendengar wejangannya atau kita belajar bersama mereka.

Demikian, wallahu a’lam bish shawab.

 

***

Rubrik ini diasuh oleh Drs. H. Tb. Syamsuri Halim, M. Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender)

 

 



Dapatkan update muslimobsession.com melalui whatsapp dengan mengikuti channel kami di Obsession Media Group