Susahnya Jadi Islam di Negara Mayoritas Muslim Tajikistan yang Larang Pakai Hijab
Pemerintah Tajikistan sempat menggunakan kata "pelacur" untuk melabeli perempuan berhijab

Muslim Obsession, Jakarta - Belakangan ramai diberitakan tentang undang-undang baru Tajikistan yang melarang penggunaan hijab untuk perempuan. Sebagai negar dengan mayoritas Muslim di Asia, tentu hal ini menjadi sorotan. Apalagi hijab dilarang dipromosikan, dipakai dan dijual lantaran dianggap budaya asing.
Presiden Tajikistan Emomali Rahmon mengatakan larangan hijab ini untuk melindungi "budaya Tajik" dan mengurangi pengaruh agama di kalangan masyarakat. Padahal, baju adat Tajikistan penuh warna dan diadopsi dari gaya berpakaian bangsa Persia.
Selama menjadi presiden, Rahmon tampak berambisi menerapkan sekularisme di Tajikistan dengan dalih mengurangi ekstremisme. Anggapan ini tercermin dari sejumlah kebijakan yang diambil.
Beberapa tindakan itu misalnya mencukur jenggot dengan paksa, membatasi usia orang yang masuk masjid, melarang penggunaan hijab, dan menutup masjid besar-besaran. Di pemerintah dia, ribuan masjid juga ditutup dalam kurun waktu setahun. Beberapa tempat ibadah itu menjadi fasilitas Kesehatan dan ada pula yang menjelma jadi kedai teh.
Bagi warga yang tetap ngotot dan nekat berhijab dianggap melanggar undang-undang dengan ancaman dengan uang sebesar tiga lakh rupee India atau sekitar Rp58 juta rupiah.
Presiden Emomali Rahmon memerintah Tajikistan selama 30 tahun, sejak ia menjabat sebagai Presiden dengan populasi muslim 90 persen ini banyak berseberangan dengan partai politik berbasis agama.
Sejumlah pengamat menilai bahwa tindakan besar-besaran yang dilakukan presiden Tajikistan ini mungkin dilakukan setelah meningkatnya paham Islam sejak perpecahan Uni Soviet.
Islam Sunni sejauh ini merupakan agama yang paling banyak dianut di Tajikistan . Islam Sunni dari aliran Hanafi adalah tradisi agama yang diakui di Tajikistan sejak tahun 2009. Islam dibawa ke wilayah ini oleh orang-orang Arab pada abad ke-7. Sejak saat itu, Islam telah menjadi bagian integral dari budaya Tajik.
Warisan Era Soviet
Selama era Soviet, upaya untuk mensekularisasi masyarakat sebagian besar tidak berhasil dan pada era pasca-Soviet, praktik keagamaan meningkat secara signifikan.
Kerudung tradisional Tajikistan disebut faranji. Namun dikikis oleh pihak komunis Soviet dengan dalih memberi perempuan hak-hak sipil yang setara dengan laki-laki, seraya melarang penggunaan "pakaian yang menindas" seperti hijab.
Selama 7 dekade kekuasaan politik Soviet tidak mampu menghapuskan tradisi Islam. Kampanye anti-Islam Soviet yang paling keras terjadi pada akhir tahun 1920-an hingga akhir tahun 1930-an.
Pada periode ini, banyak pejabat Muslim dibunuh, dan pengajaran serta kegiatan keagamaan sangat dibatasi. Setelah serangan Jerman terhadap Uni Soviet pada tahun 1941, kebijakan pada Islam jadi lebih moderat.
Namun pada awal tahun 1960-an, ketika Soviet dipimpin Nikita Khrushchev propaganda anti-Islam kembali meningkat. Kremlin yang menyerukan upaya baru untuk memerangi agama, termasuk Islam.
Mereka mengubah fungsi masjid menjadi sekuler dengan dalih kembali adat istiadat tradisional. Islam hanya dikaitkan sebagai agama terbelakang yang percaya takhayul.
Islam Bukan Budaya Lokal
Di Tajikistan, wanita mengenakan kerudung yang menutupi seluruh wajah dan tubuh seperti Paranja dan Faranji dianggap Presiden Tajikistan bukanlah bagian dari budaya Tajik.
Pada bulan Oktober 2005, Kementerian Pendidikan Tajikistan melarang siswi mengenakan jilbab di sekolah. Bagi yang nekat pakai hijab serta simbol agama lainnya “tidak dapat diterima di sekolah sekuler dan melanggar konstitusi dan undang-undang pendidikan,” kata Menteri Pendidikan Abdudjabor Rahmonov.
Parahnya pemerintah Tajikistan sempat menggunakan kata "pelacur" untuk melabeli perempuan berhijab.
Pemerintah juga mengkritisi siswa yang terlalu banyak menghabiskan waktu di masjid sehingga mengorbankan pendidikan mereka. “Banyak yang menghabiskan malam hari di masjid dan tidak mengerjakan pekerjaan rumah mereka,” kata Rahmonov, seraya menambahkan bahwa selama bulan suci Ramadhan banyak yang tidak menghadiri kelas setelah salat Jumat.
Pemerintah Kendalikan Agama
Baru-baru ini, menurut laporan yang belum dikonfirmasi, pemerintah Tajik telah menutup ratusan masjid yang tidak terdaftar. Beberapa masjid telah dihancurkan, dan sebagian diubah menjadi salon kecantikan.
Perempuan dilarang masuk masjid. Pelajaran tentang keagamaan yang diajarkan di Masjid juga dikontrol oleh pemerintah.
Di Tajikistan, bagi mereka yang berusia di bawah 18 tahun dilarang salat Jumat di Masjid. Mereka juga melarang anak-anak memelihara janggut panjang.
Sejak 2011 tercatat sudah ada 1.500 masjid ditutup. Pemerintah juga melarang penggunaan pengeras suara untuk azan di Masjid.
Para Imam Masjid juga mendapat kontrol langsung dan termasuk isi khutbah harus disetujui oleh pemerintah. Durasi khutbah juga dibatasi 15 menit.
Pemerintah Tajikistan juga melarang Salafisme berkembang terutama penganut paham Wahabi. Upaya sekulerisasi makin masif setelah ratusan toko yang menjual pakaian islami ditutup.
Tercatat sudah ada 13 ribu pria yang janggutnya dicukur paksa oleh polisi. Pemakaian nama-nama dengan Bahasa Arab juga dilarang oleh parlemen Tajikistan sebagai bagian dari kampanye sekuler oleh Presiden Emomali Rahmon.
Selain Islam, kelompok agama lain seperti Yahudi dan Kristen juga dikontrol langsung pemerintah.
Bangunan-bangunan ibadah Yahudi, gereja Protestan, juga banyak dihancurkan, dan ditutup. Pemerintah Tajikistan memaksa komunitas agama untuk mendaftar ulang ke pemerintah untuk didata.
Kegiatan keagamaan, termasuk warga Tajik yang ingin studi agama di luar negeri juga harus tunduk pada kendali pemerintah Tajikistan.
Kelompok-kelompok Islamis yang ingin melawan juga langsung dihambat. Partai Renaisans Islam Tajikistan telah dilarang oleh pemerintah dan dicap sebagai organisasi teroris. (fan)
Dapatkan update muslimobsession.com melalui whatsapp dengan mengikuti channel kami di Obsession Media Group
































