Apakah Rasulullah Melihat Allah Saat Isra Miraj

Apakah Rasulullah Melihat Allah Saat Isra Miraj

Jakarta, Muslim Obsession - Peristiwa Isra Miraj adalah peristiwa sangat penting bagi umat islam. Isra’ adalah perjalanan malam dari Makkah menuju masjid al-Aqsa sedangkan Miraj adalah perjalanan dari masjid al-Aqsa menuju Sidratul Muntaha.

Perjalanan Isra’ Miraj adalah perjalanan yang agung di mana Rasulullah melihat secara langsung keadaan orang-orang yang disiksa di neraka serta keadaan orang-orang yang berada di surga. Selain itu, Rasulullah juga dipertemukan dengan para nabi terdahulu serta mendapatkan perintah sholat lima waktu.

Puncak Isra’ Miraj adalah pertemuan Rasulullah dengan Allah di Sidratul Muntaha. Lantas, apakah pertemuan ini berarti Rasulullah melihat Allah secara langsung tanpa perantara?

Dalam hal ini para sahabat nabi terbagi menjadi dua pendapat, yaitu:

Pertama, menurut sayyidah ‘Aisyah Rasulullah tidak melihat Allah di Sidratul Muntaha tetapi ia melihat malaikat Jibril. Hal ini dikuatkan dengan hadits:

عن مسروق قال دخلت على عائشة قلت هل رأى محمد ربه؟ فقالت لقد تكلمت بشيء قف له شعري قلت رويدا ثم قرأت لقد رأى من آيات ربه الكبرى قالت إنما هو جبريل

Artinya, “Diceritakan Masruq bahwa beliau mengatakan, ‘Aku masuk ke (rumah) Aisyah, aku bertanya 'Apakah Muhammad (pernah) melihat Tuhannya?’ Aisyah menjawab ‘Sungguh engkau menanyakan sesuatu yang membuat kulitku merinding.’ Aku (Masruq) mengatakan, ‘Tunggu sebentar.’ Kemudian aku (Masruq) membacakan ayat ‘Sungguh, dia (Muhammad) telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesarannya) Tuhannya yang paling besar,’ (Qs An-Najm ayat 18). Aisyah menjawab, ‘Sungguh dia (yang dilihat nabi Muhammad) adalah Jibril,’” (HR Turmudzi).

Pendapat kedua, menurut sahabat Ibnu Abbas Rasulullah melihat Allah secara langsung dengan hatinya. Hal ini dikuatkan dengan hadits:

عن ابن عباس في قوله ما كذب الفؤاد ما رأى قال رآه بقلبه
Artinya, “Diceritakan dari Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat ‘Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya,’ (Qs An-Najm ayat 11), beliau (Ibnu Abbas) mengatakan, ‘Ia (Muhammad) melihatnya (Allah) dengan hatinya,’” (HR Daruquthni).

Praktiknya adalah Allah menjadikan penglihatan nabi Muhammad di dalam hatinya atau Allah menciptakan hati dalam penglihatan Nabi Muhammad. Walhasil, Nabi Muhammad melihat Allah dengan hati dan penglihatannya adalah sesuai dengan firman Allah,

“Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya,” (Qs An-Najm ayat 11). Dan tidak mustahil bagi Allah menjadikan hati nabi Muhammad sebagai alat untuk melihat Allah sebagaimana Allah menciptakan penglihatan sebagai alat melihat bagi manusia pada umumnya. (Ar-Razi Fakhruddin, Mafatihul Ghaib [Beirut: Dar Ihya Turats, 2010 M], juz XXVIII, halaman 246).