4 Jenis Burung yang Disebutkan Al-Quran, No. 2 Bentuknya Cantik!

1. Burung Gagak Peradaban manusia yang dimulai dari Nabiyullah Adam ‘alahissalam memuat tragedi berdarah yang melibatkan Burung Gagak. Jenis burung yang umumnya dikenal berbulu serba hitam itu disebutkan Al-Quran, atas izin Allah Ta’ala, berperan memberikan contoh kepada Qabil bagaimana cara memakamkan seorang mayit. Ya, ketika itu, Qabil membunuh saudaranya, Habil, karena dendam dan marahnya. Kisah ini diceritakan Allah Ta’ala lewat QS. Al-Maidah ayat 31: فَبَعَثَ اللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِي الْأَرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْءَةَ أَخِيهِ ۚ قَالَ يَا وَيْلَتَا أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَٰذَا الْغُرَابِ فَأُوَارِيَ سَوْءَةَ أَخِي ۖ فَأَصْبَحَ مِنَ النَّادِمِينَ
“Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal”. SELANJUTNYA
2. Burung Hudhud Burung hud-hud termasuk jenis burung pemakan serangga, sejenis burung pelatuk. Ia merupakan burung yang cantik dengan paruh panjang, berjambul di kepalanya, berekor panjang, dan berbulu indah beraneka warna. Ia hidup dengan membuat sarang atau lubang pada pohon-pohon kayu yang telah mati dan lapuk. Jenis burung satu ini sangat terkenal. Hudhud masyhur lewat kisah Nabiyullah Sulaiman ‘alaihissalam dan Ratu Saba’, Balqis. Kisah Hudhud ini diulas cukup panjang di QS. An-Naml ayat 20-28. Kisah ini bermula ketika pada suatu saat, Nabi Sulaiman ‘alaihissalam memeriksa barisan pasukannya, termasuk barisan burung-burung. Namun, ia tidak menemukan Hudhud. وَتَفَقَّدَ الطَّيۡرَ فَقَالَ مَا لِىَ لَاۤ اَرَى الۡهُدۡهُدَ ۖ اَمۡ كَانَ مِنَ الۡغَآٮِٕبِيۡنَ - لَاُعَذِّبَـنَّهٗ عَذَابًا شَدِيۡدًا اَوۡ لَا۟اَذۡبَحَنَّهٗۤ اَوۡ لَيَاۡتِيَنِّىۡ بِسُلۡطٰنٍ مُّبِيۡنٍ - فَمَكَثَ غَيۡرَ بَعِيۡدٍ فَقَالَ اَحَطْتُّ بِمَا لَمۡ تُحِطۡ بِهٖ وَ جِئۡتُكَ مِنۡ سَبَاٍۢ بِنَبَاٍ يَّقِيۡنٍ - اِنِّىۡ وَجَدتُّ امۡرَاَةً تَمۡلِكُهُمۡ وَاُوۡتِيَتۡ مِنۡ كُلِّ شَىۡءٍ وَّلَهَا عَرۡشٌ عَظِيۡمٌ - وَجَدْتُّهَا وَقَوۡمَهَا يَسۡجُدُوۡنَ لِلشَّمۡسِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيۡطٰنُ اَعۡمَالَهُمۡ فَصَدَّهُمۡ عَنِ السَّبِيۡلِ فَهُمۡ لَا يَهۡتَدُوۡنَۙ - اَلَّا يَسۡجُدُوۡا لِلّٰهِ الَّذِىۡ يُخۡرِجُ الۡخَبۡءَ فِى السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ وَيَعۡلَمُ مَا تُخۡفُوۡنَ وَمَا تُعۡلِنُوۡنَ - اَللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ رَبُّ الۡعَرۡشِ الۡعَظِيۡمِ - قَالَ سَنَـنۡظُرُ اَصَدَقۡتَ اَمۡ كُنۡتَ مِنَ الۡكٰذِبِيۡنَ - اِذۡهَبْ بِّكِتٰبِىۡ هٰذَا فَاَلۡقِهۡ اِلَيۡهِمۡ ثُمَّ تَوَلَّ عَنۡهُمۡ فَانْظُرۡ مَاذَا يَرۡجِعُوۡنَ
“Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata, "Mengapa aku tidak melihat Hudhud, apakah ia termasuk yang tidak hadir? (20). Pasti akan kuhukum ia dengan hukuman yang berat atau kusembelih ia, kecuali jika ia datang kepadaku dengan alasan yang jelas (21). Maka tidak lama kemudian (datanglah Hudhud), lalu ia berkata, "Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui. Aku datang kepadamu dari negeri Saba' membawa suatu berita yang meyakinkan (22). Sungguh, kudapati ada seorang perempuan yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta memiliki singgasana yang besar (23). Aku (burung Hud) dapati dia dan kaumnya menyembah matahari, bukan kepada Allah;dan setan telah menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan (buruk) mereka, sehingga menghalangi mereka dari jalan (Allah), maka mereka tidak mendapat petunjuk (24). mereka (juga) tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan yang kamu nyatakan (25). Allah, tidak ada tuhan melainkan Dia, Tuhan yang mempunyai ‘Arsy yang agung’ (26). Dia (Sulaiman) berkata, "Akan kami lihat, apa kamu benar, atau termasuk yang berdusta (27). Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan (28)”. SELANJUTNYA
3. Burung Salwa Salah satu nikmat yang Allah Ta’ala karuniakan kepada Bangsa Israil adalah Manna dan Salwa. Secara etimologi, Manna bermakna 'karunia' dan Salwa bermakna 'penawar hati'. Dengan dua karunia ini, Bangsa Israil disebutkan tidak pernah kelaparan meski di tengah padang pasir. Mereka pun tak pernah dijangkiti penyakit karena dua jenis makanan tersebut juga memiliki kandungan layaknya obat. Manfaat yang dikandung Manna dan Salwa sangat banyak dan bahkan di era Rasulullah, kedua jenis makanan ini termasuk dalam thibbun nabawi. Manna merupakan makanan yang rasanya amat lezat nan manis layaknya madu. Warnanya pun putih cantik layaknya salju. Makanan ini sangat mudah ditemui Bangsa Israil. Sementara Salwa adalah sejenis burung puyuh yang datang berbondong-bondong silih berganti sampai-sampai hampir menutupi bumi lantaran banyaknya. Dagingnya lezat, empuk, dan gurih serta mudah ditangkap. Dua karunia tersebut termaktub beberapa kali dalam Al-Quran, antara lain di QS Al-Baqarah [2]: 57, QS. Al-A’raf [7]: 160, dan QS. Thaha [20]: 80. وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ وَأَنْزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَىٰ ۖ كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ۖ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
“Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu "manna" dan "salwa". Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu;dan tidaklah mereka menganiaya Kami;akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri,” (QS Al-Baqarah [2]: 60).وَقَطَّعْنَٰهُمُ ٱثْنَتَىْ عَشْرَةَ أَسْبَاطًا أُمَمًا ۚ وَأَوْحَيْنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ إِذِ ٱسْتَسْقَىٰهُ قَوْمُهُۥٓ أَنِ ٱضْرِب بِّعَصَاكَ ٱلْحَجَرَ ۖ فَٱنۢبَجَسَتْ مِنْهُ ٱثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا ۖ قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْ ۚ وَظَلَّلْنَا عَلَيْهِمُ ٱلْغَمَٰمَ وَأَنزَلْنَا عَلَيْهِمُ ٱلْمَنَّ وَٱلسَّلْوَىٰ ۖ كُلُوا۟ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقْنَٰكُمْ ۚ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَٰكِن كَانُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
“Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu!". Maka memancarlah dari padanya duabelas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan awan di atas mereka dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa. (Kami berfirman): "Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu". Mereka tidak menganiaya Kami, tapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri,” (QS. Al-A’raf [7]: 160).يَٰبَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ قَدْ أَنجَيْنَٰكُم مِّنْ عَدُوِّكُمْ وَوَٰعَدْنَٰكُمْ جَانِبَ ٱلطُّورِ ٱلْأَيْمَنَ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكُمُ ٱلْمَنَّ وَٱلسَّلْوَىٰ
“Hai Bani Israil, sesungguhnya Kami telah menyelamatkan kamu sekalian dari musuhmu, dan Kami telah mengadakan perjanjian dengan kamu sekalian (untuk munajat) di sebelah kanan gunung itu dan Kami telah menurunkan kepada kamu sekalian manna dan salwa,” (QS. Thaha [20]: 80). SELANJUTNYA
4. Burung Ababil Burung Ababil memiliki peran penting dalam sejarah Islam. Disebutkan bahwa Burung Ababil merupakan pasukan langit yang diturunkan Allah Ta’ala untuk membinasakan bala tantara Raja Abrahah yang hendak menghancurkan Ka’bah. Allah Ta’ala menurunkan burung-burung Ababil yang membawa batu-batu panas dari tanah yang terbakar untuk dilemparkan kepada Raja Abrahah dan pasukannya. Alhasil, Raja Abrahah dan pasukannya mati mengenaskan dan digambarkan seperti dedaunan yang dimakan ulat. Kisah ini termaktub dalam QS. Al-Fiil ayat 1-5: اَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِاَصۡحٰبِ الۡفِيۡلِؕ - اَلَمۡ يَجۡعَلۡ كَيۡدَهُمۡ فِىۡ تَضۡلِيۡلٍۙ - وَّاَرۡسَلَ عَلَيۡهِمۡ طَيۡرًا اَبَابِيۡلَۙ - تَرۡمِيۡهِمۡ بِحِجَارَةٍ مِّنۡ سِجِّيۡلٍ - فَجَعَلَهُمۡ كَعَصۡفٍ مَّاۡكُوۡلٍ
"Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak melawan tentara bergajah? (1). Apakah dia telah membuat tipu daya mereka (untuk menghancurkan Kakbah) itu sia-sia? (2), dan Dia mengirimkan kepada mereka burung (Ababil) yang berbondong-bondong (3), Yang dilempar mereka dengan batu (dikirim) dari tanah yang dibakar (4), lalu Dia membuat mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat (5),” (QS. Al-Fiil: 1-5). Wallahu a’lam bish shawab.Dapatkan update muslimobsession.com melalui whatsapp dengan mengikuti channel kami di Obsession Media Group
































