Setahun Mualaf, Sarjana Kristen ini Mampu Khatamkan Terjemahan Al-Quran

Muslim Obsession – Parlin Sugianto Panjaitan beruntung pernah mendulang ilmu di sebuah perguruan tinggi Kristen Advent. Dari sini ia belajar banyak tentang kekristenan yang sangat padat. Tak heran jika ia pun cukup memahami isi kandungan Alkitab. Lebih dari itu, lelaki kelahiran 48 tahun silam ini juga belajar tentang perbandingan agama, dimana Al-Quran sebagai kitab suci umat Islam menjadi salah satu yang dipelajarinya. Sejak kecil hingga remaja, iman Kristen Parlin sangat terjaga. Menjadi aktivis gereja dan memiliki budi pekerti yang baik. Rajin ibadah, tak mudah marah, senang menolong orang lain, mudah memaafkan orang dan tidak pernah berpikiran negatif kepada orang lain. Dan pada saat kuliah, keimanan Parlin makin meninggi. Parlin tak hanya rajin beribadah setiap Sabtu, ia juga terbiasa bangun setiap pagi. Pukul 4.30 pagi, Parlin sudah memegang gitar untuk mendendangkan lagu-lagu pujian. “Saat itu saya merasa sebagai orang yang sangat dekat dengan Tuhan. Setengah lima itu saat teduh untuk baca Alkitab, baca puji-pujian, main gitar, puji Tuhan begitu,” ungkapnya kepada Muslim Obsession beberapa waktu lalu. Kendati demikian, Parlin tak lantas berbangga diri. Pasalnya, ia kemudian tahu jika orang Islam justru terbiasa bangun lebih pagi dari dirinya. Mereka bangun pukul empat pagi untuk mendirikan Shalat Subuh. Tidak cuma sekali, bahkan orang Islam beribadah lima kali dalam sehari. Kekaguman Parlin berlanjut ketika mengetahui ada sebagian orang Islam yang bangun lalu berjalan dari rumahnya menembus gelapnya dini hari menuju masjid dan mushalla. Lebih kagum lagi ketika tahu bahwa ternyata ada yang bangun lebih pagi lagi. Mereka adalah orang-orang yang sengaja bangun untuk mendirikan Shalat Tahajud. Menurutnya, itu merupakan hal luar biasa, karena mereka lebih mementingkan Tuhan dibandingkan kebutuhan duniawinya. Semasa kuliah, ada banyak pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya seiring ia semakin mengetahui isi Alkitab. Misalnya, ia menemukan perbedaan mendasar antara Kristen dan Islam. “Dalam Islam, secara tegas disebutkan bahwa Allah adalah Allah, rasul ya rasul. Kok kalau di Nasrani saya pikir-pikir kenapa ada tiga Tuhan? Kok rasul dipanggil Tuhan?” ujar Parlin. Kendati banyak kejanggalan ditemuinya, namun Parlin tetap memegang teguh imannya sebagai seorang Kristiani. Bahkan, ia pun mengajak seorang perempuan Muslimah memeluk agama Kristen setelah dipersuntingnya menjadi istri. Meski berasal dari Sumatra Barat yang dikenal taat memegang syariat Islam, diakui Parlin, istrinya bukanlah Muslimah yang taat. Sejak kecil tinggal di ibu kota, Islam hanya tertera sebagai identitas istrinya di Kartu Tanda Penduduk (KTP) saja. Berawal dari Istri dan Anak Pada akhirnya, jalan kehidupan Parlin berubah ketika usia pernikahannya menginjak 10 tahun. Perubahan terjadi ketika sang istri mengutarakan maksudnya untuk kembali menjadi Muslimah. “Dia bilang kepada saya kalau merasa tidak tenang, tidak nyaman. Intinya tidak cocok kalau beribadah ke gereja. Dia merasa hatinya kosong,” kisah Parlin. Setelah itu, lama kelamaan istri Parlin pun tidak mau ikut beribadah ke gereja. Apalagi istri Parlin cukup aktif di lingkungan di mana mereka tinggal, dimana ibu-ibu yang menjadi teman-teman istri Parlin semuanya beragama Islam. Melihat tekad bulat istrinya, Parlin yang sejak awal tidak antipasti terhadap Islam, akhirnya mengizinkan. Ia minta istrinya untuk belajar kembali tentang Islam secara tekun, belajar membaca Al-Quran dan shalat. Dua tahun berselang, giliran dua anak Parlin yang merajuk untuk masuk Islam. Calisa yang masih duduk di kelas IX dan Cecilia di kelas VIII meminta persetujuan Parlin untuk ikut agama ibunya. Saat itu Parlin marah karena mengira istrinya yang mengajak dan menghasut dua anak mereka untuk masuk Islam. Namun, setelah ditanya langsung kepada Calisa dan Cecilia, Parlin memahami bahwa permintaan untuk masuk Islam berasal dari keinginan keduanya. “Alasannya, mereka senang melihat teman-temannya di sekolah shalat bareng dan pakai jilbab,” terang Parlin. Parlin pasrah. Seperti yang dinasihatkan kepada istrinya, Parlin juga mewanti-wanti Calisa dan Cecilia untuk tidak main-main dalam menjalankan agama Islam. Ia minta keduanya belajar mengaji dan shalat. “Alhamdulillah, teman-teman dan tetangga mendukung dengan sangat luar biasa. Malahan mereka seperti berlomba-lomba mengajati anak-anak saya mengaji,” sambung Parlin. Setahun berlalu. Calisa dan Cecilia tampak semakin tekun shalat. Bahkan Calisa sudah pandai membaca Al-Quran. Ikrar Syahadat di Darussalam “Pah, mau enggak belajar agama Islam?” tanya sang istri tiba-tiba kepada Parlin. Parlin yang memang pada dasarnya tak alergi dengan ajaran Islam, langsung mengiyakan. Lagi pula, pikirnya, ia hanya akan belajar Islam bukan menjadi seorang Muslim. “Oke, carikan gurunya,” jawab Parlin. Akhirnya, Parlin pun dikenalkan dengan seorang ustadz yang juga merupakan suami dari guru mengaji istrinya. Setelah bertemu 3 kali, ustadz itu mengarahkan Parlin untuk belajar ke Masjid Darussalam Kota Wisata Cibubur. Ustadz itu yakin pengetahuan tentang Alkitab yang dikuasai Parlin akan bisa diimbangi dengan keilmuan para ustadz di Masjid Darussalam. Dan, benar saja. Di Masjid Darussalam, Parlin bertemu dan bisa belajar dengan ustadz-ustadz yang memiliki keilmuan luas, baik tentang keislaman maupun kekristenan. Terlebih lagi di Masjid Darussalam ada juga ustadz yang sebelumnya beragama Katholik. “Setelah saya belajar, saya semakin berpikir tentang benarnya agama Islam. Inilah agama yang lurus. Sebenarnya saya dulu juga pernah kepikiran bahwa kalau ada orang Islam yang tidak lebih baik dari saya, berarti orangnya yang nggak benar. Karena menurut saya, orang Islam itu harusnya lebih baik dari saya,” jelasnya. Setelah mengikuti tiga kali kajian, Parlin pun memutuskan untuk mengucapkan Dua Kalimat Syahadat. Tepatnya pada Hari Jumat, 5 April 2019, Parlin meneguhkan hati untuk menjadi seorang Muslim di Masjid Darussalam Kota Wisata Cibubur. Setelah masuk Islam, Parlin merasa lebih dekat sama Allah dan merasa lebih yakin dalam menjalani hidup. “Setelah syahadat ini langsung saya bilang ke Allah. Ya Allah, saya mau jaga shalat saya, terus saya mau bisa baca Al-Quran, walaupun saat ini masih terjemahannya,” kata Parlin. Dan alhamdulillah, setelah setahun jadi mualaf, Parlin sudah mengkhatamkan terjemahan Al-Quran. Tahun ini ia mengulangnya kembali dari awal. Setiap selesai Shalat Subuh ia baca terjemahan Al-Quran. Dari interaksinya dengan Al-Quran ini Parlin semakin kagum pada kitab suci tersebut. Tidak satupun ditemukan ayat yang membuatnya ragu, bahkan ia menemukan penjelasan lebih detail lagi isinya daripada Alkitab. Misalkan, jika di Alkitab di kitab Taurat terdapat perintah untuk menghomati orangtua, di Al-Quran terdapat penjelasan lebih detail, dimana mengucapkan kata “ah” saja kepada orangtua merupakan dosa. “Alhamdulillah saya merasa lebih kagum. Saya merasa iman saya memang sudah lurus. Kalau saya dulu beragama yang baik dan benar, tapi setelah menjadi muslim, saya merasa ini adalah jalan kebenaran, lurus, dan dirahmati Allah. Kenapa lurus? Karena hanya Islam yang menyebutkan Tuhan ya Tuhan, Allah ya Allah, Rasul ya Rasul. Itu yang saya tahu. Tidak ada Allah Bapak, Allah Anak, Roh Kudus, atau Tuhan Yesus. Tidak ada itu. Saat ini saya semakin senang dan yakin,” tandasnya. (Fath)
Dapatkan update muslimobsession.com melalui whatsapp dengan mengikuti channel kami di Obsession Media Group
































