Kisah Kasman Singodimejo dan Terhapusnya Piagam Jakarta

Kisah Kasman Singodimejo dan Terhapusnya Piagam Jakarta
Oleh: Syafrudin Anhar – Ketua PP Parmusi “…Negara Republik Indonesia, yang berkedaulatan rakyat, dengan berdasarkan kepada:Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya…” Kalau ada tokoh umat Islam yang paling bersedih dengan kisah dihapuskannya Piagam Jakarta pada 18 Agustus 1945, maka Kasman Singodimedjo-lah orangnya. Betapa tidak, Kasman merasa terpukul dan bersalah, karena dirinyalah yang melobi Ki Bagus Hadikusumo, pimpinan Muhammadiyah saat itu, agar menerima dihapuskannya “tujuh kata dalam Piagam Jakarta.” Ki Bagus adalah satu-satunya tokoh yang saat itu begitu teguh pendirian agar klausul tentang “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dalam Piagam Jakarta itu tidak dihapuskan. Lobi yang berlangsung sengit tak juga meluluhkan pendirian Ki Bagus Hadikusumo. Lobi-lobi dan bujukan dari utusan Soekarno Teuku Muhammad Hassan dan tokoh sekaliber KH A Wahid Hasyim pun tak mampu mengubah pendiriannya. Di sinilah peran Kasman Singodimejo yang sesama orang Muhammadiyah, melakukan pendekatan secara personal pada Ki Bagus. Dalam memoirnya yang berjudul Hidup Adalah Perjuangan, Kasman menceritakan aksinya melobi Ki Bagus. Dengan bahasa Jawa yang sangat halus, ia mengatakan kepada Ki Bagus, “Kiai, kemarin proklamasi kemerdekaan Indonesia telah terjadi. Hari ini harus cepat-cepat ditetapkan Undang-Undang Dasar sebagai dasar kita bernegara, dan masih harus ditetapkan siapa presiden dan lain sebagainya untuk melancarkan perputaran roda pemerintahan. Kalau bangsa Indonesia, terutama pemimpin-pemimpinnya cekcok, lantas bagaimana?! Kiai, sekarang ini bangsa Indonesia kejepit di antara yang tongol-tongol dan yang tingil-tingil. Yang tongol-tongol ialah balatentara Dai Nippon yang masih berada di bumi Indonesia dengan persenjataan modern. Adapun yang tingil-tingil (yang mau masuk kembali ke Indonesia, pen) adalah sekutu termasuk di dalamnya Belanda, yaitu dengan persenjataan yang modern juga. Jika kita cekcok, kita pasti akan konyol. Kiai, di dalam rancangan Undang-undang Dasar yang sedang kita musyawarahkan hari ini tercantum satu pasal yang menyatakan bahwa 6 bulan lagi nanti kita dapat adakan Majelis Permusyawaratan Rakyat, justru untuk membuat Undang-Undang Dasar yang sempurna. Rancangan yang sekarang ini adalah rancangan Undang-undang Dasar darurat. Belum ada waktu untuk membikin yang sempurna atau memuaskan semua pihak, apalagi di dalam kondisi kejepit! Kiai, tidakkah bijaksanaan jikalau kita sekarang sebagai umat Islam yang mayoritas ini sementara mengalah, yakni menghapus tujuh kata termaksud demi kemenangan cita-cita kita bersama, yakni tercapainya Indonesia Merdeka sebagai negara yang berdaulat, adil, makmur, tenang tenteram, diridhai Allah SWT.” Kepada Ki Bagus, Kasman juga menjelaskan perubahan yang diusulkan oleh Hatta, bahwa kata ”Ketuhanan” ditambah dengan ”Ketuhanan Yang Maha Esa.” KH A Wahid Hasyim dan Teuku Muhammad Hassan yang ikut dalam lobi itu menganggap Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Allah SWT, bukan yang lainnya. Kasman menjelaskan, Ketuhanan Yang Maha Esa menentukan arti Ketuhanan dalam Pancasila. ”Sekali lagi bukan Ketuhanan sembarang Ketuhanan, tetapi yang dikenal Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa,” kata Kasman meyakinkan Ki Bagus. Gedung Konstituante Kasman juga menjelaskan kepada Ki Bagus soal janji Soekarno yang mengatakan bahwa enam bulan lagi akan ada sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk membuat undang-undang yang sempurna. Di sanalah nanti kelompok Islam bisa kembali mengajukan gagasan-gagasan Islam. Soekarno ketika itu mengatakan, bahwa perubahan ini adalah Undang-undang Dasar sementara, Undang-undang Dasar kilat. “Nanti kalau kita telah bernegara di dalam suasana yang lebih tenteram, kita tentu akan mengumpulkan kembali Majelis Permusyawaratan Rakyat yang dapat membuat Undang-Undang yang lebih lengkap dan sempurna,” kata Soekarno. Para tokoh yang ikut melobi Ki Bagus, terdiam dengan hati dan pikiran yang terus bertanya tanya dan agak khawatir jika Ki Bagus akan tetap pada pendiriannya. Lama mereka menunggu. Pak Kasman kembali memecah keheningan. "Bagaimana kiyai?" Tanya Pak Kasman. "Jika demikian pandangan dan penjelasan bapak-bapak, dan juga diikat dengan janji bapak pemimpin revolusi, paduka Ir. Soekarno," Sambil menarik nafas yang cukup panjang, Ki Bagus meneruskan, "Saya setuju tujuh kata itu dihapus, demi keutuhan proklamasi indonesia yang masih bayi ini". Terhenti sejenak, kemudian Ki Bagus melanjutkan, "Ini janji yo. Pak Kasman, Pak. Kiyai Hasyim, Pak Teuku Hassan,". "Ngeh pak Kiyai". Langsung dijawab serentak pak kasman dan kiyai hasyim. Dengan penyataan persetujuan ki bagus itu, para tokoh bersyukur. Indonesia tetap utuh menjadi negara merdeka. Sekelumit sejarah ini. Mudah mudahan memberi keyakinan pada kita bahwa kemerdekaan indonesia yang utuh dan menjadi NKRI sampai sekarang adalah pengorbanan para tokoh dan pendakwah Islam pada zamannya. Waallahu A'lam bish Shawab

Dapatkan update muslimobsession.com melalui whatsapp dengan mengikuti channel kami di Obsession Media Group