Setiap Kita Adalah Pemimpin

Setiap Kita Adalah Pemimpin
Oleh: Dr. KH. Husnan Bey Fananie, MA (Dubes Indonesia untuk Azerbaijan) Setiap kita adalah pemimpin. Begitu yang diajarkan ayah saya sejak kecil. Ajaran itu pula yang saya terima waktu mondok di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo. Karena setiap orang adalah pemimpin, maka dirinya akan mempertanggung-jawabkan setiap apa yang dilakukannya. Itu saja garis besarnya. Tentang hal ini, Allah ‘Azza wa Jalla mengabarkan dalam firman-Nya, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di muka bumi itu seorang khalifah.” Mereka berkata: “Apakah Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kalian ketahui,” (QS. Al-Baqarah [2]: 132). Manusia diciptakan untuk menjadi khalifatu fil ardh. Secara harfiah, menurut Prof. Dr. Quraish Shihab dalam catatannya, “Membumikan Al-Quran”, khalifah memiliki makna “pengganti”. Artinya, seorang khalifah merupakan sosok pengganti yang diberikan mandat oleh Sang Pemberi Mandat. Maka dalam hal ini, saya memahami makna khalifatu fil ardh pada ayat di atas adalah bahwa manusia diberikan mandat untuk mengatur urusan di bumi ini sesuai hukum yang ditetapkannya. Jika berfungsi sebagai pengatur, maka manusia itu memiliki tanggung jawab yang besar kepada pemberi mandat, yakni Allah ‘Azza wa Jalla. Seorang khalifah juga berarti seorang pemimpin. Ia memiliki ilmu dan pengetahuan untuk menciptakan perbuatan. Ia diberikan kebebasan dalam memilih apapun yang dikehendakinya. Namun, tentu saja kehendak yang disesuaikan dengan kehendak Sang Maha Pengatur, berupa hukum-hukum-Nya yang telah diinformasikan melalui Nabi Muhammad Saw. Kita adalah pemimpin untuk diri kita sendiri. Minimal, kita bertanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan. Selebihnya, kita akan dimintai pertanggungjawaban sesuai dengan status dan fungsi kita di dunia ini. Seorang kepala keluarga akan dimintai pertanggungjawaban atas anggota keluarganya. Terlebih lagi seorang kepala negara yang di dunia ini bertanggung jawab terhadap keberlangsungan hidup sebuah bangsa dan negara. Hal ini juga ditekankan Rasulullah Saw. dalam sebuah haditsnya, “Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang penguasa adalah pemimpin bagi rakyatnya dan bertanggung jawab atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atasnya. Seorang hamba sahaya adalah penjaga harga tuannya dan dia bertanggung jawab atasnya,” (HR Bukhari). Namun masalahnya, kadang kita tidak sadar jika diri kita memikul beban yang begitu berat. Beban yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Cobalah tengok sekeliling kita. Misalnya, sebagai kepala keluarga, sudahkah kita bertanggungjawab penuh terhadap kesejahteraan isteri dan anak-anak? Sudahkah kita memberikan secuil perhatian terhadap kelangsungan pendidikan anakanak? Ataukah kita bersikap acuh, cuek, dan lebih mementingkan diri sendiri sehingga menelantarkan mereka? Apapun profesi kita saat ini, sejatinya, Allah ‘Azza wa Jalla akan memintakan pertanggungjawaban dari semua amanah yang telah Dia embankan kepada hambaNya. Tidak ada yang dibiarkan olehNya kecuali setiap kita akan ‘diberondong’ dengan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dan saat itu tak ada satu makhluk pun yang bisa untuk berdusta. Memimpin diri sendiri tidaklah lebih mudah daripada memimpin orang lain. Hal ini sering disebabkan oleh ketidakjelasan dan ketidaktegasan aturan diri yang kita buat. Terlebih bila kita membuat suatu pelanggaran, hanya kita sendirilah yang tahu. Dengan demikian, komitmen diri yang kita bangun semakin lama akan luntur dan kabur sehingga tanpa sadar kita justru menjerumuskan diri kita sendiri. Sepintar atau sepiawai apapun seseorang menjadi pemimpin, ia pasti memiliki banyak kelemahan dan kekurangan. Ia tetap membutuhkan kehadiran orang lain sebagai fungsi kontrol atau bahkan sebagai pemimpin kita yang lebih tinggi karena memang tak ada satu manusia pun yang sempurna, masing-masing mempunyai kekurangan dan kelebihan. Menjadi pemimpin tak semudah yang dibayangkan orang, iaharus siap lahir dan batin. Bukan saja siap secara intelektual, namun siap pula moralitasnya. Seorang pemimpin sejatinya merupakan sosok figur yang didambakan masyarakat atau pengikutnya atau bawahannya, karena itu setiap langkah dan perilakunya harusnya menjadi teladan dan patut diteladani. Seorang pemimpin adalah seorang yang memiliki kemampuan di atas pengikutnya, bawahannya atau masyarakat pada umumnya. Idelanya, seorang pemimpin harusmemiliki kelebihan atau nilai positif dibandingkan dengan yang lainnya dan menjadi teladan bagi yang dipimpinnya. Kriteria Pemimpin Memiliki pemimpin yang dapat diteladani, tentu saja tidak mudah. Meski demikian, memiliki pemimpin yang dapat diteladani merupakan sebuah keharusan agar masyarakat yang dipimpinnya memiliki acuan dalam berkehidupan. Memang tak sembarang orang bisa menjadi pemimpin. Ini karena selain tanggung jawab yang berat di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla kelak, pemimpin juga haruslah mempunyai sifat-sifat terpuji yang bisa dijadikan panutan bagi yang dipimpinnya. Para pakar telah lama menelusuri Al-Quran dan Hadits dan menyimpulkan minimal ada empat kriteria yang harus dimiliki oleh seseorang sebagai syarat untuk menjadi pemimpin. Semuanya terkumpul di dalam empat sifat yang dimiliki oleh para nabi/rasul sebagai pemimpin umatnya, yaitu: Pertama adalah Shidq, yaitu kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap, dan bertindak di dalam melaksanakan tugasnya. Lawannya adalah bohong. Kedua adalah Amanah, yaitu kepercayaan yang menjadikan dia memelihara dan menjaga sebaik-baiknya apa yang diamanahkan kepadanya, baik dari orang-orang yang dipimpinnya, terlebih lagi dari Allah swt. Lawannya adalah khianat. Kriteria ketiga adalah Tabligh, yaitu penyampaian secara jujur dan bertanggung jawab atas segala tindakan yang diambilnya (akuntabilitas dan transparansi). Lawannya adalah menutup-nutupi (kekurangan) dan melindungi (kesalahan);dan kriteria yang keempat adalah Fathonah, yaitu kecerdasan, cakap, dan handal yang melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoalan yang muncul. Lawannya adalah bodoh. Jika menelusuri Al-Quran, kita juga dapat menjumpai beberapa ayat yang berhubungan dengan sifat-sifat pokok yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, di antaranya terdapat dalam surat As-Sajdah: 24 dan Al-Anbiya: 73. Sifat-sifat dimaksud adalah: Pertama, kesabaran dan ketabahan. Kesabaran dan ketabahan dijadikan pertimbangan dalam mengangkat seorang pemimpin. Sifat ini merupakan syarat pokok yang harus ada dalam diri seorang pemimpin. Sedangkan yang lain adalah sifat-sifat yang lahir kemudian akibat adanya sifat (kesabaran) tersebut. Perhatikan firman Allah dalam QS. As-Sajdah: 24, “Kami jadikan mereka pemimpin ketika mereka sabar/tabah”. Kedua, mampu menunjukkan jalan kebahagiaan kepada umatnya sesuai dengan petunjuk Allah ‘Azza wa Jalla. Seorang pemimpin dituntut tidak hanya menunjukkan tetapi mengantar rakyat ke pintu gerbang kebahagiaan. Atau dengan kata lain tidak sekadar mengucapkan dan menganjurkan, tetapi hendaknya mampu mempraktikkan pada diri pribadi kemudian mensosialisasikannya di tengah masyarakat. Pemimpin sejati harus mempunyai kepekaan yang tinggi (sense of crisis), yaitu apabila rakyat menderita dia yang pertama sekali merasakan pedihnya dan apabila rakyat sejahtera cukup dia yang terakhir sekali menikmatinya. Lihatlah QS. Al-Anbiya [21]:73 yang berbunyi: “Mereka memberi petunjuk dengan perintah Kami”. Ketiga, telah membudaya pada diri mereka Kebajikan. Hal ini dapat tercapai (mengantarkan umat kepada kebahagiaan) apabila kebajikan telah mendarah daging dalam diri para pemimpin yang timbul dari keyakinan ilahiyah dan akidah yang mantap tertanam di dalam dada mereka. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam QS. Al-Anbiya:73, “Dan Kami wahyukan kepada mereka (pemimpin) untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan menegakkan sholat serta menunaikan zakat”. Di era modern ini, tampaknya para pemimpin harus memiliki kriteria spesifik yang sejalan dengan kondisi saat ini. Selain sejumlah kriteria di atas, ada empat syarat lain untuk menjadi pemimpin: Pertama, memiliki aqidah yang benar (‘aqidah salimah). Kedua, memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas (`ilmun wasi`un). Ketiga, memiliki akhlak yang mulia (akhlaqulkarimah). Dan keempat, memiliki kecakapan manajerial dan administratif dalam mengatur urusan-urusan duniawi. Demikian beberapa kriteria pemimpin yang diharapkan mampu menjadi tolok ukur keberhasilan sebuah masyarakat. Jika semua kriteria itu ada dalam diri seorang pemimpin, insya Allah negeri ini akan menjadi Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur atau Gemah Ripah Loh Jinawi. Penjara pun tidak akan penuh oleh para pemimpin rakyat yang dijebloskan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena menggerogoti uang rakyat. Di sisi lain, para pemimpin akan malu jika melakukan sebuah kesalahan, meskipun kecil, karena ada Allah ‘Azza wa Jalla yang selalu mengawasinya. Kita semua adalah pemimpin. Maka kita pun seyogianya harus berhati-hati dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Kita harus selalu ingat bahwa ada ancaman Allah untuk mereka yang ‘gagal’ dalam mengemban amanah dari-Nya, baik sebagai pemimpin pemerintahan, suami, istri, majikan, pembantu, atau status lainnya. Ancaman Allah itu, tentu saja lebih mengerikan dibandingkan ancaman hukuman di Indonesia yang seringkali tebang pilih. Sekali lagi, setiap kita adalah pemimpin. Maka waktunya akan tiba, suka atau tidak suka, kita akan duduk dibangku ‘pesakitan’ di hari akhirat dan semua yang pernah dilakukan di dunia ini akan ditanyakan secara detail, tak ada sedikitpun yang terlewat. Ada ancaman dan ada janji indah yang telah disiapkan, dan semua keputusan ada dalam genggaman-Nya. Wallahu A’lam bish Shawab. (**)

Dapatkan update muslimobsession.com melalui whatsapp dengan mengikuti channel kami di Obsession Media Group