Toba Tenun Berdayakan Perempuan untuk Lestarikan Kain Ulos Tradisional Batak

62

Muslim Obsession – Kerri Na Basaria, Founder dan CEO PT. Toba Tenun Sejahtra meyakinkan bahwa Toba Tenun selalu lebih dari sekadar perusahaan.

Kurang lebih sudah empat tahun sejak 2018, perjalanan Toba Tenun dimulai dengan pengabdian sejati dan keinginan sederhana, yakni melestarikan kain ulos tradisional Batak.

“Kami bertujuan untuk membangkitkan jiwa wirausaha sesama pembuat ulos di desa-desa adat di Sumatera Utara dengan sejumlah pendidikan dan pelatihan tentang revitalisasi ulos dari teknik dan motif yang hampir punah,” tuturnya dalam Webinar UMKM Summit 2022 yang diselenggarakan oleh Obsession Media Grup (OMG) dengan tema “UMKM Outlook 2023 (Pasca Covid-19) dan Peluang 2023”, Sabtu (26/11/2022).

Dengan metode alami ramah lingkungan, Toba Tenun mempraktikkan program perdagangan yang adil dengan sesama pengrajin dan pemasok tenun.

Tidak hanya itu, Toba Tenun hadir demi membantu masyarakat berkembang melalui kegiatan sosial dan pemberdayaan perempuan.

“Kami berjuang untuk kesetaraan dan menciptakan peluang bagi perempuan melalui program perdagangan adil komunitas kami. Meningkatkan standar kesejahteraan sesama pengrajin di desa pembuat ulos tradisional di kawasan Danau Toba,” urainya.

Toba Tenun membantu komunitas penenun tradisional setempat dengan menginisiasi rumah pelatihan Jabu Bonang sebagai tempat belajar dan mendidik bagi mereka yang kurang memiliki kesempatan. Meningkatkan kesejahteraan sosial dan keuangan keluarga penenun.

Kain ulos bukan lagi menjadi pelengkap sehari-hari atau ritual adat maupun suatu komoditas untuk diperjualbelikan. Namun lebih dari itu, kain ulos terus mendominasi perekonomian nasional di mana perempuan menjadi mayoritas dari pelaku UMKM tersebut.

“Dalam ranah kerajinan tenun pun yang termasuk dalam kategori UMKM, perempuan menjadi penggerak tersendiri. Meski masih minimnya pengetahuan tentang usaha dan literasi keuangan pengrajin,” bebernya.

Untuk itu, Toba Tenun menyediakan perempuan kesempatan mendorong kemandirian ekonomi dan literasi keuangan melalui program softskill di mana kaum perempuan sering tertinggal atau secara aktif tidak diikutkan dalam pengetahuan.

Toba Tenun percaya adanya transfer teknologi yang diperlukan antara pengrajin untuk memastikan keberlanjutan program-program sosial tersebut.

“Sebesar 10% dari hasil penjualan kami melalui brand ritel ditujukan untuk kebutuhan rumah komunitas,” tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here