Tjahjo Kumolo Ingin Meninggal Dalam Tugas

72

Jakarta, Muslim Obsession – Kabar duka kembali menyelimuti Indonesia, pasalnya salah satu putra terbaik bangsa, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Indonesia (Menpan RB) Tjahjo Kumolo melepas usia, Jumat (1/7/2022).

Pria kelahiran Surakarta, 1 Desember 1957 tersebut dalam suatu kesempatan pernah menuturkan bahwa ia ingin meninggal dalam tugas.

Hal tersebut Tjahjo ungkapan saat menjadi Menteri Dalam Negeri pada Kabinet Kerja. Kala itu, usai menutup acara Musyawarah Adat Batak yang digelar di tepi Danau Toba, Bupati Tapanuli Utara Nison Nababan mengajak Tjahjo untuk makan sore.

Di sebuah rumah makan, Tjahjo menuturkan banyak hal kepada Nikson dan para pewarta. Salah satunya, ia sangat ingin meninggal saat menjalankan tugas. Entah meninggal di perjalanan atau ketika sedang tugas berkunjung ke daerah.

Sikapnya yang ramah, begitu membekas di benak para pewarta Kementerian Dalam Negeri, bahkan mereka menuangkan kisahnya bersama Tjahjo dalam buku berjudul “Kisah dari Merdeka Utara”.

Meski berkutat dalam persoalan politik dan pemerintahan yang cenderung terkesan serius, tak berarti Tjahjo merupakan figur yang serius. Ada ruang dan sisi, ia bisa menjadi dirinya sendiri yang cuek, familiar, serta memiliki hobi yang jauh dari hobinya kebanyakan para pejabat.

Salah satu hobi Tjahjo adalah makan. Menu makanan yang paling digemarinya adalah sop kambing dan nasi kebuli. Lantaran hobinya itu, jarang sekali ia mau menyantap hidangan yang sudah disediakan oleh pemerintah provinsi atau kabupaten ketika tengah berkunjung ke daerah.

Tjahjo lebih memilih mencari sendiri rumah atau tempat makan di setiap kunjungannya. Dan menariknya, tak selalu harus restoran besar. Ia bahkan kerap makan di pinggir jalan. Yang penting, tempat makannya memang terkenal di daerah tersebut.

Misalnya, saat melakukan Sidak ke kantor Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kota Batam pada Februari 2015 lalu, Tjahjo ditemani Wakil Gubernur Kepulauan Riau, meluncur ke sebuah tempat. Bukan ke sebuah restoran kelas wahid di kota itu. Ia malah masuk ke sebuah ruko kecil yang hanya terdapat beberapa baris meja dan kipas angin. Menunya, kebanyakan ikan dan ayam goreng.

Tjahjo cuek saja menyantap makanannya. Padahal udara cukup pengap dan lumayan panas. Apalagi di dalam ruangan yang sempit. Ia beberapa kali menyeka wajahnya yang berkeringat dengan tisu.

Kisah lain, saat Tjahjo berkunjung ke Surabaya, ia tiba-tiba berhenti di sebuah warung bakso sederhana di pinggir jalan. Dan, santai menyantap baso meski berdesak-desakan dengan pembeli lain.

Golf adalah olahraga kaum berduit atau orang terkenal. Biasanya yang gemar main golf itu pengusaha atau pejabat. Tapi ternyata, ada pejabat negara yang seumur hidupnya tak pernah main golf. Salah satunya, Tjahjo.

Hal itu diakuinya saat mengundang para wartawan makan di sebuah rumah makan di Jatinangor, Sumedang di sela kunjungan kerja di IPDN.

Tjahjo mengaku, pernah suatu ketika, awal-awal menjabat Menteri Dalam Negeri, ia mendapat undangan untuk membuka turnamen golf. Sontak ia kaget. Sebab seumur hidupnya ia belum pernah mengayunkan stick golf. Bahkan, ia buta sama sekali tentang olahraga mahal itu. Istilahnya pun tak tahu. Undangan itu pun ditolaknya.

Kejadian menarik lainnya soal golf terjadi saat ia menginap di hotel yang bersisian dengan lapangan golf. Tiba-tiba pengelola hotel menghampiri. Ia ternyata sudah disiapkan seperangkat alat main golf. Pengelola hotel menyangkanya ia gemar main golf. Ia pun menolak tawaran main golf dari pengelola hotel.

“Bagi saya golf adalah olahraga mahal. Lebih baik uangnya buat kuliner saja, buat beli sop kambing atau nasi padang. Lebih mengenyangkan,” ujar Tjahjo ketika itu.

Salah satu kebiasaan Tjahjo yang disukai para wartawan adalah mentraktir makan. Setiap meliput kunjungan kerja keluar daerah, pasti Tjahjo akan mengajak makan atau ngopi.

Ia tak segan untuk duduk satu meja dengan para kuli tinta. Begitu pun saat usai menghadiri acara di Jakarta, hobi mentraktir wartawan juga sering dilakukan, bisa di mana saja. Di warung kopi pinggir jalan pun jadi.

Kedekatannya dengan para perwarta memang tak disangsikan lagi, ia bahkan bersedia ikut masuk sebagai anggota group BBM yang dibentuk oleh inisiatif para kuli tinta yang biasa meliput Kemendagri.

Lewat layanan blackberry messenger, para kuli tinta saling berbagi informasi, bahkan sekadar ngobrol ngalor ngidul di grup tersebut. Kian ramai pembicaraan, karena Tjahjo kerap ikut nimbrung.

Ia juga pernah membagikan doa yang selama ini selalu ia lafadz-kan: “Allah atau Tuhan: Bersamaku, membimbingku, menolongku. Ya Allah, Tuhanku, aku yakin dapat sukses sehat berkat bimbingan dan pertolongan-Mu. Ya Allah, Tuhanku aku yakin dapat sukses dan sehat berkat bimbingan dan pertolonganMu -Amin,” tutur Tjahjo dalam pesannya.

Katanya doa ini untuk semua. Bagi yang beragama Islam diakhiri baca Al Fatihah. Bagi agama lain menyesuaikan. “Insya Allah pasti berhasil apa yang kita inginkan,” katanya.

Selain lihai meracik strategi politik, Tjahjo pintar memetik gitar. Bahkan, dalam sebuah perbincangan santai dengan wartawan, ia pernah mengungkapkan jika dirinya punya seperangkat alat musik band. Ia juga memiliki hobi mengkoleksi barang-barang yang antic, seperti keris yang berusia ratusan tahun, batu akik dan mulia.

Tjahjo mungkin salah satu menteri yang agak unik di jajaran Kabinet Kerja Jokowi-Jusuf Kalla. Ia jarang sekali pakai mobil dinas menteri. Ia lebih sering pakai mobil Toyota Innova miliknya.

Sejak pertama jadi Mendagri, mobil dinasnya Toyota Camry Royal Saloon jarang dipakainya. Ada sebuah pemandangan menarik ketika ia menghadiri acara Musyawarah Nasional Asosiasi Pemerintahan Provinsi seluruh Indonesia (APPSI) di Makassar, Sulawesi Selatan. Deretan mobil yang dipakai para gubernur, semua mobil mewah.

Kebanyakan membawa Alphard. Tapi diantara deretan mobil mewah itu terselip mobil Toyota Innova dengan plat nomor RI-20. Itulah mobil yang dipakai Tjahjo. (Gia)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here