Ta’liful Quluub untuk Wihdatul Ummah

702

Dari semua itu satu hal yang mutlak disadari adalah bahwa yang dituntut pertama kali dalam upaya “iikhaa” dan “wihdah” itu adalah “ta’liful quluub”. Menjinakkan “hati-hati” kita sehingga tidak liar dan buas terhadap sesama.

Jika hati telah terjinakkan (muallafah) maka akan terjalin “kasih sayang” (ruhamaa baenahum) di antara sesama. Dan kalau ini terjadi maka perbedaan apapun yang ada akan dilalui (overlooked) bahkan dianggap “rahmah” atau jalan kebaikan yang Allah berikan kepada umat ini dalam menjalankan misi besarnya.

Tantangan terbesar untuk menjinakkan hati-hati (quluub) ini adalah kecenderungan membangun pralaku “diktatorship” dalam kehidupan kita. Termasuk di dalamnya kediktatoran berpikir dan opini.

Akibatnya otak dipertajam untuk mengalahkan mereka yang dianggap lawan (beda pendapat). Dan dalam prosesnya hati mengalami kebekuan. Bahkan yang tragis hati boleh saja teracuni oleh “keangkuhan”. Termasuk di dalamnya keangkuhan “perasaan” paling beragama.

Karenanya, masanya umat ini menyadari urgensi “ta’liful quluub” di atas kemenangan “pemikiran dan penafsiran” (opini). Hanya dengan itu “ukhuwah wa wihdatul ummah” akan tetap terjaga. Be smart! (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here