Subsidi Pupuk Kimia Berkurang, Ini Saatnya Petani Mengolah Bahan Organik

183

Oleh: Anding Sukiman (Ketua PW Parmusi Jawa Tengah)

Masyarakat Kabupaten Tuban pada musim tanam tahun 2022 ini hampir pasti akan mengalami kekurangan pupuk kimia bersubsidi karena pemerintah kembali mengurangi subsidi pupuk.

Sekretaris Jenderal Kementan Kasdi Subagyono mengatakan, kelangkaan pupuk bersubsidi bisa terjadi karena distribusi. Tapi karena jumlahnya kurang maka akan menyebabkan kelangkaan pupuk.

“Di tengah naiknya kebutuhan pupuk bersubsidi, kita semua menyadari bahwa apa yang menjadi isu publik, sering dinarasikan sebagai kelangkaan, padahal kenyataannya jumlahnya kurang,” kata Kasdi dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi IV DPR, Kamis (3/2/2022).

Kejadian kelangkaan pupuk pada masyarakat petani Tuban juga pernah terjadi pada tahun 2020 lalu, bahkan akibat kelangkaan pupuk kimia bersubsidi ini masyarakat perani Tuban melakukan demo ke Kantor Dinas Pertanian dan melalukan penghadangan truk pengakut pupuk yang melintas.

BACA JUGA: Mendulang Emas Hitam Senilai Rp.1,5 Triliun di Blora

Padahal berdasarkan penjelasan Sekjen Kementerian Pertanian Kasdi Subagiyono jelas akan terjadi kelangkaan atau lebih tepatnya kekurangan pupuk.

Subsidi pupuk yang teralokasi pada APBN dari tahun- ketahun mengalami penurunan, misalnya pada tahun 2019 Kementerian Pertanian (Kementan) mengalokasikan pupuk bersubsidi sebanyak 9,55 juta ton dengan anggaran sebesar Rp 34.30 triliun.

Subsidi pupuk pada tahun 2020 subsidi pupuk dialokasikan sebesar Rp.26.627,4 Milyart untuk belanja pupuk sebanyak 7,95 juta ton, karena terjadi gejolak ditengah masyarakat akhirnya tahun 2020 alokasi subsidi pupuk dinaikan menjadi Rp.34,23 Triliun.

Pada tahun 2021 pemerintah hanya mampu mengalokasikan subsidi pupuk sebesar Rp.25 triliun atau sekitar 8 juta s/d 9 juta ton. Dan pada tahun 2022 ini pemerintah hanya mampu mengalokasikan subsidi pupuk sebesar Rp.25,3 triliun atau mengalami penurunan 13 % disbanding pada tahun anggaran tahun 2019.

BACA JUGA: Gas Ozzon Mampu Bersihkan Residu Pestisida pada Sayuran Hingga 95%

Dari alokasi anggaran tahun 2022 ini maka seperti dikatakan oleh kementerian pertanian bahwa pada tahun 2022 tidak terjadi kelangkaan pupuk karena yang terjadi adalah kekuarangan pupuk kimia bersubsidi.

Berharap adanya tambahan subsidi pupuk pada tahun 2022 ini tentu sangat berat mengingat deficit APBN tahun 2022 saja mencapai Rp.868 triliun atau 4,85 % defisit APBN ini mengalami kenaikan disbanding APBN tahun 2021 yang mencapai 783,7 triliun atau 4,65 %.

Karena itu langkah paling tepat bagi para petani di Kabupaten Tuban adalah mengolah sumberdaya yang ada untuk menjadi pupuk organik kerena ketersediaan bahan pupuk organik yang sangat besar.

Meskipun sangat dimungkinkan akan terjadi kelangkaan pupuk akibat pengurangi subisid pada tahun 2022 ini, seharusnya masyarakat petani di kabupaten Tuban tidak perlu gelisah dan risau karena di kabupaten Tuban ini terdapat kotoran dan urine sapi dan kambing yang dapat diolah menjadi pupuk dan urine juga bisa menjadi pestisida guna mengusir tikus dan walang sangit.

BACA JUGA: Cegah Hipotiroidisme pada Anak, Parmusi Jateng Dirikan Pusat Pembelajaran Ozzonisasi Pertanian

Populasi sapi di Kabupaten Tuban pada tahun 2020 mencapai 350.000 ekor, tiap hari sekor sapi buang urine masing-masing sebanyak 30 liter berarti dari populasi sapi yang ada jumlah urine sapi akan mencapai 10.500.000 liter urine.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Phrimantoro 1995, urine sapi mengandung unsur hara nitrogen 1,00 %, phosphor 0,5 % dan kalium 01,5 %.

Artinya dalam urine sapi 10.500.000 liter/hari ini terdapat kandungan pupuk unsur N (urea) cair sebanyak 1/100 x 10.500.000 = 105.000 liter pupuk Urea cair dalam satu tahun akan mencapai 37.800.000 liter ini akan mencukupi kebutuhan pupuk unsur N pada lahan seluas 205.434 Ha.

Disamping buang urine sebanyak 350.000 ekor sapi di kabupaten Tuban juga buang kotoran /feses sebanyak 15 kg/hari/ekor atau dalam sehari akan mencapai 5.250.000 kg dalam satu tahun akan mencapai 1.890.000.000 kg atau 189.000 ton, jika tiap satu Ha sawah membutuhkan pupuk 10 ton maka mampu mencukupi kebutuhan sawah seluas 18.900 Ha.

Ini belum kotoran dan urin kambing 137.615 ekor domba 93.318 ekor, ayam kampung 1.584.907 ekor, ayam petelor 561.625 ekor ayam daging 14.041.890 ekor, kotoran hewan ternak baik sapi, kambing, ayam petelor dan ayam potong serta ayam kampung tentu baru berupa bahan dan harus diolah menjadi pupuk organic pada dan juga cair.

BACA JUGA: Residu Kimia pada Produk Pertanian Jadi Penyebab Stunting Anak Indonesia

Dan sangat diyakini bahwa kotoran dan urine sapi dari populasi ternak milik masyarakat Tuban sudah lebih dari cukup untuk pupuk tanaman pertanian, namun semua potensi ini belum digarap secara optimal.

Pada sisi lain pemekaian pupuk kimia dan juga pestisida kimia dikalangan petani saat ini harus dikurangi demi kesehatan masyarakat dan mengembalikan kesuburan tanah.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini dari Fakultas Pertanian dan Peternakan UMM bahwa ibarat orang sakit tanah-tanah pertanian kita saat ini harus sudah masuk ke iccu karena kondisi sangat parah.

Bahkan menurut Prof. Indah pestisida meskipun sudah 40 tahun tidak dipakai ternyata residunya masihditemukan pada susu sapi. Hal ini dapat diketahui melalui penelitian baha terdapat susu sapi yang masih mengandung residu DDT (Dichloro Diphenyl Trichloroethane) padahal ini sangat berbahaya.

Pestisida DDT ini sudah dilarang sejak tahun 1985 namun pengganti DDT ternyata juga sangat berbahaya yaitu organofac bahan yang sangat efektif untuk membunuh serangga dan dampaknya bagi kehidupan manusia sangat berat.

BACA JUGA: Kembangkan Ekonomi Berbasis Masjid, Parmusi Jateng Gelar Workshop Hulu-Hilir Pertanian

Penelitian terhadap dampak kesehatan akibat pemakaian pestisida di kabupaten Tuban yang dilakukan oleh Aditya Pawitra ( Unair 2012 ) menunjukan adanya meningkatan masyarakat petani yang keracunan akibat pemakaian pestisida Data di Kabupaten Tuban, keracunan berat 0% , keracunan sedang 16%, keracunan ringan 30% dan normal 54%.

“Sudah saatnya petani Tuban mengurangi pupuk kimia dan bahkan beralih ke pupuk organik yang diolah dari kandang sapi, kambing dan ayam. Kami siap mendampingi para petani di Kabupaten Tuban bahkan termasuk kabupaten Lamongan dan Bojonegoro,” kata Junaidi salah satu aktivis penggiat pertanian organik.

Kesediaan Junaidi ini juga didukung oleh asriningsih, S. Ag, M. Rafi dan Arief yang sama-sama aktif dalam gerakan kandang bersih. Satu gerakan yang akan mengajak seluruh masyarakat untuk mengolah urine sapid an kambing menjadi pupuk cair dan pestisida biourine untuk mengusir tikus.

Kelompok ini juga berharap semua kotoran hewan ternak sapi, kambing, ayam pedaging, ayam petelor dan ayam kampung menjadi pupuk kompos, sehingga kandang-kandang jadi bersih dan juga mengatasi pupuk.

“ Saya berharap para Takmir se Kabupaten Tuban bisa menggerakan jama’ah masjidnya untuk menciptakan lingkungan bersih dan membangun ketersediaan pupuk,” kata sarjana agama yang hafal Quran dari kecamatan Parengan Kabupaten Tuban ini. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here