Sosok Uskup Belo, Peraih Nobel Perdamaian Diduga Terlibat Pelecehan Seksual

175

Jakarta, Muslim Obsession – Carlos Filipe Ximenes Belo atau yang dikenal sebagai Uskup Belo dari Timor Leste tengah menjadi sorotan publik. Ia diduga terlibat dalam pelecehan seksual anak-anak, padahal ia pernah meraih nobel perdamaian. Lantas siapa sebenarnya sosok Uskup Belo?

Sosok Uskup Belo bukan hanya pemimpin gereja Katolik Roma Timor-Leste, tetapi juga pahlawan nasional dan harapan bagi rakyatnya.

Pada 1996, Belo menerima Hadiah Nobel Perdamaian, bersama dengan aktivis dan diplomat José Ramos-Horta, presiden Timor-Leste saat ini. Uskup Belo dan Ramos-Horta dianugerahi Nobel Perdamaian atas upaya mereka meraih solusi yang adil dan damai atas konflik di Timor Timur.

Uskup Belo lahir pada 3 Februari 1948 di Wailacama, Timor Leste. Dia dibesarkan dalam keluarga petani dan mulai tertarik pada pertanyaan agama sejak usia dini. Kemudian dia ditahbiskan menjadi imam Katolik pada 1981.

Tak lama setelah terpilih sebagai kepala gereja Katolik di Timor Timur pada 1983, Carlos Belo secara terbuka mengecam invasi Indonesia ke Timor Leste.

Uskup Belo mendapatkan pengawasan bahkan diintimidasi saat berjuang. Namun, dia tidak mundur dan terus berbicara untuk perlawanan tanpa kekerasan terhadap penindasan.

Pada 1989 ia menuntut agar PBB mengatur plebisit di Timor Timur. Setelah pembantaian berdarah dua tahun kemudian, ia membantu menyelundupkan dua saksi ke Jenewa, di mana mereka menggambarkan pelanggaran tersebut kepada Komisi Hak Asasi Manusia PBB.

Perjuangan Belo mendapat simpati Paus di Roma, yang ditunjukkan dengan mengunjungi Timor Timur pada akhir 1980-an.

Tiba-tiba Belo mengundurkan diri sebagai kepala gereja. Paus membebaskannya dari tugasnya pada 26 November 2002.

Peraih Hadiah Nobel Perdamaian mengatakan dia menderita ‘kelelahan fisik dan mental.’ Pada Januari 2003, Belo meninggalkan Timor-Leste, secara resmi untuk memulihkan diri di Portugal.

Setelah berbicara dengan prefek Kongregasi Evangelisasi Bangsa-bangsa dan rektor mayor kongregasi Salesian, dia memilih posisi baru, katanya dalam sebuah wawancara dengan agen Katolik UCA News. Pada Juni 2004 ia menjadi ‘asisten imam’ di Maputo, Mozambik.

Terlibat Pelecehan Seksual

Namun dibalik nama besarnya itu, ia kini tengah diterpa isu miring. Dua korban yang merupakan seorang anak membuka pengalaman masa alunya kepada media Belanda De Groene Amsterdammer pekan ini.

Majalah mingguan Belanda De Groene Amsterdammer menerbitkan laporan investigasi yang mengungkap dugaan pelecehan seksual Belo terhadap beberapa anak laki-laki di kediamannya di Dili dan tempat-tempat lain pada periode 1980-an dan 1990-an. Liputan investigasi itu dimulai pada 2002.

Berdasarkan investigasi De Groene Amsterdammer, jumlah korban diduga lebih banyak lagi. De Groene berbicara dengan 20 orang yang mengetahui kasus ini seperti pejabat tinggi, pejabat pemerintah, politisi, pekerja LSM, orang-orang dari gereja dan profesional.

Lebih dari separuh dari mereka secara pribadi mengenal seorang korban, sementara yang lain tahu tentang kasus tersebut dan sebagian besar membahasnya di tempat kerja. De Groene juga berbicara dengan korban lain yang tidak mau menceritakan kisah mereka di media.

Vatikan merespons laporan majalah Belanda mengenai pelecehan seksual yang diduga dilakukan oleh Carlos Felipe Ximenes Belo atau Uskup Belo dari Timor Leste.

Ketika ditanya tentang laporan tersebut, Juru Bicara Vatikan Matteo Bruni, seperti dikutip Kyodo News, Kamis, 29 September 2022, mengatakan bahwa dia mengetahui laporan itu dan akan “memeriksa informasinya.”

Sejauh ini belum ada tanggapan dari Uskup Belo. Uskup Belo sempat mengangkat telepon De Groene, tetapi kemudian segera menutupnya. Tempo sudah meminta keterangan kepada Kantor Kedutaan Besar Timor Leste di Jakarta mengenai masalah ini, tetapi belum ada tanggapan. (Al)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here