Sering Dilakukan Saat Merayakan Maulid Nabi, Apa itu Mahalul Qiyam?

2257
Mahalul Qiyam, kondisi dimana jamaah membaca shalawat bersama-sama dengan berdiri sebagai bentuk penghormatan dan ta’zhim kepada Rasulullah ﷺ.

Muslim Obsession – Saat pembacaan kitab-kitab rawi seperti Ad-Dhiba’i, Al-Barzanji, Simtuddhurar, Adh-Dhiya’ullaami’ dan yang lainnya, ada kondisi dimana jamaah berdiri pada bagian mahalul qiyam.

Pada kondisi ini jamaah membaca shalawat bersama-sama dengan berdiri sebagai bentuk penghormatan dan ta’zhim kepada Rasulullah ﷺ, seperti yang dicontohkan para ulama terdahulu.

Sayid Bakri bin Sayid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi dalam I‘anatut Thalibin menerangkan sebagai berikut:

“Sudah menjadi tradisi bahwa ketika mendengar kelahiran Nabi Muhammad ﷺ disebut-sebut, orang-orang akan berdiri sebagai bentuk penghormatan bagi rasul akhir zaman. Berdiri seperti itu didasarkan pada istihsan (anggapan baik) sebagai bentuk penghormatan bagi Rasulullah ﷺ. Hal ini dilakukan banyak ulama terkemuka panutan umat Islam.

BACA JUGA: Abdul Mu’ti: Kitab Al Barzanji dan Maulid Nabi Bawa Kemenangan Islam di Al-Aqsha

Al-Halabi dalam Sirah-nya mengutip sejumlah ulama yang menceritakan bahwa ketika majelis Imam As-Subki dihadiri para ulama di zamannya, Imam As-Subki membaca syair pujian untuk Rasulullah ﷺ dengan suara lantang,

‘Sedikit pujian untuk Rasulullah oleh tinta emas//di atas mata uang dibanding goresan indah di buku-buku orang-orang mulia terkemuka bangkit saat mendengar namanya//berdiri berbaris atau bersimpuh di atas lutut’

Selesai membaca syair, Imam As-Subki berdiri yang kemudian diikuti oleh para ulama yang hadir. Kebahagiaan muncul di majelis tersebut dan maulid Rasulullah ﷺ diperingati di dalamnya. Pertemuan umat Islam demi kelahiran Rasulullah ﷺ juga didasarkan pada istihsan,” (Lihat Sayid Bakri bin Sayid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I‘anatut Thalibin, Darul Fikr, Beirut, Libanon, tahun 2005 M/1425-1426 H, juz III, halaman 414).

BACA JUGA: Quraish Shihab Jelaskan Awal Mula Perayaan Maulid Nabi

Tajuddin As-Subkhi merupakan seorang ulama ahli hadits yang mengawali anjuran berdiri ketika sampai pada bagian mahalul qiyam. Ia dikenal sebagai ulama yang telah mencapai derajat hujjatul islam (orang yang hafal lebih dari tiga ratus ribu hadis, dengan seluruh sanad dan matannya).

Suatu ketika, Tajuddin As-Subkhi tengah bershalawat dengan para muridnya dan beberapa ulama. Tiba-tiba ia memegang tongkatnya dan berdiri yang kemudian diikuti oleh seluruh jamaah yang hadir.

Berdiri saat membacakan shalawat adalah sesuatu yang baik karena sebagai wujud penghormatan kepada Rasulullah ﷺ. Sebab, shalawat adalah cara untuk melampiaskan kerinduan kepada Nabi Muhammad dan yakin bahwa Nabi ﷺ hadir dalam hati jamaah.

BACA JUGA: Beragam Pendapat Siapa yang Pertama Kali Merayakan Maulid Nabi

Terkait Mahalul Qiyam, Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Al-Hasani dalam Al-I’lam Bi Fatawi Aimmah Al-Islam Haula Maulidihi Alaihi As-Sholah Wa As-Salam, hal. 25-26 menerangkan:

“Ketahuilah, sesungguhnya berdiri saat perayaan maulid nabi bukan perkara wajib, bukan pula perkara sunah. Dan keyakinan akan hukum itu tidak benar. Akan tetapi, berdiri itu merupakan ungkapan dari rasa kebahagian umat manusia. Sehingga ketika disebut Rasulullah ﷺ telah lahir ke dunia, para pendengarnya menggambarkan bahwa seluruh dunia kala itu bergetar bahagia dengan nikmat tersebut sehingga ia mengungkapkan kebahagiaan itu dengan cara berdiri. Sehingga persoalan berdiri itu murni sebuah kebiasaan dan tidak masuk dalam ranah agama. Berdiri itu bukan termasuk ibadah, bukan syariat, dan bukan sunah. Akan tetapi hanya sebuah kebiasaan yang sudah mengakar kuat di tengah-tengah masyarakat.”

Wallahu a’lam bish shawab. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here