Residu Kimia pada Produk Pertanian Jadi Penyebab Stunting Anak Indonesia

1395
Ketua PW Parmusi Jawa Tengah, Anding Sukiman memberikan cinderamata kepada Prof. Dr. Ir. Muhammar Nur usai menjadi narasumber pada Workshop Hulu-Hilir Pertanian di Solo, Selasa (18/1/2022).

Solo, Muslim Obsession – Stunting atau masalah kurang gizi kronis yang disebabkan kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak.

Anak yang menderita stunting umumnya memiliki tinggi badan yang lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya. Salah satu penyebabnya adalah karena tingginya residu insektisida dan bahan-bahan kimia yang menempel pada produk pertanian.

“Residu kimia pada produksi pertanian di Indonesia sangat tinggi akibat dari pemakaian bahan-bahan kimia sintetis untuk mengatasi hama, penyakit dan juga herbisida oleh para petani di Indonesia,” ujar Prof. Dr. Ir. Muhammar Nur, saat menjadi narasumber pada Workshop Hulu-Hilir Pertanian yang diselenggarakan Pengurus Wilayah (PW) Parmusi Jawa Tengah di Hotel Sahid Jaya, Selasa (18/1/2022).

BACA JUGA: Kembangkan Ekonomi Berbasis Masjid, Parmusi Jateng Gelar Workshop Hulu-Hilir Pertanian

Guru Besar Fisika Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini menjelaskan, produk pertanian yang sehat akan mengamankan gizi, sehingga memacu pertumbuhan anak-anak Indonesia dan mencegah stunting.

Agar produk pertanian khususnya sayur bersih dari residu kimia tersebut, ia menyarankan agar produk-produk pertanian dibasuh dengan gas ozon sebelum masuk pasar.

“Karena hasil penelitian yang kami lakukan dengan pemanfaatan gas ozon mampu mengurangi residu pada lapisan kulit sayuran sampai 80% dan juga mempu menjadikan produk-produk pertanian khususnya sayuran pada kondisi segar meskipun 2 bulan setelah di petik dari batang tanaman,” urainya.

“Kami sudah siapkan teknologinya untuk mengatasi produk sayuran yang mudah busuk dan mengurangi residu kimia guna mencegah stunting, tinggal bagaimana memanfaatkan teknologi ini,” kata Prof. Muhammad Nur mengakhiri penjelasannya.

BACA JUGA: Guru Besar UMM Ingatkan Susu Sapi yang Dikonsumsi Sangat Mungkin Mengandung Residu DDT

Sebelumnya, persoalan terkait penggunaan bahan-bahan kimia sintetis untuk mengatasi berbagai masalah pertanian ini juga disampaikan oleh Prof. Dr. Indah Prihartini MP.

Guru Besar Fakultas Pertanian UMM yang juga hadir sebagai pembicara pada worksop tersebut mengajak para petani di Indonesia untuk menggunakan bahan-bahan organik guna mengatasi hama dan mengembalikan kesuburan tanah yang saat ini kondisinya sudah sangat parah.

“Jika menggunakan pupuk-pupuk organik, pupuk hayati dan bahan-bahan organik lainnya, disamping akan mengembalikan kesuburan tanah juga akan menghasilkan produk pertanian pertanian yang sehat untuk dikonsumsi,” ungkap Prof. Indah.

BACA JUGA: Buka Ruang Dakwah Islamiyah, Ketum Parmusi Puji Gubernur Kepri

Workshop Hulu-Hilir Pertanian digelar PW Parmusi Jawa Tengah untuk membangun ekonomi berbasis masjid yang programnya terus dimatangkan agar bisa menjangkau seluruh jaringan masjid se-Jawa Tengah.

Kegiatan yang dilanjutkan dengan Muskerwil V ini dibuka oleh Ketua Umum Parmusi (Persaudaraan Muslimin Indonesia) Drs. H. Usamah Hisyam, M.Sos yang sekaligus memberikan motivasi kepada pengurus, dai-dai, dan kader-kader Parmusi jawa Tengah.

“Dipilihnya jamaah masjid yang telah membentuk kelompok tani karena ada pandangan strategis, antara lain karena umat Islam sudah terbiasa mengadakan shalat berjamaah di masjid 5 kali dalam sehari sehingga memudahkan dalam pembinaan dan pengembalian pinjaman saprodi pertanian ini,” ujar Ketua PW Parmusi Jawa Tengah, Anding Sukiman. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here