Hikmah Agung Kewajiban Puasa Ramadhan

Hikmah Agung Kewajiban Puasa Ramadhan
Oleh: Dr. Muhammad Ardiansyah, M.Pd.I (Pengasuh Ponpes At-Taqwa Depok) Mungkin di antara kita pernah mendengar satu pernyataan yang semacam ini, yaitu : “Di antara hikmah wajibnya puasa Ramadhan adalah agar kita bisa ikut merasakan rasa lapar dan haus saudara kita yang faqir dan miskin”. Pernyataan ini mungkin ada benarnya, tapi masih perlu dijelaskan lebih lanjut. Sebab jika berhenti di sini, maka muncul pertanyaan lain, yaitu : “Jika demikian, lalu mengapa orang faqir miskin juga tetap wajib berpuasa Ramadhan? Bukankah selama ini mereka sudah sering merasakan lapar dan dahaga?” Dalam konteks saat ini, saudara-saudara kita di Gaza, sudah cukup lama merasakan lapar dan dahaga akibat serangan Zionis yang biadab. Lalu bagaimana seharusnya kita memahami hikmah di balik kewajiban puasa Ramadhan secara komprehensif? Sebagai manusia, kita memiliki hawa nafsu, seperti nafsu makan dan minum, nafsu syahwat biologis dan sebagainya. Nafsu ini bukanlah hal yang tercela, selama bisa dikendalikan dan diberikan haknya sesuai dengan aturan agama. Jika manusia tidak memiliki nafsu makan dan minum, maka dia akan mati. Jika manusia tidak memiliki nafsu syahwat biologis maka dia tidak akan mau menikah. Akhirnya, populasi manusia pun terancam punah. Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW mengingatkan kita semua melalui sabda beliau: “Tidak sempurna keimanan seseorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikuti ajaran yang aku bawa,” (HR. Abu al-Qasim al-Tamimi dalam Kitab al-Hujjah. Menurut Imam al-Nawawi, Isnad Hadits ini Shahīh.). Nafsu makan adalah yang pertama kali mesti dikendalikan. Jika tidak, maka akan muncul nafsu lainnya yang lebih besar bahayanya. Imam al-Ghazali dalam kitabnya al-Arba‘īn fī Ushûliddīn menyatakan: “Rakus terhadap makanan termasuk induk dari segala bahaya yang besar terhadap agama. Karena perut adalah sumber munculnya syahwat. Dari syahwat ini akan melahirkan syahwat seksual. Jika syahwat terhadap makanan dan seksual sudah mendominasi, maka akan melahirkan sikap rakus terhadap harta, karena kedua syahwat itu (makan dan seksual) tidak bisa dicapai tanpa harta. Selanjutnya dari syahwat terhadap harta akan melahirkan syahwat terhadap kedudukan, karena harta yang banyak, sulit didapatkan bila tidak memiliki kedudukan”. Jadi, nafsu makan ini bukan perkara sepele. Jika tidak dikendalikan, maka akan menimbulkan dampak negatif yang sangat merusak kehidupan pribadi dan juga masyarakat. Kemampuan manusia untuk makan sebenarnya ada batasnya. Mungkin hanya satu piring atau lebih sedikit. Begitu juga nafsu seksual, kemampuan manusia dalam aktivitas seksual juga sangat singkat. Namun ketika kedua nafsu itu sudah tertanam kuat di dalam diri, akhirnya seseorang ingin terus menuruti kemauan nafsunya itu. Bahkan bisa menjadi budak nafsunya tadi. Dorongan kedua nafsu itu kemudian menyeret seseorang untuk berambisi mendapatkan banyak harta. Tidak peduli lagi halal dan haram. Jika itu terjadi, maka potensi kerusakan yang timbul bisa jauh lebih besar dari satu porsi makan dan satu kali hubungan seksual. Tambah besar lagi kerusakannya ketika muncul nafsu kedudukan dan kekuasaan. Semakin tinggi kedudukan dan semakin lama masanya, maka potensi mendapatkan harta berlimpah semakin besar. Bukan hanya untuk dirinya, mungkin tidak akan habis untuk dinikmati tujuh turunan. Lihatlah keadaan kita hari-hari ini, muncul sebagian manusia yang serakah, rakus, tamak, gila dunia dan kedudukan. Ambisi duniawi telah menghancurkan dirinya, menyengsarakan rakyat bahkan merugikan negara. Ratusan triliyun negara ini dirugikan akibat keserakahan manusia-manusia biadab yang menjadi budak hawa nafsunya. Begitu juga dengan orang-orang yang gila kedudukan. Segala cara ditempuh agar bisa mendapatkan kedudukan. Hilang sudah rasa malu, padahal cara-cara tidak beradab yang ditempuhnya sudah menjadi rahasia umum. Bahkan sudah sangat terang seterang matahari. *** Di bulan Ramadhan, Allah SWT mendidik kita dengan sangat luar biasa. Makanan yang biasa kita makan sehari-hari, seperti nasi, lauk, sayur dan sebagainya adalah halal secara zatnya. Meski halal, tapi kita dididik untuk tidak menikmatinya kecuali setelah adzan maghrib. Artinya, di bulan Ramadhan ini Allah SWT ingin meningkatkan kualitas ketakwaan kita. Bukan hanya menjauhkan yang haram, tapi juga menjaga diri dari yang halal sesuai dengan aturan Allah SWT. Jika yang halal pun bisa kita tinggalkan karena tunduk kepada aturan Allah, apalagi yang jelas haramnya. Tentu kita tidak akan pernah mendekatinya apalagi menikmatinya. Inilah di antara hikmah agung di balik kewajiban puasa di bulan Ramadhan. Agar kita menjadi manusia yang semakin bertakwa. Menjadi hamba Allah SWT yang sesungguhnya, bukan menjadi budak nafsu yang akan membinasakannya. Teruslah berjuang mengendalikan hawa nafsu makan dan seksual. Carilah harta dengan cara yang halal, dan gunakanlah untuk hal-hal yang diridhai Allah SWT. Tunaikan kewajiban zakat, tambah lagi dengan sedekah yang Sunnah, agar harta kita menjadi harta yang bermanfaat. Silakan raih kedudukan dengan cara yang benar. Jagalah amanah kedudukan untuk mewujudkan keadilan sosial dan mensejahterakan rakyat. Dan ingatlah, bahwa semua itu adalah nikmat sekaligus ujian dari Allah SWT. Segala nikmat akan dituntut pertanggungjawabannya, dan segala ujian akan dinilai apakah layak naik derajat atau justru jatuh ke tempat yang lebih rendah.