Gempa Bertubi, Dua Dandim, Satu Komando (Bagian 1)

Gempa Bertubi, Dua Dandim, Satu Komando (Bagian 1)
Catatan Egy Massadiah dan Roso Daras Kisah tercecer ini adalah kesaksian dua perwira menengah yang berada pada pusaran komando Doni Monardo. Mereka adalah Kolonel Inf Tri Aji Sartono dan Letkol Inf Yudi Rombe. Saat itu, Tri Aji adalah Dandim 1418/Mamuju. Sedangkan Yudi Rombe adalah Dandim 1401/Majene. (Saat ini Letkol Inf Yudi Rombe mendapat tugas baru sebagai Irdya Intelter Itutum It Kostrad). Dua teritori Kodim di Sulawesi Barat, di bawah Komando Daerah Militer XIV/Hasanuddin. Dua wilayah itulah yang tertimpa bencana alam gempa bumi dahsyat pada hari Jumat tanggal 15 Januari 2021. Gempa berkekuatan 6,2 SR tadi, meluluhlantakkan rumah-rumah, gedung-gedung perkantoran, hotel-hotel, jembatan, dan berbagai bangunan lain. “Gempa pertama kami rasakan sore hari tanggal 14, tapi tidak signifikan. Gempa besar justru yang kedua, keesokan harinya 15 Januari sekitar jam 03.00 pagi. Gempa pagi menjelang subuh itulah yang berdampak serius, karena memang kami rasakan sangat kuat,” ujar Tri Aji. Seketika Tri Aji mengecek pangkalan, asrama, kantor, dan lain-lain di lingkungan Kodim Mamuju. "Kami mengevakuasi keluarga, lalu pukul lima semua anggota Kodim saya kumpulkan di Makodim,” ujarnya. Pagi itu juga, ia melapor kepada atasan langsung, Danrem 142/Taroada Tarogau, Brigjen TNI Firman Dahlan. Aji juga meminta bantuan tambahan pasukan. “Kami mendapatkan tambahan 40 personel dari Korem 142/TT,” ujarnya. Sejurus kemudian, melalui Sekda Tri Aji mendapat amanat Bupati, untuk “mengambil-alih situasi”. Secara kronologis, Tri Aji menyebutkan, pukul 05.30 bantuan pasukan Korem sudah datang di kantor Makodim Mamuju di Jl. Ahmad Yani, Binanga. Juga tiba bantuan Basarnas Kabupaten Mamuju. Sebanyak 20 personel Basarnas datang membawa truk dan berbagai peralatan. Tak hanya itu, Kalak BPBD Mamuju juga merapat ke Makodim. “Semua unsur sudah berkumpul, lalu saya bagi tugas. Ada yang bertugas mengidentifikasi, pemetaan dan evakuasi. Fokus pertama adalah evakuasi atau pertolongan kepada korban yang terjebak reruntuhan bangunan,” ujarnya. Hasil identifikasi diketahui ada beberapa titik yang terbilang parah. Satu bangunan rumah sakit, satu lagi bangunan minimarket, dan satu lagi bangunan di Jalan Pababari. Dandim Tri Aji lalu membagi personel menjadi kelompok-kelompok. Per kelompok antara 5-7 orang dipimpin oleh bintara. Mereka dibekali Handy Talky sebagai alat komunikasi. Telpon Doni Selagi mengatur aktivitas evakuasi korban, telepon genggam berdering. Jam tangan menunjuk angka tujuh. Tri mengangkat telepon, dan terdengar suara yang tak asing baginya. Suara komandannya dulu ketika berdinas di Yonif 741/Satya Bhakti Wirottama, Singaraja, Bali. Ya, itu suara Doni Monardo. Correct Tri menyahut, “Siap. Selamat pagi Komandan!” Di ujung telepon, pertama-tama Doni bertanya, “Bagaimana kamu Tri?” Setelah dijawab “Siap, alhamdulillah selamat!” Disusul pertanyaan kedua Doni, “Keluargamu bagaimana?” Kembali Tri Aji menjawab, “Siap, alhamdulillah selamat.” Try pun melaporkan keadaan sejauh informasi yang ia dapat hingga pukul 07.00. Itu artinya empat jam dari gempa dahsyat yang terjadi pukul 03.00 pagi. Informasi yang ia sampaikan kepada Kepala BNPB Doni Monardo antara lain kerusakan kantor gubernur, rumah sakit, dan sejumlah bangunan lain dengan tingkat kerusakan parah. Ubah Tujuan Pagi itu 15 Januari 2021, di Jakarta, semula Kepala BNPB siap siap melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Sumedang, Jawa Barat bersama sejumlah anggota DPR RI dari Komisi 8. Seketika mendengar kabar terjadinya gempa, Doni segera merubah rencana, berangkat ke Mamuju Sulawesi Barat. Kami semua masih menginap di lantai 10, Graha BNPB. Gesit berkemas, kami meluncur ke Base Ops Bandara Halim Perdana Kusuma. Dalam perjalanan, karena satu mobil, saya menyimak Doni berbicara dengan Presiden Jokowi Widodo via sambungan telpon. Doni melaporkan apa yang terjadi di Sulbar kepada presiden. Nah kembali ke kisah Tri Aji. Selesai menerima laporan dari Tri Aji, Doni menutup telepon dengan kalimat, “Tetap laksanakan dan lanjutkan kegiatan. Utamakan evakuasi korban. Selamatkan nyawa.” Memang itulah yang terjadi hari pertama gempa. Seluruh aparat TNI-Polri, Basarnas, BPBD, dan berbagai unsur lain bahu-membahu melakukan evakuasi korban. Terik matahari tak terasa. Haus lapar tak dirasa. Matahari pun kian condong ke barat. Mereka seperti berkejaran dengan waktu untuk bisa mengevakuasi sebanyak-banyaknya korban, dan melarikannya ke rumah sakit. Telepon kedua Doni Monardo kembali berdering. Doni dan rombongan siang itu sudah mendarat di Mamuju menggunakan Hercules TNI AU. “Tri, kamu di mana, saya di depan Kodim. Ayo kita ke rumah dinas gubernur,” terdengar perintah Doni di ujung telepon. Rupanya, Doni mampir Kodim untuk mengajak Tri bersama-sama ke rumah dinas Gubernur Sulbar Ali Baal. Sementara Tri masih berada di lapangan. Rapat Dadakan Di rumah dinas gubernur, kondisi relatif aman. Bangunan itu tampak retak di beberapa bagian, tetapi masih relatif utuh. Di sana, selain Doni Monardo, juga hadir Mensos Rismaharini dan Pangkogabwilhan II, Marsekal Madya TNI Imran Baidirus. Setelah meminta laporan perkembangan serta situasi terakhir di lapangan, Doni Monardo langsung memberi arahan. Personel BPBD Mamuju diminta mencari lokasi yang representatif dibangun barak pengungsian. Semua pengungsi yang terpencar-pencar, harus segera dikonsentrasikan ke titik-titik pengungsian. Malam itu juga ketemu 13 lokasi yang bisa dijadikan titik pengungsian. Sebagian bisa menampung hingga ribuan orang, sebagian lain ratusan pengungsi. Ke-13 titik itu tersebar di berbagai daerah di Mamuju. “Bangun titik pengungsian yang memadai, perhatikan masalah air dan sanitasi. Mereka akan tinggal di tenda pengungsian untuk waktu yang relatif lama, sampai proses rehab-rekon selesai," ujar Doni. Setelah itu, Doni meminta Danrem Brigjen TNI Firman Dahlan mengkoordinir dua Kodim yang tertimpa bencana Mamuju dan Majene. Dandim Mamuju dan Dandim Majene masing-masing menjadi Komandan Sektor di teritori binaannya. Usai briefing di rumah dinas gubernur, masing-masing kembali ke lapangan. Sebelum bubar, Doni memanggil Try dan memberinya tugas khusus, mendampingi Mensos ke stadion Manakarra Mamuju melihat para pengungsi di sana. Ketika itu, situasinya hujan. Lacak Tengah Malam Pukul 23.00, kondisi masih hujan, telepon berdering. Nama Doni Monardo muncul di layar HP. “Waktu itu saya di Kantor Kodim setelah selesai mendampingi bu menteri. “Tri, kamu di mana. Saya di Jalan Nomor 5,” kata Doni. Ia menangkap sinyal perintah, untuk segera meluncur ke sana. Mendekati titik pertemuan, ia melihat Doni Monardo berdiri di pinggir jalan dalam kegelapan, karena aliran listrik padam. Malam itu saya ikut menemani Doni. Rombongan pun mengecek sebuah bangunan yang runtuh di dekat Doni berdiri. Di rumah itu, pagi hari tadi viral seorang anak tertimpa reruntuhan dan diberi minum oleh penolong. Sementara ibunya meninggal tak jauh darinya. “Tri, di mana anak yang tadi pagi masih tertimbun di rumah ini,” tanya Doni. “Siap, kebetulan tadi pagi yang bertugas di area ini teman-teman dari Paskhas TNI-AU. Menurut informasi, anak itu sudah berhasil dievakuasi,” jawab Tri. “Yakin?” “Yakin!” “Kalau yakin, cari di mana sekarang. Saya mau ketemu. Tapi kalau ternyata masih ada, itu pembiaran namanya. Besok pagi saya mau ketemu dia,” kata Doni. Dengan basah kuyup Doni dan Tri kembali ke tempat masing-masing. Terus Mencari Malam pertama Doni dan rombongan BNPB melantai istirahat di rumah dinas gubernur. Sementara Tri kembali ke markas Kodim. Ia masih harus menuntaskan tugas mencari keberadaan si anak kecil yang selamat dari reruntuhan tadi. Hingga fisik letih dan mata lelap, kabar itu belum juga didapat. Pagi-pagi sekali, ia kembali ke lokasi reruntuhan rumah yang semalam ia datangi bersama Doni Monardo. “Jam tujuh saya harus lapor. Wah, gawat kalau belum dapat info,” kata Tri, mengenang. Tuhan maha baik. Seorang lak-laki yang rupanya tetangga korban, sedang berada di situ, melihat dan mencoba mengambil barang-barang di reruntuhan rumah yang masih bisa diambil dan diselamatkan. Nah, bapak-bapak itu yang memberi nomor HP orang yang menolong korban. Tri segera menghubungi nomor telepon itu dan menanyakan keberadaan si anak. Info pun didapat, bahwa anak itu sudah selamat dan saat ini sudah berada di RS Palu untuk mendapat perawatan. Jarak Mamuju ke Palu lebih 400 km, dan jika lewat jalan darat harus ditempuh dalam waktu sekitar 10 jam. Tri pun melapor ke Doni. “Jadi saya tidak bisa bertemu dia?” Tri spontan menjawab, “Bisa komandan, pakai helikopter!” Dan Doni menutup telepon dengan kalimat, “Ya sudah, pastikan dia baik-baik saja. Itu artinya tidak ada pembiaran terhadap korban.” Apakah tugas selesai? Oh, belum. Doni memerintahkan Tri Aji untuk menyiapkan stadion bagi penampungan pengungsi. “Tri, siapkan stadion untuk menampung pengungsi yang layak dikunjungi Presiden,” perintah Doni. Sejak itu, Tri fokus menata Stadion Manakarra menjadi lokasi pengungsian yang representatif dan tertata dengan baik. Manajemen terkelola dengan baik. Tidak saja terbangun tenda-tenda yang memadai, tetapi juga dilengkapi fasilitas kesehatan, dapur umum, serta gudang logistik dan sarana lain. Presiden Tiba Tanggal 19 Januari, empat hari setelah gempa, Stadion Manakarra pun dikunjungi Presiden Joko Widodo. Presiden mengapresiasi kerja keras penanganan gempa Mamuju. “Tanpa arahan, bimbingan, dan dukungan pak Doni, mungkin tidak akan secepat itu penanganannya. Kebetulan saya paham sekali kepemimpinan beliau,” ujarnya. BERSAMBUNG...