Quraish Shihab Jelaskan Kedudukan Anak dalam Al-Quran dan Cara Mendidiknya

217
Prof. Quraish Shihab.

Jakarta, Muslim Obsession – Pendiri Pusat Studi Al Qur’an Profesor Muhammad Quraish Shibab menjelaskan macam-macam kedudukan anak dalam Al-Qur’an.

Pertama, kata dia, sebagai perhiasan atau pembawa kebahagiaan bagi orang tuanya. Kedua, sebagai penyejuk hati, yaitu ketika anak dapat menyenangkan hati dan menyejukkan mata kedua orang tuanya. Itu merupakan dambaan setiap orang.

“Ada juga yang menyebutnya sebagai cobaan. Itu kalau Anda tidak mendidiknya dengan baik, maka dia akan jadi musuh Anda,” jelas penulis buku Mutiara Hati itu dalam tayangan Shihab and Shihab.

Terdapat beberapa alasan yang melatarbelakangi anak menjadi cobaan bagi orang tuanya. Selain pola asuh yang salah, Prof Quraish juga menyebutkan bahwa memanjakan secara berlebih juga tidak baik bagi perkembangan kepribadiannya.

“Boleh jadi pemanjaan itu menjadikannya musuh kelak di kemudian hari. Itu ada riwayatnya. Ketika orang tua hendak melangkah ke surga lalu anaknya meminta pertanggunjawaban orang tua dengan haknya. Akhirnya, orang tua tidak jadi ke surga karena terseret anaknya,” bebernya.

Untuk menghindari pakar ilmu tafsir ini menyarankan agar orang tua memberikan pendidikan yang seimbang, lahir dan batin. Salah satunya dengan cara mendidik anak di pesantren.

Kendati pun tidak otomatis menjadikannya baik. Tapi, memondokkan anak menurut Prof Quraish lebih baik daripada tidak dididik sama sekali.

“Kalau Anda tidak mampu, berikan kepada orang lain yang mampu. Di pesantren itu ada kiai yang memang kompeten dari segi keilmuan,” tandas Prof Quraish.

Ayah dari jurnalis kondang Najwa Shihab itu juga menegaskan agar tumbuh kembang anak bagus dan haknya terpenuhi, maka pendidikan anak penting dilakukan, bahkan sejak dalam kandungan.

“Jangan ambil hak anak. Terus didik dia, bahkan sejak dalam perut. Dan ketika sudah dewasa jangan paksa dia karena dia juga mempunyai hak kebebasan,” tegas Prof Quraish.

Kebebasan yang dimaksud Prof Quraish adalah memberi dukungan kepada anak untuk menekuni minat dan bakat mereka. Dengan kata lain, tidak mengekang dan tidak menuntut agar anak mengikuti kemauan orang tuanya.

“Jangan jadikan anakmu sama dengan engkau, karena dia mempunyai kecenderungan yang berbeda dengan kecenderunganmu,” terangnya.

“Dia hidup pada masa yang berbeda denganmu,” tambahnya. (Al)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here