Problematika Pembelajaran Bahasa Inggris

80

Oleh: Kayla Najmi Ihsani (Mahasiswi Program Studi Bahasa Inggris, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Pandemi Covid-19 sangat mempengaruhi keefektifan pembelajaran di seluruh dunia, sehingga dapat mempengaruhi minat belajar. Minat yang menurun ini tentu sangat mengganggu proses pembelajaran pada semua mata pelajaran, terutama belajar Bahasa Inggris.

Bahasa Inggris terdiri dari empat keterampilan kompleks, yaitu membaca (reading), menulis (writing), berbicara (speaking), dan mendengar (listening). Masing-masing keterampilan itu memerlukan bimbingan dari pembimbing profesional terutama saat speaking karena diperlukan pronunciation yang tepat. Selain itu, penguasaan materi dan praktek harus diberikan dengan porsi yang seimbang.

Negara Indonesia sendiri telah menerapkan belajar berbahasa Inggris sebagai standar kelulusan mulai dari sekolah dasar hingga sekolah tinggi. Maka dari itu, jika ingin menguasai bahasa asing seperti Bahasa Inggris, kita perlu mengetahui standarnya.

Apakah yang dimaksud “menguasai” itu sekadar mengerti pembicaraan, lancar baca-tulis, sudah bisa berbicara seperti native speaker, atau sampai jadi seorang ahli bahasa (linguist) dan polyglot seperti RMP Sosrokartono?

Language Proficiency atau Kemahiran Berbahasa, dapat diukur dengan menggunakan beberapa standar, salah satunya, CEFR (Common European Framework of Reference). CEFR adalah sebuah indikator untuk mengukur tingkat pencapaian kemahiran sebuah bahasa yang disusun oleh Dewan Eropa (Council of Europe).

Selain itu terdapat tiga elemen bahasa yang berperan penting dalam mendukung keempat keterampilan tersebut, yaitu pronunciation (pelafalan), vocabulary (kosa kata), dan grammar (struktur bahasa), hal ini yang selalu menjadi kendala untuk pemula dalam belajar Bahasa Inggris.

Dalam standar CEFR terdapat tiga tingkatan (level) kemahiran berbahasa, yaitu Basic, Independent, dan Proficient (University of Cambridge, 2011). Tingkatan Basic terbagi dua yang disebut dengan A1 dan A2. Tingkat A1 yaitu dapat memahami dan menggunakan ungkapan sehari-hari dan ungkapan yang sangat dasar yang ditujukan untuk kebutuhan dasar.

Dapat memperkenalkan dirinya dan orang lain serta dapat menjawab pertanyaan tentang rincian pribadi seperti di mana tinggalnya, dengan siapa, dan memiliki apa. Bisa berinteraksi secara sederhana asalkan orang lain berbicara perlahan dan jelas dan siap membantu jika menemui kesulitan.

Tingkatan A2 yaitu dapat memahami kalimat dan ekspresi yang sering digunakan terkait dengan topik yang paling relevan (mis. informasi pribadi dan keluarga yang sangat mendasar, belanja, letak geografis, pekerjaan).

Dapat berkomunikasi dalam tugas-tugas sederhana dan rutin yang membutuhkan pertukaran informasi sederhana dan tentang hal-hal yang akrab dan rutin. Dapat menggambarkan secara sederhana aspek latar belakang, lingkungan terdekat, dan hal-hal di bidangnya.

Tingkatan Independent juga terbagi dua tingkatan yang disebut B1 dan B2. Tingkatan B1 yaitu dapat memahami secara jelas poin-poin utama pembicaraan tentang hal-hal yang biasa ditemui dalam pekerjaan, sekolah, rekreasi, dan lain-lain. Dapat menangani sebagian besar situasi yang mungkin muncul saat bepergian di area di mana Bahasa Inggris digunakan.

Tingkatan B2 yaitu dapat memahami gagasan utama teks kompleks baik pada topik konkret maupun abstrak, termasuk teknis diskusi di bidang spesialisasinya. Dapat berinteraksi dengan tingkat kefasihan dan spontanitas yang membuat interaksi reguler dengan penutur asli sangat mungkin tanpa ketegangan bagi salah satu pihak.

Dapat menghasilkan dengan jelas, teks rinci tentang berbagai mata pelajaran dan menjelaskan sudut pandang tentang suatu masalah dari sisi keuntungan dan kerugian dari berbagai pilihan.

Tingkatan Proficient juga terbagi dua yaitu tingkatan C1 dan C2. Tingkatan C1 yaitu dapat memahami berbagai permintaan/kebutuhan, misalnya teks yang lebih panjang, dan mengenali makna tersirat. Dapat mengekspresikan dirinya dengan lancar.

Sedangkan tingkatan C2 adalah tingkatan (level) tertinggi, yaitu dapat memahami dengan mudah hampir semua yang didengar atau dibaca. Dapat merangkum informasi dari berbagai sumber yang berbeda, baik lisan maupun tertulis, mampu merekonstruksi argumen dan penjelasan dalam presentasi yang tidak koheren. Dapat mengekspresikan dirinya secara spontan, sangat lancar dan tepat, membedakan nuansa makna yang lebih halus bahkan dalam situasi yang rumit.

Sebagai pemula dalam sebuah proses pembelajaran, tentu pernah mengalami suatu hambatan. Hambatan tersebut dapat menimbulkan kurang maksimalnya hasil yang digapai. Burhanuddin mengemukakan bahwa problematika pembelajaran berasal dari dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal.

Faktor internal seperti konsentrasi, motivasi serta intelegensi (Burhanudin, 2014). Selanjutnya, masalah faktor eksternal meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan sosial. Oleh karena itu, dibutuhkan prinsip-prinsip dasar yang kuat untuk ditanam pada setiap pemula.

Prinsip yang perlu ditekuni oleh pemula untuk mengatasi problematika dalam belajar Bahasa Inggris, yaitu motivasi belajar yang benar, rencana persiapan yang terukur, proses belajar yang tepat, dan maintenance.

Pada motivasi belajar yang benar, diperlukan sifat ideologis, praktikal, integratif, dan instrumental. Sedangkan untuk mempersiapkan rencana yang terukur diperlukan tes dengan standar CEFR seperti yang sudah disampaikan di atas. Dalam proses belajar yang tepat perlu memperhatikan pronunciation, vocabulary dan grammar.

Terakhir dan terpenting yaitu konsistensi sebab Bahasa Inggris termasuk skill-base knowledge, maka maintenance atau pemeliharaan itu penting. Serial Entrepreneur bernama Christine Comaford pernah mengatakan bahwa ketika mempelajari hal baru secara terus menerus secara konsisten, kita sedang menempa saraf kita agar menjadi lebih terlatih (Comaford, 2019).

Untuk mengatasi rasa malas belajar Bahasa Inggris, ciptakanlah lingkungan belajar yang nyaman, dan biasakan diri berbahasa Inggris mulai dari percakapan sehari-hari dan prakteklah secara berulang-ulang supaya terbiasa.

Menjalankan proses untuk mencapai suatu tujuan tidak ada yang instan, harus melewati beragam tantangan. Waktunya pun tidak bisa diprediksi. Ironisnya, kegagalan kita bukan karena ada kendala atau penghalang besar di hadapan kita, tapi lebih disebabkan oleh kemalasan kita.

Kita sendiri tidak mempunyai hak memberikan label malas, sebab kata malas sendiri masuk ke dalam konsep relatif yang sebenarnya belum tentu ada. Malas adalah gejala, bukan karakteristik seorang individu, maka dari itu harus memiliki prinsip yang kuat. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here