Per Tahun, Satu Juta Anak Kehilangan Ibunya Karena Kanker

98

Muslim Obsession – Sekitar 1 juta anak di seluruh dunia kehilangan ibu mereka karena kanker setiap tahun, sejumlah besar di antaranya menderita jenis kanker yang “sangat dapat dicegah”, sering kali membuat anak yatim terjebak dalam “lingkaran setan yang merugikan”, demikian diungkap para peneliti.

Perkiraan pertama untuk jumlah anak yang kehilangan ibu akibat kanker diumumkan pada Kongres Kanker Dunia di Jenewa.

Hal itu didorong oleh sebuah penelitian di Afrika oleh Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) Organisasi Kesehatan Dunia, yang berbasis di Lyon, Prancis.

Penelitian itu diikuti lebih dari 2.000 wanita dengan kanker payudara di Namibia, Uganda, Zambia dan Nigeria, lebih dari setengahnya meninggal hanya dalam lima tahun.

Studi tersebut menggambarkan bahwa “dampak antargenerasi dari kematian akibat kanker pada ibu belum didokumentasikan,” kata ahli epidemiologi IARC Valerie McCormack kepada Agence France-Presse (AFP), dilansir Daily Sabah, Selasa (25/10/2022).

Jadi para peneliti IARC menghitung bahwa dari empat juta orang yang meninggal karena kanker pada tahun 2020, 1 juta anak-anak tidak memiliki ibu.

Sekitar 45% ibu meninggal karena kanker payudara dan serviks, yang “sangat dapat dicegah,” kata McCormack, menyerukan lebih banyak investasi untuk memerangi kedua penyakit tersebut.

Selama penelitian di sub-Sahara Afrika, McCormack mengatakan keluarga-keluarga menjelaskan menjual tanah mereka untuk membayar pengobatan kanker, tanpa meninggalkan uang untuk mendidik anak-anak.

“Ini adalah lingkaran setan kerugian bagi keluarga miskin,” katanya.

Para peneliti sampai pada perkiraan global mereka, yang belum ditinjau oleh rekan sejawat, dengan menggabungkan jumlah kematian kanker wanita tahunan dari database IARC GLOBOCAN dengan data kesuburan dari PBB.

Lebih banyak wanita daripada pria yang meninggal karena kanker antara usia 35 dan 50 di seluruh dunia, sebagian besar disebabkan oleh kanker pada organ reproduksi wanita.

Seiring berjalannya waktu, situasinya berbalik seperti pria semakin banyak terkena kanker prostat dan jenis kanker yang berhubungan dengan gaya hidup.

Dan orang-orang di negara-negara berpenghasilan tinggi lebih mungkin meninggal karena kanker di kemudian hari, ketika anak-anak mereka tumbuh dewasa.

McCormack mengatakan IARC sedang berupaya menemukan angka global serupa untuk anak-anak yang kehilangan ayah karena kanker, tetapi itu adalah persamaan yang lebih rumit tanpa data kesuburan.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here