Penyucian Jiwa dalam Menghadapi Kesulitan

63

Oleh: KH. Bachtiar Nasir

Setiap mukmin pastilah akan menghadapi ujian kesulitan, kesempitan, dan ketidakberdayaan dalam masa kehidupannya. Di sinilah dibutuhkannya jiwa yang tegar dan kuat untuk menghadapinya. Semua itu akan didapatkan manakala seorang mukmin memiliki cara pandang yang positif dan benar sebagai sandarannya melihat permasalahan.

Seorang psikolog biasa menggunakan analogi gelas yang berisi air setengah gelas untuk mengetahui apakah seseorang memiliki pola pikir positif atau negatif. Orang yang menganggap gelas yang berisi air itu setengah penuh maka ialah orang yang berpikiran positif, sementara orang yang mengatakan bahwa gelas itu setengah kosong adalah dia yang berpikiran negatif.

Akan tetapi, sejatinya, kemampuan untuk menghadapi masalah tidak hanya pada bagaimana kita memandang sebuah masalah dari sebuah pola pikir negatif atau positif belaka. Namun, pada sejauh mana seseorang cukup kuat dan tegar menghadapinya dan dengan cara apa dia menyelesaikan masalah tersebut.

BACA JUGA: Wajah Calon Penghuni Surga

Orang yang memegang gelas setengah penuh mungkin tidak akan merasa terbebani manakala hanya memegangnya kurang dari lima menit. Namun, akan jadi berbeda rasanya manakala harus memegang gelas yang berisi air setengah penuh itu lebih dari dua jam atau bahkan lebih dari setengah hari.

Inilah kondisi yang seringkali kita hadapi. Masalah yang berlarut-larut harus kita hadapi dan belum kunjung terselesaikan. Di sinilah ujian kesabaran dan daya tahan benar-benar akan menilai kualitas jiwa yang kita miliki.

Allah Swt memberi tahu dalam surat Adh-Dhuha ayat empat hingga ayat 11 bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengalami fase-fase berat dalam hidup yang mesti dijalaninya selama bertahun-tahun dalam kehidupannya.

BACA JUGA: Rahasia Tazkiyatun Nafs

Adh-Dhuha ayat 4-11:

وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰٓ. أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَـَٔاوَىٰ. وَوَجَدَكَ ضَآلًّا فَهَدَىٰ. وَوَجَدَكَ عَآئِلًا فَأَغْنَىٰ. فَأَمَّا ٱلْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ. وَأَمَّا ٱلسَّآئِلَ فَلَا تَنْهَرْ. وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang permulaan. Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu), dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk, dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardik(nya).”

Di ayat empat Allah Swt menegaskan kepada Rasulullah Muhammad ﷺ bahwa janji Allah adalah benar dan apa yang terjadi di akhir kehidupan seseorang juga semesta alam adalah apa yang telah pastikan. Karena itu Allah akan membuat Rasulullah ﷺ ridha dengan apa yang berikan-Nya kepada beliau. Bukan hanya membuat Rasulullah ﷺ bahagia, tetapi bahkan membuatnya ridha.

BACA JUGA: Istiqamah Tilawah Pasca-Ramadhan

Apa perbedaan antara bahagia dengan ridha yang disebutkan dalam ayat kelima ini? Bila bahagia adalah kondisi dimana seseorang berhasil mencapai apa yang diharapkannya, maka ridha adalah kondisi, dimana apa yang diinginkan oleh seseorang selaras dengan apa yang diinginkan oleh Tuhannya. Inilah kondisi jiwa yang telah suci dan sesuai dengan kehendak Ilaahi.

Kebahagiaan bisa tetiba lenyap karena tidak sejalan dengan orang-orang yang ada di sekitar kita, apalagi jika bertentangan dengan kehendak Allah Ta’ala. Namun, ridha tidak akan pernah terhapus karena ia setara dengan kehendak Allah Swt yang tentunya akan direstui oleh mahluk-Nya yang beriman. Termasuk semesta alam beserta isinya.

Di ayat enam, Allah Swt mengingatkan kembali Rasulullah Muhammad ﷺ bahwa beliau pernah berada dalam kondisi kesendirian dan tanpa sandaran. Beliau terlahir sebagai anak yatim, dan seusai masa menyusu, ibundanya meninggal. Digantikan dengan pengasuhan dari kakek, tetapi juga tidak hingga dewasa, sang kakek wafat. Dilanjutkan dengan pengasuhan dari paman hingga kemudian beliau ditemani oleh sahabat-sahabat sejati hingga akhir hayatnya.

Diterima, ditemani, ditopang, dan disokong. Inilah perlindungan Allah Swt kepada beliau dan kepada hamba-Nya. Bahwasanya, orang-orang yang berada di jalan-Nya tidak akan pernah sendiri dan kesepian. Ada Allah dan ada orang-orang yang benar dan setia sejalan memperjuangkan kebenaran sehidup dan semati.

Di ayat ketujuh, Allah memberikan petunjuk kepada Rasulullah ﷺ ketika beliau dalam keadaan tidak tahu apa-apa dan tidak tahu kemana harus melangkah. Allah tunjuki beliau jalan dan menerangi jalan itu untuk beliau dengan cahaya iman dan Al-Quran. Oleh karena itu, “segelap” apa pun jalan di depan tertutup masalah, kita harus yakin bahwa ada Allah yang akan membimbing asalkan iman kita tak pernah berkurang dan Al-Quran senantiasa menjadi pedoman.

Allah Swt senantiasa mencukupi apa yang kita butuhkan dan tidak akan membiarkan hamba-Nya dalam keadaan miskin. Allah menjamin bahwa Dia akan senantiasa memberi kecukupan hidup bagi hamba-Nya dalam ayat kedelapan.

Oleh karena itu, di ayat sembilan hingga 11, Allah Ta’ala ingin agar kita juga senantiasa melindungi anak-anak yatim dan memberi mereka sandaran. Memberi dan berbagi pada orang-orang yang fakir. Juga memperlihatkan rasa bersyukur dan menebar kebahagiaan. Untuk menginspirasi dan menerangi jiwa-jiwa yang tengah mencari arah kehidupan atau sejenak melipur lara mereka yang tengah terlilit kesedihan.

Semoga keinginan kita senantiasa selaras dengan kehendak-Nya dan tuntunan-Nya. Agar ridha senantiasa menyucikan jiwa untuk senantiasa teguh di jalan-Nya dan membahagiakan hidup kita di dunia dan akhirat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here