Pengusaha Politisi dan Politisi Pengusaha

83

Oleh: Amsori (Dosen Ilmu Politik Universitas Nasional)

Negara kesejahteraan tentu menjadi salah satu cita-cita kebangsaan. Namun, hingga umur kemerdekaan bangsa Indonesia mencapai 77 tahun fakta menunjukkan bahwa negara Indonesia masih berstatus sebagai negara berkembang dengan laporang angka kemiskinan yang masih cukup memprihatinkan.

Dalam worldpopulationreview.com disebutkan bahwa Indonesia masuk dalam kategori 100 negara paling miskin di dunia. Pendapatan nasional bruto negara Republik Indonesia tercatat US$3.870 per kapita pada 2020.

Fakta lain yang juga terus melanda Bumi Pertiwi adalah adanya kesenjangan sosial ekonomi. World Inequality Report 2022 mencatat bahwa pada 2021 rasio kesenjangan pendapatan di Indonesia berada di level 1 banding 19.

Artinya, populasi dari kelas ekonomi teratas memiliki rata-rata pendapatan 19 kali lipat lebih tinggi dari populasi kelas ekonomi terbawah. Suatu kesenjangan akut yang berada pada level lebih tinggi dibanding Amerika Serikat. Semestinya dengan kekayaan alam melimpah Indonesia mampu menjadi negara mandiri secara ekonomi.

Hanya saja ketimpangan dalam bidang ekonomi semakin lama terus terjadi karena iklim politik Indonesia yang juga belum berpihak pada rakyat. Indonesia mengalami degradasi yang semakin kompleks yang apabila tidak ditangani secara serius maka akan melahirkan generasi yang tidak paham cita-cita kebangsaan. Kesenjangan harus segera dituntaskan.

Pengusaha memiliki kesempatan besar mengabdikan diri sebagai pahlawan bangsa dalam mewujudkan kesejahteraan. Oleh sebab itu kesenjangan yang masih terus terjadi harus ditelusuri akar permasalahannya.

Banyak ditemukan sekarang pengusaha yang berlomba-lomba menempuh jalur politik dengan dalih menciptakan Indonesia maju, sejahtera dan sebagainya. Namun, di sisi lain ruang politik juga dijadikan mesin usaha yang terus bersaing menghasilkan produk yang layak jual.

Tidak jarang ruang politik akhirnya dikuasai oleh para pemilik modal yang berusaha terus membesarkan mesin usahanya. Fakta persaingan dalam dunia politik ini melibatkan para pengusaha yang juga berhasrat mengamankan atau memperluas wilayah usahanya.

Dalam iklim persaingan, entitas yang melakukan persaingan harus menghadapi kenyataan bahwa mereka bersaing untuk memperebutkan konsumen. Untuk dapat memenangkan persaingan dalam politik, partai harus dapat memuaskan kebutuhan masyarakat luas.

Masyarakat membutuhkan produk politik seperti program kerja, ideology, harapan, dan figure pemimpin yang dapat memberikan rasa pasti untuk menghadapi masa depan (Firmanzah, 2008).

Demikian ruang politik memainkan perannya demi menguasai pasar. Sehingga para pengusaha yang terjun ke politik tidak segan-segan mengeluarkan modal awal yang diharapkan menjadi solusi memuaskan rakyat dalam jangka pendek. Sementara untuk jangka pangjangnya mereka mampu melahirkan regulasi-regulasi yang jitu dalam mengamankan dunia usahanya.

Dalam rimba persaingan politik dan usaha saat ini sangat sulit menemukan jiwa-jiwa negarawan yang benar-benar memikirkan rakyat. Dunia usaha dan politik masih dikuasai oleh orang-orang yang memiliki modal capital mumpuni. Maka, tidak jarang fakta kesenjangan masih terus terjadi di Indoensia. Orang kaya akan semakin kaya dan orang miskin akan terus larut dalam harapan kosong.

Maka, saatnya sekarang memberi jawaban atas permasalahan tersebut. Dunia usaha harus terus ditingkatkan. Para pengusaha sekali lagi sangat bisa menjadi pahlawan dalam mengurai kesenjangan yang terjadi, yakni dengan keterlibatannya dalam ruang politik semata-mata untuk menciptakan regulasi yang berpihak pada rakyat.

Demikian juga para politisi harus terus bekerja keras menciptakan peluang usaha nyata demi kesejahteraan rakyat, paling tidak untuk kemapanan para kadernya. Karena jika tidak, dunia politik hanya menjadi mesin usaha yang secara terang-terangan menjual nasib rakyat. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here