Penguatan Keluarga Samarah

435

Oleh: Dr. Ir. H. Apendi Arsyad, M.Si (Pendiri dan Dosen Senior Universitas Djuanda Bogor)

Keluarga Samarah dalam pandangan (perspektif) Islam adalah keluarga ideal, yang merupakan harapan setiap insan yang berakal sehat (waras, tulus dan ikhlas karena Allah SWT semata), keluarga yang dirahmati, dikaruniai, dalam hidayah dan diberkahi Allah SWT.

Mengapa saya menyebut berakal “tulus”, karena situasi pemilu Pilpres 2024 yang kini berproses, menunjukan “akal fulus dan bulus” mengalahkan akal tulus.

Maksud akal tulus itu, kita melihat peristiwa perkawinan dan pernikahan sepasang sejoli (pria-wanita) mengikat janji (akad nikah) untuk membangun keluarga samarah sebagai tujuannya. Oleh karena itu, adanya peristiwa perkawinan 2 orang manusia seaqidah islamiyah, karena ikhlas atas nama Allah SWT.

Bukan sekadar penyaluran nafsu seksual, reproduksi (mengandung, melahir dan menyusui ketika sudah menjadi ibu rumah tangga) dan peran, beraktivitas dalam rumah tangga (domestik) dan peran sosial di luar rumah suami-isteri (publik) untuk mencari nafkah keluarga. Akan tetapi makna hidup berkeluarga, menurut pendapat saya lebih luas dan lebih dalam lagi, sebab manfaatnya (fadhillah) berkeluarga itu sifatnya multiaspek dan multi dimensi sosial.

Salah satu firman Allah SWT dalam kitab suci Al-Quranul Karim, yang sering kita kutip yang tertera dalam surat undangan keluarga muslim adalah QS. Ar-Ruum ayat 21, yang terjemahannya adalah:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan Allah ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, agar supaya kamu cenderung dan merasakan hidup tentram (sakinah) kepadanya. Dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang (mawaddah warohmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir..”.

Sekarang kita semakin jelas bahwa peristiwa pernikahan dan perkawinan pembentukan keluarga itu, manfaatnya “sakinah mawaddah warohmah” yang bertujuan mendapat ridho Allah SWT (mardhatillah), sehingga hidup berkeluarga adalah salah satu ibadah yang wajib (fardhu ‘ain), jika belum mampu berkeluarga (nikah) wajib berpuasa, tidak melakukan seks bebas (free sex), “kumpul kebo” dengan berzinah yang merupakan dosa besar, tak terampuni.

Begitulah saklarnya peristiwa pernikahan/perkawinan 2 orang sejoli yang membina bahtera rumah tangga dalam perspektif Dinnul Islam, sangat berbeda konsepnya dengan paham-paham (isme-isme) lain yang tengah berkembang dan banyak penganutnya seperti liberalisme, sekularisme, komunisme dan agama non Islam/ajaran serta aliran kepercayaan lainnya.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here