Pencitraan Bukan Penipuan

110

Oleh: Ustadz Buchory Muslim (Dai Nasional PARMUSI, Direktur An-Nahl Institute Jakarta)

Pencitraan itu sejatinya adalah pembuktian kualitas seseorang. Karena pada dasarnya pencitraan itu hanyalah media atau alat untuk ‘menonjolkan citra diri’ yang baik kepada khalayak ramai.

Kesan pencitraan akhirnya menjadi terkesan buruk, karena selama ini banyak yang mempraktikkannya dengan kebohongan, sandiwara berlebihan bahkan boleh disebut hoax bin atau binti penipuan.

Jadi, yang salah sesungguhnya bukanlah pada pencitraan, tetapi oknum-oknum yang membuat pencitraan palsulah yang salah.

BACA JUGA: Kopi Sehat UBM: Antara Nasib dan Nasab

Pencitraan akan berubah menjadi salah dan norak jika kemudian banyak oknum yang melakukan pencitraan palsu dengan menampilkan sesuatu yang sama sekali berbeda bahkan bertentangan dengan kondisi aslinya serta cendrung melukai logika publik.

Misalnya, “tandur” itu maknanya tanam mundur, jadi kalau dalam pencitraannya maju ya pasti hancur berantakan alias ambyar.

Gambar dan pakaian, contoh yang lain, jika besar atau necis sendirian di tengah lumpur atau sawah ya pastinya bohong alias ngawur. Begitu juga lainnya yang serupa maupun sejenis.

BACA JUGA: Kopi Sehat UBM: Kemerdekaan yang Hakiki

Intinya, pencitraan itu tetap dengan bijak dan pakai otak agar tidak terlihat asal ‘njeplak’ dan sampai membuat orang malah tak percaya dan jadi ‘eneg’.

Dalam konotasi positif, pencitraan populer disebut personal branding. Jadi, sekali lagi Pencitraan adalah pembuktian kualitas diri sesuai dengan kemampuan yang sebenar-benarnya dan akan terlihat semakin lebih baik jika dilakukan secara konsisten dalam waktu yang panjang, bahkan selamanya.

والله اعلم وبارك الله فيكم

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here