Pelukan Terakhir di Cianjur

Korban gempa di Cianjur.

196
Ilustrasi: Korban gempa di Cianjur (Sumber: FB Denny JA)

Oleh: Denny JA

Pukul 3.00 tengah malam.

Di tempat penampungan,

Ahsan kembali terbangun.

Istrinya, Hasnah, tak kunjung tidur.

Terus saja menangis.

“Pak, datang lagi ke sana Pak, ke sekolahnya. Siapa tahu Iqbal masih hidup. Siapa tahu, ia hanya tertimbun puing-puing saja.”

“Sabar ya, Bu. Ini cobaan untuk kita. Ibu harus ikhlas.”

“Aku tak ikhlas, Pak, sebelum kulihat sendiri mayat Iqbal.”

Ahsan memeluk istrinya. Air mata yang ia tahan-tahan, akhirnya mengalir deras sekali.

Malam sebelumnya, Iqbal, usia 12 tahun, terbangun di tengah malam.

Iqbal mengetuk pintu kamar Ayah dan Ibunya.

“Aku ingin tidur bersama Ayah dan Ibu,” ujar Iqbal mengantuk, berharap.

Ahsan sang Ayah awalnya melarang. “Iqbal, kau sudah besar. Tidur di kamar sendiri. Harus berani.”

Tapi Hasna, istri Ahsan, sang Ibu, memanggi Iqbal, untuk naik ke tempat tidur, rebahan di tengah antara Ayah dan Ibu.

Sambil memeluk, Ibu bertanya pada Iqbal: “Mengapa, Nak? Mengapa kok tiba-tiba ingin tidur dengan Ayah dan Ibu?

“Aku bermimpi buruk, bu,” jawab Iqbal.

“Ada ular Naga keluar dari tanah.

Ia melahap sekolahku.

Aku ada di dalam sekolah.”

“Oh, mimpi itu? Komentar Ibu ringan saja. Sekarang tidurlah. Besok kau sekolah.

Ibu merasa Iqbal terlalu banyak main video games, sehingga soal Naga saja muncul di mimpi.

Agak aneh peringai Iqbal malam itu.

Iqbal peluk ibunya keras sekali.

Ia juga peluk Ayahnya keras sekali.

Pagi hari Iqbal ke sekolah.

Seperti biasa.

Sejak dulu, setiap pagi, seperti itu.

Tapi hari itu tak biasa.

Gempa terjadi di Cianjur.

Sekolah Iqbal roboh.

Juga banyak sekolah dan madrasah lain hancur.

Banyak anak- anak tertindih bangunan.

Pemerintah hari itu mengumumkan.

Sebanyak 162 korban meninggal. Mungkin jumlahnya terus bertambah.

362 luka, umumnya patah tulang.

Gempa terjadi dengan magnitudo 5,6.

2.272 rumah rusak di Cianjur.

443 rumah rusak di Sukabumi.

46 rumah rusak di Bogor.

Iqbal masih tak kunjung pulang.

Ayahnya, Ahsan, sudah ke lokasi sekolahnya.

Bangunan itu roboh.

Petugas meminta Ahsan menunggu saja di tempat pengungsian.

Ujar petugas, masih ada gempa susulan.

Tempat ini belum aman.

Nanti Ahsan dikabarkan.

Tengah malam itu,

di tempat penampungan,

Ibu Iqbal, Hasnah, terus menangis.

Itu naluri seorang Ibu.

Ia merasa, pelukan Iqbal yang keras sekali malam sebelumnya,

itulah pelukannya yang terakhir.

Bayangan itu terus datang di kepala Hasnah, di kepala Ihsan.

Iqbal naik ular naga,

terbang ke langit,

bersama 162 korban lain yang sudah wafat. ***

22 Nov 2022.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here