Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-18)

III. Nabi Ya’qub dan Esau.

230

6. Berdamai dengan Esau.

Atas terjadinya peristiwa tersebut, Nabi Ya’qub merasa yakin bahwa tidak akan terjadi apa-apa antara dirinya dengan Esau. Ia kemudian kembali menyeberang sungai Yabok dan mengajak istri dan anaknya kembali pada rombongannya. Nabi Ya’qub sampai pada rombongannya setelah matahari agak tinggi.

Dlihatnya Esau dan rombongannya menghampirinya. Nabi Ya’qub menyongsong dengan berjalan di depan istri dan anak-anaknya, dan sejak dari kejauhan Nabi Ya’qub berjalan dengan berkali-kali bersujud dengan mukanya sampai ke tanah. Berdiri lalu berjalan lagi lalu bersujud lagi, demikian terus diulanginya sampai tujuh kali hingga sampai ke dekat kakaknya.

Melihat itu, Esau langsung berlari mendapatkan Nabi Ya’qub, didekapnya dan dipeluknya lehernya dan kemudian saling berciuman dan bertangis-tangisan. Setelah reda, Esau kemudian menanyakan siapa yang dibawanya itu, lalu diperkenalkanlah istri dan anak-anaknya satu persatu. Para istri dan anak-anak Nabi Ya’qub kemudian bersujud kepada Esau.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-13)

Atas pemberian Nabi Ya’qub, Esau menolaknya tapi Nabi Ya’qub telah sejak awal berniat memberikan sebagian hartanya itu kepada kakaknya dan atas niatnya itu Nabi Ya’qub merasa Allah telah meridhainya sehingga bisa berdamai dengan Esau oleh karena itu terus mendesak agar Esau mau menerimnya dan akhirnya Esau menerima pemberian itu.

Setelah lepas rasa rindu mereka, kemudian Esau berpamitan pulang dan Nabi Ya’qub berjanji suatu saat akan mendatangi kakaknya di Seir. Nabi Ya’qub masih berniat untuk berkemah di tempat tersebut untuk beristirahat dengan waktu yang cukup karena di tempat tersebut Nabi Ya’qub merasa berada di tempat yang aman setelah petemuan yang menggembirakan dengan kakaknya.

Pesuruhnya malah diperintahkan mendirikan gubuk-gubuk untuk beristirahat yang menandakan akan diam di tempat tersebut dalam waktu agak panjang. Oleh karena itu tempat tersebut kemudian dinamakan Sukot.

Setelah merasa cukup beristirahat, Nabi Ya’qub kemudian melanjutkan perjalanan, menyeberangi sungai Yordan, terus berjalan dan akhirnya sampai ke wilayah Sikhem. Di tempat ini Nabi Ya’qub membeli tanah dari Hemor, kepala suku di wilayah itu. Nabi Ya’qub kemudian mendirikan mezbah sebagaimana kebiasaan Nabi Ibrahim dan Nabi Ishaq bila berada di tempat yang baru. Mezbah itu dinamainya “Allah Israel ialah Allah”.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-12)

7. Peristiwa yang memalukan Nabi Ya’qub.

Suatu ketika, Dina berkunjung ke anak-anak perempuan suku Hemor. Anak lelaki kepala suku ini jatuh hati kepada Dina, tetapi kemudian memperkosanya. Setelah perbuatannya itu, anak tersebut meminta kepada bapaknya untuk meminta gadis itu untuk diperistrikannya.

Lalu Hemor mendatangi Nabi Ya’qub dan menceritakan peristiwa itu dan bermaksud melamar Dina. Namun Nabi Ya’qub belum menjawab karena akan dirundingkannya dengan anak-anaknya yang masih menggembala.

Ketika anak-anaknya datang, maka diceritakanlah oleh Nabi Ya’qub peristiwa yang dialami Dina dan maksud kedatangan Hemor. Hemor juga menawarkan kepada Nabi Ya’qub dan anak-anaknya untuk hidup berdampingan dan saling menikahkan di antara keluarga mereka. Anak laki laki Nabi Ya’qub dan para pengikutnya dapat dinikahkan dengan gadis-gadis suku Hemor demikian pula sebaliknya.

Maka anak-anak Nabi Ya’qub memberikan syarat, yaitu agar Hemor dan penduduknya mau menjalani sunat, karena agama mereka hanya membolehkan mengawinkan anak wanitanya dengan orang-orang yang bersunat.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here