Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-166)

IX. Nabi Muhammad ﷺ.

590

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Setelah di usir imperium Roma dari wilayah Yudea dan Samaria, sampai pada abad ke enam bani Israel belum bisa menginjakkan kakinya dan tinggal di negeri asalnya yang saat itu dikuasai oleh Bizantium. Haekal Sulaiman sudah berubah menjadi kompleks peribadatan kaum Kristen.

Di Makkah juga terdapat sedikit orang-orang Israel namun tidak begitu mencolok. Tidak ada kampung Israel di kota Makkah. Hal itu menunjukkan kota Makkah bukan kota yang dapat memberikan keuntungan yang memadai bagi suku-suku Israel. Kebanyakan orang Israel datang ke Makkah hanya untuk berdagang dan tinggal sementara sampai keperluannya selesai.

Di kota-kota menuju Yaman juga terdapat cukup banyak suku-suku Israel. Bahkan raja Yaman yaitu Dzu Nuwas pernah memaksa bangsa Yaman memeluk agama Yahudi, karena dirinya memeluk agama Yahudi.

Banyak pembunuhan yang dilakukan oleh Dzu Nuwas untuk memaksa penduduknya beralih ke agama Yahudi, sehingga akhirnya dihentikan oleh pasukan dari Axum yang disebut juga Abisyinia sedang Dzu Nuwas bunuh diri masuk kelaut bersama kudanya. Dari kota Najran hingga ke Thaif juga terdapat cukup banyak tinggal suku Israel.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-165)

Mungkin disebabkan agama Yahudi merupakan agama yang eksklusif dipeluk oleh bani Israel, sehingga suku-suku Arabiya tidak ada yang memeluk agama Yahudi. Bani Israel yang hidup di kota-kota suku Arabiya justru menggunakan bahasa dan kosa kata Arabiya untuk identitas pribadi dan kesukuannya.

Hal ini menunjukkan bahwa bani Israel tidak ingin bermasalah dengan saudara-saudara jauhnya dari keturunan Ismael tersebut. Apalagi mereka hidup di kota-kota yang didirikan dan dibangun oleh keturunan Ismael.

Orang-orang Israel banyak yang mengerti bahwa dari kaum bani Ismael ini telah dinubuwahkan dan tertulis dalam kitab suci mereka bahwa akan muncul nabi terakhir, meskipun nubuwah tersebut tidak diterima oleh kebanyakan dari mereka.

Oleh karena itu, di kota-kota jazeerah Arabiya ini bani Israel juga memasang mata dan telinganya untuk memonitor tentang tanda-tanda akan datangnya nabi terakhir. Berdasar kitab-kitabnya, mereka mengetahui tanda-tanda kenabian seseorang dan kapan diperkirakan akan muncul nabi terakhir.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-164)

Mereka juga tahu bahwa Ka’bah adalah bangunan peribadatan yang dibangun oleh nabi Ibrahim dan Ismael. Oleh karena itu, mereka akan selalu memantau perkembangan Makkah untuk mencari tahu tentang datangnya nabi terakhir yang telah dinubuwahkan kedatangannya setelah kepergian Yesus.

Kota Makkah pada masa itu, oleh suku-suku Arabiya, pengelolaanya di serahkan pada suku Qurais. Pada suku ini terdapat tiga klan atau tiga keluarga besar, yaitu Bani Hasyim, Bani Taim dan Bani Makhzum.

Di antara ketiga bani ini terjalin hubungan persaudaraan yang erat. Terdapat semacam dewan kota Makkah yang merupakan wakil dari tiga bani tersebut, yang dipimpin oleh orang dari bani Hasyim. Meskipun klan-klan Makkah terhubung dalam jalinan keluarga dan dewan kota, namun dalam kehidupan ekonomi mereka saling bersaing.

Persaingan dalam perdagangan bahkan berakibat pada termarginalnya keluarga yang tidak beruntung. Para janda dan anak yatim sering menjadi kurban persaingan. Jika ada janda atau anak yatim yang tidak ada yang menanggung keamanannya, maka nasibnya dengan cepat menjadi budak.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-163)

Oleh karena itu, banyak keluarga Arabiya yang tidak menjadi bahagia apabila lahir diantara mereka seorang perempuan, yang dianggapnya tidak dapat mengangkat harkat keluarga. Kadang kala, jika lahir bayi perempuan kemudian dibunuh dan dikubur hidup-hidup.

Munculnya paganisme di Makkah dimulai pada saat penguasa Makkah dan Ka’bah berada ditangan suku Khuza’ah, ratusan tahun sebelum dikelola oleh suku Qurays. Kepala suku Khuza’ah saat itu yaitu Amru bin Luhai al Khuza’i, ketika pulang dari berobat ke Syam, setelah sembuh membawa patung Hubal yang dianggapnya berjasa menyembuhkan penyakitnya.

Patung Hubal kemudian diletakkan di dalam Ka’bah, disembah oleh suku Khuza’ah. Namun suku Khuza’ah tetap menempatkan Allah sebagai realitas tertinggi tuhan mereka.

Lambat laun penyembahan atas hubal, mempengaruhi suku-suku Arabiya lainnya dan mereka mendapatkan sesembahan berhala yang sulit dilacak asal usulnya, dan meniru perbuatan suku Khuza’ah dengan menempatkan berhala masing-masing di Ka’bah, sehingga akhirnya banyak berhala di halaman Ka’bah.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-162)

Tidak diketahui bagaimana awal mulanya, masing-masing suku Arabiya mempunyai berhala sesembahannya masing-masing sehingga di Ka’bah dan sekitarnya sampai terdapat sekitar 360 berhala.

Dengan banyaknya berhala tersebut, menunjukkan kota Makkah selain menjadi pusat ibadah juga sekaligus sebagai tempat untuk menempatkan identitas religius kultural suku-suku Arabiya.

Paganisme tersebut berlanjut hingga suku Qurays menggantikan suku Khuza’ah sebagai pengelola Ka’bah dan melayani ibadah haji suku-suku Arabiya pada pertengahan abad ke empat masehi.

Dalam pemikiran suku-suku Arabiya, adanya bermacam macam ilah itu, selain sebagai pusat peribadatan juga menjadikan kota Mekkah sebagai pusat perdagangan suku-suku Arabiya sehingga menghidupkan perekonomian.

Tidak boleh ada perang pada musim haji juga membuat Kota Makkah selalu terlindungi karena menjadi pusat penempatan kepentingan bersama. Sebagai pusat ibadah haji, menjadi pembeda bagi Ka’bah Makkah terhadap Haekal Sulaiman Yerusalem.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-161)

Haekal Sulaiman bahkan ribuan tahun tidak menjadi pusat peribadatan bani Israel setelah Nabi Sulaiman menjadi raja kerajaan Israel. Haekal Sulaiman banyak ditinggalkan oleh suku-suku bani Israel, hingga akhirnya Allah menghukum bani Israel dan Haekal Sulaiman di hancur leburkan.

Suku-suku Arabiya, meskipun menyembah tuhan-tuhan berhala, namun tetap meyakini realitas tertinggi dari tuhan-tuhan yang ada ialah Allah. Tuhan-tuhan berhala mereka yakini sebagai tuhan-tuhan anak Allah. Namun suku-suku Arabiya tidak meyakini ada alam akhirat. Hidup bagi orang Arabiya adalah hanya ketika di dunia.

Ketika orang meninggal, maka tidak ada lagi kehidupan lain. Tidak ada keyakinan bahwa perbuatan di dunia harus dipertanggung jawabkan di akhirat. Jika hidup di dunia bernasib baik, mempunyai banyak istri dan anak, mempunyai banyak unta dan kekayaan, maka itulah kehidupan surganya.

Sebaliknya jika hidup bernasib buruk bahkan menjadi budak, maka itulah kehidupan nerakanya. Mereka menyembah tuhan-tuhan berhala adalah dengan tujuan agar tuhan memberikan kehidupan yang baik di dunia, terhindar dari nasib buruk, dan tidak menjadi penghalang bagi tujuan dan keinginan mereka selama hidup di dunia.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here