Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-164)

IX. Nabi Muhammad ﷺ.

247
Rute perdagangan suku Arabiya. (Sumber: Brainly.co.id)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Pada saat yang sama Katolik dilanda perdebatan baru theologis tentang kodrat Allah dan Yesus. Perdebatan yang tidak kalah sengitnya dengan perdebatan antara madzab Athanasius dengan madzab Arius.

Pendapat pertama berpaham kodrat manusia Yesus telah menyatu kedalam kodrat Allah, yang paham ini kemudian disebut paham monofisit.

Sedang pendapat kedua adalah Kodrat Allah dan Yesus tetap terpisah tetapi berada bersama yang tak terpisahkan, ibarat dua warna pada batu marmer yang tidak dapat dipisahkan. Paham ini kemudian disebut paham diofisit atau Nestorian, yang diambil dari nama pencetusnya adalah Nestorius.

Theodosius II adalah seorang penganut Nestorian, namun ketika Konsili Efesus menetapkan Nestorian adalah bid’ah, maka Theodosius II tidak mempunyai pilihan lagi dan terpaksa merubah keimanannya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-163)

Dia juga terpaksa mengasingkan Nestorius ke Mesir yang kemudian meninggal di sana. Namun penganut Nestorian tetap berkembang dan berpusat di Antiokia dan bahkan banyak diterima dan dianut oleh penduduk Persia.

Keputusan Efesus menunjukkan bahwa gereja Roma masih diatas kuasa Kaisar. Namun perselisihan madzab juga belum usai dan akhirnya dalam konsili Chalsedon tahun 451, yang diselenggarakan oleh kaisar Marcianus menetapkan doktrin Ketuhanan lagi berdasarkan pendapat Uskup Paus Leo dari Roma yaitu di dalam Kristus terdapat dua hakikat yang bersatu tidak dapat diubah ubah dan tidak dapat dipisah pisah.

Dengan demikian terdapat dua kodrat yang berbeda tapi menyatu. Doktrin itu membuat banyak Uskup yang tidak sependapat dengan hasil konsili karena rumusan doktrin Chalsedon berarti mengakui Nestorian.

Efek lain dari konsili Chalcedon adalah karena adanya keinginan kaisar Marchianus dengan memaksakan penyelenggaraan konsili di Chalcedon adalah untuk menempatkan setidak tidaknya uskup Konstantinopel jika belum bisa disejajarkan dengan uskup roma, namun masih diatas uskup lainnya. Akibatnya, gereja wilayah timur semakin menjauh dengan gereja barat.

Sejak awal perkembangannya, Kristen selalu menunjukkan keterpecahan paham tentang Ketuhanan yang berawal dari perbedaan paham tentang kodrat Yesus. Yaitu, theologi Arius, yang berpaham Yesus adalah mahluk ciptaan Allah yang diperanakkan Allah dan tidak sebanding dengan kodrat Allah. Sedang theologi Athanasius terpecah menjadi paham Monofisit dan Diofisit.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-162)

3. Suku-suku, agama di Jazeerah Arabiya dan jalur perdagangannya.

Sampai pada abad 6 M, di jazeerah Arabiya tidak pernah terbentuk negara arab. Yang ada adalah kota kota kecil yang dihuni beberapa suku arab dengan diperintah oleh kepala suku, biasanya dari suku terbesar.

Keberadaan kota kota kecil di Arabiya terbentuk dari munculnya komunitas kesukuan disekitar oase oase besar atau kecil. Tidak adanya sungai di Jazeerah Arabiya mengakibatkan suku suku Arabiya yang dibentuk oleh keturunan nabi Ismael ibn Ibrahim membentuk komunitas kesukuan di sekitar oase.

Sumber daya di oase yang terbatas, membuat kehidupannya lebih banyak bergantung pada perdagangan dengan wilayah Syam, Yerusalem, Yaman dan Babilonia. Terdapat rute perdagangan yang menghubungkan Makkah dan Yatsrib dengan Babilonia, Damsyik (Damascus), Yerusalem, Sana’a Himyar (Yaman) maupun kota kota di Afrika di laut Merah.

Terdapat pula perkebunan perkebunan yang biasanya milik orang orang kaya suku. Peternakan yang berkembang pada padang gurun yang terbatas adalah unta dan domba.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-161)

Aktifitas perdagangan menyebabkan besar kecilnya jumlah kepemilikan unta menjadi simbul kekayaan dan kehormatan suku suku Arabiya. Unta menjadi simbul kekayaan adalah karena jika tidak memiliki unta maka orang arab tidak bisa melakukan perdagangannya sendiri.

Unta adalah binatang yang istimewa di padang pasir. Selain berfungsi alat angkut, unta juga bisa menjadi alat navigasi dan peramal cuaca. Unta sangat hafal letak oase dan rute perjalanan. Sekali melawati suatu oase, unta tidak akan melupakan tempat dan jalur jalan menuju oase.

Unta juga sangat peka akan datangnya badai padang gurun pasir. Jika unta tidak mau diajak berjalan, maka hal itu menunjukkan bahwa akan datang bahaya. Dalam tubuh onta juga terdapat kantung air yang besar.

Jika melakukan perjalanan jauh, kemudian kehabisan air, maka unta akan disembelih bukan hanya untuk dimakan dagingnya, namun juga terdapat air yang cukup banyak dalam kantung air di perut unta.

Oleh karena itu, semakin banyak unta yang dimiliki oleh seseorang hal itu menunjukkan seberapa besar perdagangan yang dapat dilakukan oleh orang Arabiya seberapa besar kekayaannya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-160)

Kota-kota yang terbentuk dari adanya oase tersebut menjadi bukti lain dari ganasnya kondisi geografis jazeerah Arabiya, yang sepanjang mata memandang hanya kelihatan gunug batu, padang pasir, semak-semak kecil disela padang rumput yang tipis, tidak nampak adanya sungai dan pepohonan, cuaca panas dan kering yang pada puncaknya bisa mencapai 50 ° C.

Jika ada badai dari kejauhan langit bisa terlihat gelap karena tertutup pasir yang dibawa badai dan tiba tiba bisa menghilangkan bukit pasir atau memunculkan bukit pasir baru, yang bisa membuat orang tersesat jalan jika tidak terbiasa atau tidak mempunyai pengalaman cukup melakukan perjalanan di padang pasir. Suatu kondisi alam yang secara naluriah dihindari manusia untuk menjadi tempat tinggal.

Kondisi alam yang ganas sehingga saat itu tidak ada negeri yang merasa berkepentingan untuk menaklukkan dan menguasai wilayah jazeerah Arabiya. Oleh karena itu, hampir tidak pernah terjadi perang memperebutkan wilayah di jazeerah Arabiya. Suku suku arabiya bahkan tidak pernah membentuk angkatan perang baik untuk kepentingan mempertahankan kotanya maupun untuk menyerang kota yang lain.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-159)

Kondisi alam tersebut menyebabkan suku suku Arabiya juga dikenal sebagai suku pengembara, sehingga tempat tinggalnya tidak hanya terbatas di Jazeerah Arabiya, namun juga tinggal sampai di wilayah Yordania seperti suku Nabathean, bahkan di Sinai terdapat cukup banyak suku suku arab.

Pada Kitab Kejadian, yang mengkisahkan riwayat nabi Yusuf, juga sudah mulai menunjukkan adanya kontak perdagangan di Hebron dengan keturunan Nabi Ismael.

Domba domba nabaiot yaitu domba dari suku Nabathean, sering diperdagangkan sebagai hewan kurban bakaran bani Israel.

Paska kehancuran kota Yerusalem dan Haekal Sulaiman, juga ada catatan tentang orang Arab yang mengorganisir pembunuhan terhadap penguasa Yerusalem yang diangkat oleh Nebukadnezar, namun setelah itu bersama sama kaum Yahudi lainnya lari menuju wilayah Mesir. Dengan demikian orang arab sudah mengembara cukup jauh dari negeri asalnya.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here