Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-142)

VIII. Nabi Zakariya, Yahya, ‘Iysaa, Kehancuran Haekal Sulaiman (Masjidil Aqsha) yang Kedua dan Kemunculan Nashara, Kristen dan Katolik.

72
Lukisan cara hidup komunal pengikut Hawariyun. (Sumber: sangsabda.wordpress)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

21. Kemunculan Yahudi Sekte Yesus yang disebut Nashara Awal.

Setelah kepergian Yesus, para Hawariyyun dan 72 pengikutnya dengan dipimpin Peter atau Petrus bertekat melanjutkan ajaran Yesus berdasakan Taurat dan ajaran Yesus yaitu Injil.

Dalam Islam, istilah atau kata-kata rasul digunakan tidak berdiri sendiri, namun ditulis satu paket dalam Rasul Allah, utusan Allah. Oleh karena itu Al-Quran menyebut para sabahat Yesus disebut Hawariyyun, karena bukan Rasul Allah.

Hal itu ditulis secara berbeda dalam Kitab perjanjian baru yang menyebut Hawariyyun dengan istilah Rasul. Dengan sebutan seperti itu maka Penulis Kisah Para Rasul telah menjadikan para sahabat setia Yesus sebagai Rasul Yesus.

Kitab Kisah Rasul ditulis dengan mengacu pada Injil 4 Evangelic yaitu Injil Matius, Marcus, Lukas, Yohanes, yang mengakui Yesus adalah Tuhan atau Allah atau Anak Allah. Banyak ayat ayat dalam Injil 4 Evangelic ini menyebut Yesus sebagai Tuhan, meskipun sebutan itu bukan Yesus sendiri yang menyatakannya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-141)

Dengan mengacu pada kitab Injil 4 Evangelic maka penulisan Kitab Kisah Rasul ditulis setelah penulisan Injil 4 Evangelic.

Para Hawariyyun yang dijadikan Rasul Yesus dalam Kitab Kisah Rasul adalah Petrus, Jhon, Yakobus, Andreus, Filipus, Tomas, Bartolomeous, Metew, Yakobus bin Alfeus, Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus.

Jumlahnya 11 orang, tidak ada nama Yudas Ischariot dan tidak ada nama Barnabas yang tercantum sebagai Rasul Yesus. Dengan demikian rasul ke-12 adalah Paulus.

Tidak dituliskannya nama Barnabas sebagai rasul bisa dianalisa sebagai akibat dari masa penulisan Kitab Kisah Rasul yang ditulis setelah Injil 4 Evangelic, yang mana pada saat kitab-kitab tersebut ditulis Injil Barnabas telah beredar luas sedang di dalam Injil Barnabas menyebut Yesus adalah Rasul Allah.

Sehingga tidak mungkin Barnabas dimasukkan dalam daftar Rasul Yesus. Kemungkinan luasnya peredaran Injil Barnabas sangat kuat karena Yesus menjelang naik ke langit ke-3 usai menampakkan diri di bukit Zaitun telah memerintahkan Barnabas menuliskan Injilnya dengan dibantu Jhon dan Peter (Peterus).

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-140)

Tidak ada preseden sebelumnya ada Rasul Allah yang mengangkat rasul. Di samping itu, mungkin disebabkan luasnya peredaran Injil Barnabas dimana peredarannya di luar kemampuan penulis Kitab Kisah Rasul untuk mengendalikan peredarannya dan tidak mempunyai kekuasan untuk menarik Injil Barnabas dari peredaran. Dengan demikian tidak mungkin memasukkan nama Barnabas dalam daftar rasul Yesus.

Kisah Para Rasul mengacu pada 4 Injil Evangelic, yaitu Matius, Markus, Lukas dan Johanes yang menuliskan Yesus sebagai Tuhan atau anak Tuhan. Oleh karena itu dalam Kitab Kisah Para Rasul pasal 2 : 36 dituliskan khutbah Petrus sebagai berikut: “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus”. Penulis kitab Para Rasul menyebutkan bahwa Allah telah menjadikan Yesus sebagai Tuhan.

Dengan peneguhan seperti itu, maka para sahabat Yesus tersebut di atas ditempatkan sebagai Rasul Yesus telah memperoleh legitimasinya. Meskipun terdapat kesulitan untuk dipahami mengapa penulis Kitab Rasul menulis dengan merujuk pada Injil dari 4 Evangelic, sedang yang dikisahkan dalam kitab tersebut adalah orang orang yang hidupnya se jaman dengan Yesus, sedang penulisan Injil 4 Evangelic dilakukan beberapa puluh tahun setelah masa hidup Yesus.

Terdapat pertanyaan tentang urutan penulisan kitab, karena catatan para rasul Yesus semestinya ada lebih dahulu yang kemudian menjadi rujukan untuk dijadikan muatan utama dalam penulisan Injil 4 Evangelic. Atau bahkan tulisan para rasul seharusnya bisa disebut sebagai Injil itu sendiri.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-139)

Dengan demikian, sejak awal kitab-kitab dalam Perjanjian Baru berada dalam posisi yang krusial bila dihadapkan dengan Injil Barnabas, karena Barnabas adalah orang yang juga menjadi murid dan sahabat Yesus, hidup sejaman dengan Yesus, sejaman dan bahkan dalam kelompok yang sama di lingkaran utama Yesus seperti halnya orang orang yang disebut sebagai para rasul dalam Kitab Kisah Rasul.

Namun demikian, untuk menghindari perdebatan tentang kitab suci maka dalam penulisan buku ini, yang diambil dari Kitab Kisah Para Rasul adalah lebih ditekankan pada kisah perjalanan Para Rasul Yesus yang dalam Al-Quran disebut para Hawariyyun.

Para Hawariyyun sepakat untuk hidup seperti yang dipraktikkan oleh Nabi Yahya dan Nabi ‘Iysaa. Mereka membentuk komunitas komunal yaitu hidup bersama, harta masing-masing menjadi harta milik komunal. Cara hidup mereka hampir mirip dengan sekte Yahudi Qumran.

Perbedaannya adalah sekte Qumran hidup memisahkan diri dari penduduk dengan membuat pemukiman sendiri yang tempatnya jauh dari keramaian, sedang cara hidup komunal para Hawariyyun tetap berada di tengah-tengah penduduk lainnya. Mereka juga datang ke Haekal Sulaiman dan di bait suci tersebut mereka membentuk kelompok jemaatnya sendiri. Dalam kesehariannya, cara hidup mereka menjadi berbeda dengan penduduk lainnya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri-138)

Semakin lama semakin banyak jumlah orang dalam jemaatnya sehingga ada sebagian pejabat agama yang merasa terganggu. Imam sekte Saduqi yang menjadi pejabat Sanhedrin kemudian menangkap para sahabat Yesus dan dimasukkan dalam penjara.

Mereka di hadapkan pada pengadilan Sanhedrin dengan tuduhan melanggar larangan kerajaan Roma dalam penyebutan nama Yesus yang dapat menimbulkan keonaran dan kerusuhan penduduk.

Peter atau Petrus menyampaikan pembelaannya yang justru menyakitkan hati para pejabat Sanhedrin karena meminta mereka agar taat terhadap seruan Yesus dan agar orang Israel lebih taat kepada Allah dari pada taat kepada manusia.

Para pejabat agama hendak menjatuhkan hukuman mati kepada para Hawariyyun tersebut. Namun seorang pejabat agama dari sekte Pharisi yaitu Gamaliel, mencegah hukuman mati tersebut dan menasihati teman-temannya sesama pejabat agama dengan mengatakan bahwa jika mereka (para Hawariyyun) berbuat karena manusia, tentu akan lenyap, namun jika berbuat karena Allah, maka para pejabat agama tidak akan dapat melenyapkan orang orang tersebut, dan mungkin para pejabat agama justru melawan Allah.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-137)

Nasihat tersebut dapat diterima para pejabat agama, sehingga para Hawariyyun dikeluarkan dari penjara dan diperbolehkan melakukan pengajaran di Haekal Sulaiman maupun di rumah rumah jemaatnya.

Mereka juga diijinkan untuk melaksanakan peribadatan di Haekal Sulaiman karena mereka mempraktikkan ibadah yang sama dengan ibadah kaum Yahudi dan memenuhi syariat agama Yahudi, yaitu menjadi Yahudi, disunat, dan menjalani syariat berdasar taurat dan menyembah Allah. Mereka melakukan shalat sama dengan praktik shalat kaum Yahudi.

Dalam sejerah terdapat kesulitan untuk mengkategorikan kelompok jemaat para Hawariyyun ini, karena agama Yahudi tidak mengakui Yesus sebagai Nabi mereka. Sedang Al-Quran menyebut para Hawariyyun ini sebagai kaum anshar atau nashara, namun dengan sebutan yang mempunyai beberapa makna.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here