Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-141)

VIII. Nabi Zakariya, Yahya, ‘Iysaa, Kehancuran Haekal Sulaiman (Masjidil Aqsha) yang Kedua dan Kemunculan Nashara, Kristen dan Katolik.

60
Lukisan Yesus dengan dibawa malaikat turun dari langit di bukit Zaitun. (Sumber: Tribun Manado)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Kemudian Barnabas masih mempertegas pertanyaan Maryam kepada Yesus: “Ooo guru, mengingat Allah adalah Maha Pengasih, untuk apa Dia begitu menyiksa kami, menjadikan kami percaya bahwa engkau telah wafat?

Sedangkan bundamu telah menangis karena engkau, sampai dia mendekati mati, sedangkan engkau orang suci utusan Allah, pada engkau Allah telah membiarkan jatuhnya fitnah bahwa engkau telah dibunuh di antara penyamun di atas gunung Calvary?”

Yesus kemudian menjawab: “Percayalah kepadaku Barnabas, bahwa tiap-tiap dosa, bagaimanapun kecilnya, Allah menghukumnya dengan hukuman berat, mengingat bahwa Allah marah kepada perbuatan dosa.

Oleh sebab itu semenjak bundaku dan para pengikutku yang beriman yang ada bersama aku mencintai aku sedikit dengan cinta keduniawian, Allah yang Maha Adil telah berkehendak untuk menghukum cinta ini dengan kedukaan kini, agar nantinya tidak dihukum dalam nyala api neraka.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-140)

Dan walaupun aku tidak berdosa di dalam dunia itu, namun semenjak orang-orang telah menyebut aku Allah dan Putera Allah, supaya aku tidak diolok-olok setan pada hari pengadilan, Allah telah berkenan bahwa aku diolok-olok oleh orang-orang dalam dunia ini dengan kematian Yudas, membuat semua orang percaya, bahwa aku telah mati di atas salib.

Dan olok-olok ini akan berlanjut sampai kedatangan Ahmad Pesuruh Allah itu, yang bila mana dia datang akan menubuwatkan penyesatan ini kepada siapa siapa yang beriman kepada petunjuk Allah”.

Sesudah menjawab Barnabas, Yesus berkata: “Engkau Maha adil, Ooo Allah Tuhan kami karena hanya Engkaulah mempunyai ke Maha Muliaan dan Maha Besar tanpa pengakhiran”.

Kemudian Yesus berkata lagi kepada Barnabas: “Ketahuilah Barnabas, bahwa dengan semua pertolongan kamu menulis Injilku mengenai seluruhnya yang telah terjadi selama aku di dunia itu, dan tulislah dengan cara sedemikian sehingga apa apa yang telah menimpa Yudas, membuat orang-orang yang beriman tidak mudah diperdayakan, dan tiap-tiap orang beriman kepada kebenaran”.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-139)

Lalu Barnabas menjawab: “Seluruhnya aku mau memperbuat jika dikehendaki Allah Ooo guru, tetapi bagaimana hal yang telah terjadi terhadap Yudas, sedang aku tidak tahu, karena aku tidak melihat sama sekali”.

Yesus menjawab: “Di sini ada John dan Peter yang telah melihat semuanya, dan mereka akan menceritakan kepadamu seluruhnya apa yang telah berlangsung”.

Dengan demikian Barnabas telah mendapatkan perintah dari Yesus untuk menuliskan Injilnya Yesus dengan dibantu oleh John dan Peter untuk melengkapi hal hal yang tidak diketahui oleh Barnabas.

Setelah itu, Yesus memerintahkan kepada para sahabatnya untuk memanggil tujuh orang murid lainnya beserta Nicodemus dan Yusuf serta semua pengikut setianya yang tersisa dari 72 orang untuk makan bersama sama.

Ternyata dari 72 orang tersebut, 25 orang telah lari ke Damascus. Pada hari ketiga Yesus menyuruh ibu, sahabat dan pengikutnya tersebut ke gunung zaitun untuk melihat dirinya naik kelangit dan siapa yang membawanya ke langit.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri-138)

Di gunung zaitun, setelah mereka shalat, pada tengah hari datanglah Yesus dengan banyak malaikat yang melantunkan puji pujian kepada Allah. Melihat itu semua, ibu, sahabat setia dan pengikut setia Yesus bersujud, namun Yesus mencegahnya dan menghiburnya dan berkata:

“Jangan takut, aku ini adalah gurumu. Berhati hatilah karena setan akan membuat segala usaha untuk menipu kamu, tetapi jadilah kamu para saksiku dari kaum Israil dan untuk seluruh dunia dari semua hal-hal yang telah kamu dengar dan kamu lihat “.

Injil Barnabas 220 mengisahkan, sambil merangkul ibundanya, Yesus berkata “Percayalah kepadaku bunda, karena sesungguhnya aku katakan kepadamu, bahwa aku belum wafat sama sekali, karena Allah menyimpan aku sampai dekat akhir dunia “.

QS. Az-Zukhruf 61 menyatakan “Dan sungguh, dia (‘Iysaa) benar-benar menjadi pertanda akan datangnya hari kiamat. Karena itu, janganlah kamu ragu ragu tentang (kiamat) itu dan ikutilah aku. Inilah jalan yang lurus”. Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa Nabi ‘Iysaa suatu saat akan datang lagi ke bumi yang kedatangannya menjadi pertanda akan datangnya hari kiamat, Allahu a’lam bissawab.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-137)

Nabi ‘Iysaa akan datang menegaskan kepada orang-orang menyembahnya sebagai tuhan bahwa ajaran yang lurus adalah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Oleh karena itu QS. Ali Imran 45 menyebutkan bahwa Maryam diberi seorang putra yang diberi gelar Al-Masih, yang akan menolong orang-orang yang masih tersesat agar mengikuti risalah Islam Nabi Muhammad, dan menyatakan injilnya telah disesatkan oleh Nabi Nabi palsu.

Yesus kemudian berdoa dan setelah doanya berakhir dirangkulnya kembali ibunya dan berkata: “Kedamaian meliputi engkau bundaku, tenteramlah engkau dengan Allah yang telah menciptakan engkau dan aku”. Setelah itu, Yesus berkata kepada semuanya “Semoga berkat dan rahmat Allah menyertai kamu semua”. Kemudian dengan disaksikan mereka semua empat malaikat itu membawa Yesus ke langit.

QS. Ali Imran 55 mengisahkan kepergian Yesus yaitu “Ketika Allah berfirman, “Wahai ‘Iysaa! Aku mengambilmu dan mengangkatmu kepada-Ku, serta mensucikanmu dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikutimu diatas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian kepada-Ku engkau kembali, lalu Aku beri keputusan tentang apa yang kamu perselisihkan”.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here