Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-135)

VIII. Nabi Zakariya, Yahya, ‘Iysaa, Kehancuran Haekal Sulaiman (Masjidil Aqsha) yang Kedua dan Kemunculan Nashara, Kristen dan Katolik.

79
Lukisan Yesus naik keledai betina ke Yerusalem. (Sumber: Greek Reporter)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Di rumah Lazarus Nabi ‘Iysaa mengatakan, sudah semakin dekat waktu untuk dirinya pergi. Nabi ‘Iysaa kemudian mengajak pengikutnya pergi ke Yerusalem. Injil Barnabas pasal 200-201 mengisahkan kepergian Yesus ke Yerusalem ini.

Yesus menyuruh muridnya Peter dan Johanes untuk mencari dua keledai, yang seekor akan dipakai sebagai tunggangannya sedang seekor lainnya untuk membawa barangnya. Setelah di dapatkannya keledai tersebut kemudian Nabi ‘Iysaa dan para pengikutnya pergi ke Yerusalem.

Kabar akan datangnya Nabi ‘Iysaa segera tersebar luas mendahului kedatangan Yesus sendiri. Barisan yang mengikuti Yesus semakin lama menjadi semakin besar. Semakin mendekat pada kota Yerusalem, mulai muncul teriakan teriakan dari orang-orang yang mengiringi jalannya Nabi ‘Iysaa.

Kedatangannya membuat kota Yerusalem menjadi heboh. Penduduk Yerusalem tumpah ruah menyambut sejak ‘Iysaa belum memasuki kota. Semakin dekat dengan bait El Sulaiman, banyak orang melepas bajunya dan membentangkannya disepanjang jalan menuju Haekal Sulaiman.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-134)

Penduduk Yerusalem mulai melantunkan kata penyambutannya. “Mubaraklah dia yang datang kepada kami dengan mengucapkan nama Allah Yang Maha Pengasih. Hoshanna (jurus selamat) anak Dawud. Inilah Nabi ‘Iysaa dari Nazarareth di Galilea”.

Injil matius 21 : 1-10, Markus 11: 1-11, dan Yohanes 12 : 14-15 juga mengisahkan kedatangan Yesus ke Yeusalem dengan menunggang keledai betina. Kedatangannya membuat para musuhnya semakin meningkat rasa bencinya.

Nabi ‘Iysaa datang dengan naik keledai betina sedang anak keledainya untuk membawa barang barangnya. Suatu kedatangan yang aneh namun menimbulkan kegemparan.

Cara kedatangan aneh seorang hebat yang sangat kontras dengan kebiasaan gaya para pejabat istana Roma maupun istana Herodes Antipas yang kalau datang ke haekal Sulaiman dengan naik kereta. Juga berbeda dengan kebiasaan para imam yang naik kuda. Nabi ‘Iysaa langsung masuk ke Haikal Sulaiman dan melaksanakan shalat.

Para pejabat agama yang membenci Nabi ‘Iysaa mulai merancang kejadian untuk menjatuhkan martabat Nabi ‘Iysaa. Mereka mencari wanita yang sedang melakukan perzinahan, mereka tangkap dan akan dihadapkan pada Nabi ‘Iysaa.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-133)

Jika Nabi ‘Iysaa menyelamatkan wanita penzina itu maka akan bertentangan dengan hukum Musa dan Nabi ‘Iysaa akan disebutnya sebagai pendosa. Pada masa itu, sesuai hukum Musa, wanita penzina akan dihukum dengan dilempari batu hingga mati. Dan jika dia menghukumnya, maka hal itu bertentangan dengan ajaran-ajaran agamanya sendiri, karena dia berkhutbah tentang ampunan.

Mereka kemudian mendatangi dan menghadapkan wanita yang berzinah tersebut. Nabi ‘Iysaa kemudian membungkukkan badannya membuat gambar di tanah yang dengan mukjizatnya gambar tersebut bisa digunakan sebagai cermin.

Nabi ‘Iysaa kemudian berdiri dan naik tempat yang lebih tinggi kemudian sambil menunjuk cermin yang dibuatnya lalu berkata pada para pejabat agama yang datang dengan membawa wanita pezina: “ Siapa yang tanpa berdosa diantara kamu (seraya meminta agar bercermin), biarkanlah menjadi orang pertama untuk melemparinya dengan batu”.

Orang-orang tersebut kemudian bercermin dari mulai yang tertua. Mereka kemudia melihat perbuatan perbuatan dosanya yang menjijikkan dan membuat malu dirinya sendiri sendiri. Setelah itu mereka pergi satu persatu dengan rasa malu.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-131)

Ketika yang membawa wanita pezina itu habis pergi meninggalkan wanitu pezina itu, lalu Nabi ‘Iysaa bertanya kepada wanita tersebut: “Hai perempuan, kemana perginya mereka yang akan menghukum engkau tadi”.

Lalu dijawab oleh perempuan tersebut sambil menangis: “Tuan, mereka telah pergi dan jilakau engkau mau memaafkan daku, demi Allah, aku tidak akan berbuat dosa lagi”. Lalu Nabi ‘Iysaa menjawab: “Berkat Allah! Pergilah menurut jalanmu dengan damai dan jangan berbuat dosa lagi, karena Allah bukan mengutus aku untuk menghukum engkau”.

Injil Yohanes 8 : 2-11, menceritakan pula hal ini, namun agak sedikit berbeda, jika pada Injil Barnabas diceritakan Nabi ‘Iysaa membuat gambar di tanah yang bisa berfungsi menjadi cermin, sedang pada injil Yohanes disebut Yesus berjongkok dengan berkata dan menulis di tanah siapa yang merasa bukan pendosa dipersilakan untuk melempari wanita penzina dengan batu sampai meninggal.

Kemudian satu persatu orang-orang tersebut pergi, yang dengan demikian mereka merasa pernah berbuat dosa. Injil Yohanes tidak menyebut Yesus membuat cermin untuk orang-orang yang menghadapkan wanita penzina.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-130)

Dalam hari-harinya di Yerusalem, Yesus mengalami beberapa peristiwa yang menunjukkan bahwa di Yerusalem banyak orang alim yang tidak salih, orang alim yang menjadi pendosa, yang menggunakan ilmu agama hanya untuk memenuhi syahwat kuasa dan serakahnya.

Sehingga di suatu hari, Yesus menangis ketika menyampaikan firman Allah yang telah diterimanya yang firman tersebut menyangkut nasib Yerusalem dan Haekal Sulaiman, sebagaimana yang dikisahkan dalam Injil Barnabas 202-203.

Sambil menangis Yesus berteriak: “Ooo Yerusalem, Ooo Israil, aku menangis atasmu, karena kamu tidak tahu hukuman Allahmu. Aku rela mengumpulkan kamu untuk mencintai Allah Pencipta kamu, bagaikan seekor induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayap sayapnya, namun kamu tidak mau”.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here