Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-134)

VIII. Nabi Zakariya, Yahya, ‘Iysaa, Kehancuran Haekal Sulaiman (Masjidil Aqsha) yang Kedua dan Kemunculan Nashara, Kristen dan Katolik.

69
Lukisan dialog Nabi ’Iysaa dengan Nicodemus. (Sumber: Sangsabda.wordpress.com)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Akhirnya Yesus sampai ke Yerusalem, dan kemudian masuk ke Haikal Sulaiman. Tentara Roma segera datang dan mengganggu, namun pada akhirnya mereka pergi dan tidak kembali setelah mengalami peristiwa yang tidak bisa mereka mengerti.

Tanpa disentuh apapun mereka terguling guling sendiri hingga keluar dari Haekal Sulaiman (Injil Barnabas: 152). Hal itu membuat mereka lari. Dari kejadian tersebut, bahkan ada pejabat agama yang berkata dengan rasa dengki bahwa Yesus telah mendapat hikmah dari berhala Ba’al dan Ashyitoret.

Kebencian para pejabat agama sudah sedemikian tinggi kepada Yesus, apalagi ketika mereka melihat ada orang yang buta sejak lahir dapat disembuhkan Yesus sehingga bisa matanya memandang (Injil Barnabas: 156). Para pejabat agama tersebut sama sekali tidak menunjukkan rasa percaya kepada Yesus.

Mereka bahkan menyebut Yesus adalah seorang pendosa, dan orang yang matanya sudah dapat memandang tersebut dilemparkan keluar dari Haikal Sulaiman. Saat itu, Gubernur juga membuat ketetapan siapapun yang bercerita tentang mukjizat Yesus diancam dengan hukuman mati.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-133)

Pejabat agama juga mengirimkan orang-orang yang menyamar untuk mendekati Yesus dengan bertanya tentang agama namun tujuannya adalah untuk menjebak Yesus. Namun penyamarannya selalu diketahui Yesus sehingga pertanyaan yang diajukan selalu mendapat jawaban yang tak terduga yang mengisyaratkan bahwa maksut hati dan pikiran mereka sudah diketahui Yesus.

Para pejabat agama terutama orang-orang Farisi selalu memburu Yesus karena sebagian masyarakat memanggil Yesus sebagai Allah dan anak Allah. Namun para pejabat agama bukannya ikut meluruskan pemahaman Bani Israel tetapi justru menjadikan Yesus sebagai musuhnya. Rasa dengki, benci dan takut kehilangan jabatan dan kehormatan telah menutupi kebenaran Taurat ajaran yang dibawa Musa yang sebenarnya diketahuinya.

Nabi ‘Iysaa setelah orang-orang yang memusuhinya pergi kemudian melayani pertanyaan dari para pengikut dan murid muridnya yaitu Andrew, Philip, Barnabas, Peter, Bertholomew tentang perbuatan dusta dan kebohongan, takdir Allah, takdir dan kemauan bebas manusia, takdir bukan meruntuhkan kebebasan manusia namun takdir Allah tak terduga, kemuliaan dan kemewahan surga, tubuh dalam surga, perbedaan tingkat kemuliaan, keluasan surga.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-131)

Injil Barnabas 191, menginformasikan, suatu ketika Nabi ‘Iysaa sedang di serambi Haikal Sulaiman, ada seorang ahli taurat dari Farisi yang bernama Nicodemus yang mendatanginya, kemudian dengan rendah hati ahli taurat itu bertanya tentang ayat yang tertulis dalam Taurat yang membuatnya bingung, bahwa Allah telah berkata kepada Ibrahim yaitu “Aku akan menjadi ganjaran yang besar”.

Yesus kemudian dengan gembira menjelaskan ayat tentang perendahan diri dan hakikat pahala Allah yang diterima manusia. Setelah itu, Nabi ‘Iysaa meminta Nicodemus memberikan penjelasan tentang riwayat dua orang Nabi (Hajjai dan Hosea) yang dijawab dengan baik oleh ahli Taurat tersebut, yang menunjukkan Nicodemus telah berkata dengan jujur.

Kepada ahli Taurat itu dijelaskan oleh Nabi ‘Iysaa, bahwa Allah tidak akan menghapus ajaran kerasulan dari rasul rasul pendahulunya karena kedatangannya, namun dirinya diutus oleh Allah karena para ulama yahudi telah membuat tradisi tradisi yang merusak ajaran ajaran Nabi dan rasul terdahulu. Mereka bahkan telah membunuh Nabi Yahya dan Zakariya, dan mereka sekarang akan berusaha membunuh dirinya (Nabi ‘Iysaa).

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-130)

Ketika kemudian Yesus meminta kepada Nicodemus agar mengatakan kepadanya siapa Messiah yang telah diikrarkan kepada Nabi Ibrahim itu? Dengan Ishaq atau dengan Ismail? Nicodemus tidak berani mengatakannya karena jika dia mengatakannya maka konsekuensinya adalah hukuman mati untuk dirinya.

Ketika dikatakan oleh ‘Iysaa bahwa dirinya telah berdosa kepada Allah karena tidak mau mengatakan kebenaran yang diketahuinya, maka Nicodemus kemudian menyatakan bahwa telah tertulis dalam kitab Musa dan kitab Yosua bahwa Messiah adalah keturunan Ismael, sedang ayah Ishaq (Ibrahim) adalah ayah dari orang (Ismail) yang darinya akan muncul Messiah, yaitu yang bernama “ terpuji (Ahmad) ”.

Musa berseru lantang dengan gembira, “Ooo Ismail, kamu mengemban seluruh dunia dan surga dalam pangkuanmu! Semoga ingat ingatlah kepadaku, hamba Allah, bahwa aku mungkin mendapatkan rahmat dalam pandangan Allah, dengan pertolongan anakmu, baginya Allah telah menciptakan segalanya”.

Nicodemus berkata: “Kitab-kitab yang menceritakan itu semua telah dibacanya di dalam perpustakaan pejabat tinggi agama, dan para pejabat agama itu melarang aku mengatakannya kepada sesiapa”.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-129)

Nabi ‘Iysaa kemudian meminta Nicodemus insaf karena dengan aqidah Messiah itu, Allah akan memberikan keselamatan kepada manusia dan tanpa itu tak seorang manusiapun akan diselamatkan (Injil Barnabas pasal 191 – 192).

Percakapan panjang antara Yesus dan Nicodemus merupakan percakapan yang dikisahkan oleh Injil Barnasa dengan cukup panjang. Injil Yohanes 3 : 1 – 25 juga mengkisahkan dialog tersebut dengan materi penjelasan yang berbeda.

Injil Barnabas menjelaskan tentang pertanyaan Nabi ‘Iysaa pada Nicodemus tentang Messiah, namun Injil Yohanes 14 : 15 – 26 menyebut Messiah dengan istilah Penghibur. David Benyamin Keldani, dalam bukunya Menguak Misteri Muhammad, menyebutkan bahwa dalam Injil berbahasa Yunani istilah Peryclitos yang mempunyai arti “terpuji” dirubah menjadi Paraclete yang artinya “penghibur”.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-128)

17. irman kemurkaan Allah terhadap kejatuhan Yerusalem, Bani Israil dan keruntuhan Bait Allah untuk yang kedua kalinya.

Ketika semakin mendekati perayaan hari Paskah, Nabi ‘Iysaa pergi ke rumah Lazarus di Betania yang letaknya di dekat Yerusalem. Tentang Lazarus, Injil Barnabas 193, mengkisahkan, bahwa orang ini adalah orang yang sudah mati dan telah dikuburkan. Empat hari setelah penguburan, datang Nabi ‘Iysaa yang mengatakan bahwa orang itu belum saatnya mati, namun sedang ditidurkan.

Penduduk membantahnya karena melihat bahwa orang tersebut telah mati hingga kemudian dikuburkan. Nabi ‘Iysaa kemudian meminta penduduk membuka kuburnya dan membuka kain kafannya. Setelah itu dengan mukjizatnya Nabi ‘Iysaa memanggil namanya, dan ternyata Lazarus bangkit dan hidup kembali kemudian Nabi ‘Iysaa memerintahkan kain kafannya agar di bongkar.

Tentu penduduk Betania sangat heran dengan kenyataan tersebut, namun juga gembira, terutama saudara-saudara perempuan Lazarus yaitu Maria dan adik perempuannya yaitu Marta yang disebut juga Magdala. Injil Yohanes 11 : 1 – 44 mengkisahkan hal yang sama tentang Lazarus.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here