Orang Cerdas Menurut Ajaran Islam

138

Oleh: Drs. Madropi, M.Pd (Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Bogor)

Banyak orang mengatakankan orang cerdas adalah orang yang memiliki IQ genius, IPK kecerdasan diatas rata-rata, sanggup menghafal kosa kata dan perbendaharaan kata yang banyak, dapat menghitung dan melakukan perhitungan dengan cerdas dan cepat sehingga dapat menguasai berbagai disiplin ilmu, baik ilmu yang sifatnya umum (sain) maupun ilmu eksak (sain dan teknologi) semua itu dapat dikuasainya dengan cepat dan mudah.

Persepsi seperti ini tidak salah karena pendidikan kita banyak dipengaruhi oleh pendidikan dari barat yang hanya mementingkan kecerdasan emosional dan intelektual dengan mengesampingkan pendidikan kecerdasan spiritual.

Dikawatirkan kedepan bagi bangsa Indonesia, kecerdasan ini dapat mempengaruhi pola pikir/ cara bertindak dan berbuat dalam membangun bangsa dan negara hanya berdasarkan pemikiran yang rasional belaka sehingga banyak yang pinter tapi korupsi, banyak yang cerdas tapi tak mau berbagi dan peduli, banyak para cerdik cendekiawan tapi tak mau membela kebenaran dan mengegakan keadilan.

BACA JUGA: Nabi Muhammad ﷺ, Contoh Teladan Terbaik

Lalu siapakah sesungguhnya orang cerdas dalam pandangan Islam?

Imam Asy-Asyatibi mengutip sebuah riwayat yang disampaikan Imam as-Suyuti dalam kitabnya, ad-Dur al-Mantsur ( jilid 6, hlm 177 ). “Dari Ibnu Masu’d RA, katanya, Rasulullah SAW telah bersabda kepadaku; tahukah kamu siapakah orang yang paling cerdas itu?”

Maka ku jawab: Allah dan RasulNya lebih tahu. Kemudian Rasulullah SAW menjelaskan: Orang yang paling cerdas adalah orang yang paling awas melihat kebenaran dikala manusia gemar berselisih paham, meskipun amal perbuatannya minim, meskipun Ia hanya bisa merangkak diatas kedua tumitnya”.

“Orang cerdas adalah orang yang masih mau menggunakan hati nuraninya, disaat kedzaliman mendominasi kehidupan manusia. Orang cerdas adalah orang yang memiliki nalar dan sikap kritis terhadap segala bentuk ketimpangan dan kezaliman sosial.

Umar Bin Khatab Khalifaur Rasyidin kedua setelah Abu Bakar as-Shidiq berkata: “Bersama sepuluh orang, Aku menemui Nabi SAW lalu salah seorang diantara kami bertanya; Siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia wahai Rasulullah? Nabi menjawab: Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya, mereka itu orang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemulian dunia dan kehormatan akhirat,” (HR. Ibnu Majah).

Sabda Rasulullah SAW. Dari Abu Ya’la Shadad Ibnu Aus r.a. dari Nabi SAW. Beliau bersabda; “Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengintropeksi dirinya dan suka beramal untuk kehidupannya setelah mati. Sedangkan orang yang lemah ialah orang yang suka mengikututi hawa nafsunya dan berharap kepada Allah SWT, dengan harapan kosong,” (HR. At-Tirmizi hadits Hasan).

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa orang cerdas adalah; Orang yang paling awas melihat kebenaran disaat orang gemar berselisih paham meskipun amal perbuatannya minim, orang yang memiliki nalar dan sikap kritis terhadap segala bentuk ketimpangan dan kezaliman sosial.

Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya dan orang yang mampu mengintropeksi dirinya dan suka beramal untuk kehidupannya setelah mati. Pandangan orang cerdas jauh kedepan bukan hanya memikirkan kehidupan duniawi belaka, melainkan pemikirannya sanggup menembus dinding kehidupan duniawi menuju kehidupan ukhrawi, kehidupan dimasa akan datang yang kekal dan abadi.

Kriteria Cerdas

Menurut QS. Ali Imran 190-191 manusia cerdas disebut ulil albab, artinya orang-orang yang senantiasa berpikir. Menurut Ibnu Katsir, mereka adalah orang-orang yang memiliki akal sempurna lagi memiliki kecerdasan. Sedangkan menurut Syayid Qutub, mereka adalah orang-orang yang memiliki pemikiran dan pemahaman yang benar.

Kriterianya:

1- Senantiasa mengingat Allah pada setiap saat (ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ)

“Orang-orang yang senatiasa mengingat Allah baik dalam keadaan berdiri, duduk, dan dalam keadaan berbaring”. Orang yang senatiasa mengingat Allah adalah orang yang hati, ucapan, pikiran dan perbuatannya senantiasa terpahut dan tidak lepas dari mengingat Allah, berusaha mendekatkan diri kepadaNya dalam situasi dan kondisi bagaimanapun.

Mengingat Allah bisa dilakukan dengan hati, ucapan dan perbuatan. Dengan hati senantiasa mengingat dan meyakini sepenuh hati kebenaran ilahiyah sehingga hidupnya merasa diawasi dan merasa dekat dengan Allah SWT.

Dengan ucapan senantiasa bibirnya basah mengucapkan: Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, lailaha illallah dan ucapan-ucapan lainnya dalam upaya mendekatkan diri dan mengagungkan kebesaran Allah SWT . Sedang dengan perbuatan senantiasa melaksanakan segala yang diperintah Allah dan menjauhi dari segala yang dilarangnya.

2- Senantiasa merenung, memikirkan ciptaan Allah SWT (وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ)

“Senantiasa memikirkan ciptaan Allah yang ada di langit dan di bumi”. Dalam merenung dan memikirkan ciptaan Allah yang ada di langit dan di bumi ini ada dua cara:

a- Melihat ayat-ayat Qauliyah yang secara tektual berada dalam al-Quran dan hadits seperti banyak al-Quran atau hadis yang mendorong manusia untuk bepikir “afalaa tadzakkarun”. Apakah manusia tidak berfikir “afalaa ta’qilun”. Apakah manusia tidak berakal? Bagaimana Allah menciptakan langit tampa tiang, meletakan gunung agar bumi tidak goyang. QS. Lukman ayat 10:

خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ بِغَيۡرِ عَمَدٖ تَرَوۡنَهَاۖ وَأَلۡقَىٰ فِي ٱلۡأَرۡضِ رَوَٰسِيَ أَن تَمِيدَ بِكُمۡ وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٖۚ وَأَنزَلۡنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا مِن كُلِّ زَوۡجٖ كَرِيم

“Dia (Allah) telah menciptakan langit tampa tiang sebagaimana kamu melihatnya, dan Dia telah meletakan gunung-gunung (dipermukaan) bumi agar bumi tidak menggoyangkan kamu dan memperkembangbiakan segala macam jenis makhluk bergerak dan bernyawa dibumi. Dan kami turunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik,” (QS. Lukman ayat 10).

Ayat ini mengingatkan pada kita akan kebesaran Allah, langit tampa tiang tidak roboh, Gunung-gunung dalam tebing tidak berjatuhan dan longsor, Bumi tidak bergoyang sehingga manusia nyaman berjalan tidak jatuh bangun, belum lagi memperkembangbiakan segala macam makhlukNya yang bergerak dan bernyawa.

Berapa jumlah makhluknya yang masuk ke bumi, keluar dari bumi? berapa jumlah makhluknya yang naik ke langit, makhluknya yang turun ke bumi? Belum lagi air di permukaan bumi, air hujan yang menumbuhkan aneka ragan tumbuhan dan tanam-tanaman. Sungguh apa yang Allah ciptakan di langit dan di bumi terbentang luas untuk kehidupan umat manusia bagi orang-orang yang berpikir.

b- Melihat ayat-ayat Kauniyah tidak secara tekstual berada dalam Quran dan Hadits, namun makna kontektual inplisit (tersirat) termasuk ayat-ayat Allah, karena di dalamnya terdapat sunnatullah yang tidak akan berubah ketetapannya, seperti Api rasanya panas, Air dingin, Garam asin, Gula manis dan masih banyak phenomena-penomena alam lainnya yang belum terungkap dan tidak bisa dijangkau oleh akal pemikiran manusia.

3- Senantiasa berdoa, bermunajat kepada Allah SWT (رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّار)

“Ya Tuhan kami, apa yang telah engkau ciptakan ini, taka da satupun yang sia-sia”. Dari hasil renungan dan pemikiran terhadap ayat-ayat- Qauliyah dan Kauniyah itu, timbullah perasaan bahwa manusia adalah makhluk kecil dan lemah di muka bumi dibandingkan dengan keagungan dan kebesaran Allah SWT yang maha luas dan tak terjangkau oleh akal pikiran manusia.

Banyak makhluk, benda serta tanaman ciptaan Allah yang manusia belum tahu dan belum bisa dimanfaatkan. Hidup manusia terlalu kecil dan lemah di muka bumi laksana setetes air ditengah lautan yang luas, kecil dan tidak memiliki arti dan makna kekuatan apa-apa, kecuali atas kehendak dan kekuasaan Allah SWT.

Sudah sepantasnyalah bagi orang cerdas berdoa memohon kepada kepada Allah ; ya Tuhan kami apa yang telah Engkau ciptakan dimuka bumi satupun taka da yang sia-sia, maka hindarilah kami dari siksa api neraka.

—————

Semakin tinggi kecerdasan seseorang semakin awas melihat kebenaran, semakin kuat hati nuraninya, nalar dan sikap kritisnya terhadap ketimpangan dan kezoliman sosial, semakin banyak beramal untuk hari Akherat, dan semakin dekat dengan Allah SWT.

Wallahu a’lam bish shawab.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here