NU Sebut Tarekat Shiddiqiyah Sanadnya Tak Tersambung ke Rasulullah

108

Jakarta, Muslim Obsession – Mencuatnya kasus pencabulan yang dilakukan oleh salah seorang pengurus Pondok Pesantren Shiddiqiyah Ploso, Jombang, Jawa Timur membuat nama pondok tersebut dibicarakan banyak orang dan menimbulkan stigma negatif.

Ponpes Shiddiqiyyah disebut sebagai penyebar tarekat Shiddiqiyyah yang muncul untuk pertama kalinya pada 1958 di sebuah desa bernama Losari yang berada di Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Lalu bagaimana tanggapan Nahdlatul Ulama (NU) tentang Tarekat Shiddiqiyyah?

Mudir Wustho Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah (JATMAN) Jawa Timur Abdul Wahib Pujon mengatakan, di NU, organisasi yang membawahkan urusan tarekat ialah Jatman.

Di tingkat pusat, pimpinan tertinggi JATMAN ialah Habib Muhammad Luthfi bin Yahya dari Pekalongan, Jawa Tengah. Ada 40-an kelompok tarekat yang diakui di Jatman. Yang dimaksud ‘diakui’ di sini ialah mu’tabarah atau tidaknya sebuah tarekat.

“Mu’tabarah itu adalah tarekat yang sanadnya sampai kepada Rasulullah (Nabi Muhammad). Jadi, ada sanad, ada silsilahnya dari gurunya, dari gurunya, gurunya, dan gurunya, sampai bersambung kepada Rasulullah,” kata Wahib dalam keterangannya, Rabu (13/7).

“Yang mu’tabarah [di NU dan tergabung dalam Jatman] itu ada 40. Di antaranya Qadiriyah-Naqsabandiyah, ada Naqsabandiyah-Khalidiyah, ada Tijaniyah, ada Syadziliyah, ada Syatthariyah, sampai 40 [kelompok tarekat yang tergabung di Jatman]. Itu yang dihimpun dalam thariqah al-mu’tabarah al-nahdliyyah,” ujarnya.

Kebalikan dari itu, tarekat yang tidak mu’tabarah ialah aliran tarekat yang sanadnya tidak bersambung ke Rasulullah. Dalam tarekat, keterputusan sanad ini disebut dengan maqthu.

“Nah, bagi NU, sanad Tarekat Shiddiqiyyah terputus ke Rasulullah karenanya tidak masuk ke dalam Jatman. “Yang jelas Tarekat Shiddiqiyyah itu tidak masuk di dalam Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah (JATMAN),” katanya.

Ditanya secara rinci soal Tarekat Shiddiqiyyah, Wahib ogah menjelaskan dan mengaku tidak tahu persis. Dia hanya bercerita, pada satu waktu ada seseorang yang meminta pendapat kepada Habib Luthfi bin Yahya tentang Tarekat Shiddiqiyyah.

“Saya dulu pernah bertamu ke Habib Luthfi. Pada saat itu ada salah satu orang yang bertanya ke Habib, ‘Habib, Tarakat Shiddiqiyyah itu bagaimana?’,” cerita dia.

“Jawabnya Habib [Luthfi bin Yahya], ‘Tarekat Shiddiqiyyah itu tidak ada sanadnya.’ Jawabnya begitu. Tidak ada sanadnya, tidak ada silsilahnya. Memang Habib Luthfi tidak ada suuzan kepada yang lain, hanya menyampaikan seperti itu,” ujar Wahib. (Al)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here