Mushaf Braille Harus Dibagikan ke Lembaga Pendidikan Inklusi

34
Menag Yaqut Cholil Qoumas coba mempraktikkan cara membaca Al-Quran isyarat dipandu pegawai Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ), Sabtu (14/1/2023).

Jakarta, Muslim Obsession – Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenag Eny Retno Yaqut mengatakan, Mushaf Braille harus segera didistribusikan ke lembaga-lembaga pendidikan inklusi.

Hal itu dikemukakan Eny saat meninjau Pameran Kinerja dan Bazaar Murah UMKM bersama Menag Yaqut Cholil Qoumas, Sabtu (14/1/2023).

“Mushaf Al-Quran Braille ini produk yang luar biasa. Ini harus segera dibagi-bagikan ke sekolah-sekolah inklusi, Sekolah Luar Biasa (SLB), dan Yayasan-yayasan untuk tunanetra,” pesannya di hadapan petugas dan pengunjung stan pameran.

Kegiatan berlangsung dua hari, 13 – 14 Januari 2023, di halaman kantor pusat Kemenag, Jl. Lapangan Barat, Jakarta, ini menjadi rangkaian dari kemeriahan Hari Amal Bhakti (HAB) ke-77 Kementerian Agama.

Saat mengunjungi stan pameran produk-produk hasil kajian Balitbang dan Diklat, Menag dan istri melihat banyak produk yang dipamerkan, antara lain Mushaf Al-Quran Isyarat dan Mushaf Al-Quran Braille.

Pada kesempatan ini Menag sempat mencoba mempraktikkan cara membaca Al-Quran isyarat dipandu pegawai Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ). Al-Quran Isyarat ini diperuntukkan bagi Teman Tuli yang belajar membaca Al-Quran.

Sementara Eny Retno Yaqut melihat-lihat Mushaf Al-Quran Braille. Mushaf ini diperuntukkan bagi tunanetra dan telah ditetapkan Kemenag sebagai salah satu Mushaf Al-Quran Standar Indonesia.

Kepala Pusdiklat Teknis Keagamaan Mastuki mengatakan Mushaf Al-Quran Isyarat adalah salah satu bentuk kepedulian Kemenag kepada penyandang disabilitas.

“Saya memandang bahwa kehadiran Mushaf Al-Quran Isyarat ini adalah bentuk kepedulian Kementerian Agama kepada masyarakat berkebutuhan khusus,” ungkapnya saat berkunjung ke stan pameran Balitbang-Diklat, usai mengikuti Jalan Sehat Kerukunan dalam rangka peringatan HAB ke-77 Kemenag.

Mastuki melihat, akses penyandang disabilitas terhadap literasi Al-Quran masih terbatas. Maka, produk ini harus disosialisasikan secara berkelanjutan oleh berbagai pihak.

Secara sistematis, sosialisasi bisa juga dilakukan melalui pelatihan-pelatihan di Pusdiklat yang dikerjasamakan dengan pihak-pihak yang peduli dengan pendidikan masyarakat berkebutuhan khusus.

“Bila ini dapat dilakukan, maka Kementerian Agama, Badan Litbang dan Diklat, serta LPMQ akan memiliki kredit point yang besar,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here